Instagram: Ubermoon

Friday, August 5, 2011

Cu Chi Tunnels - Viet Nam

Perjalanan menuju Cu Chi Tunnels dikatakan akan menempuh waktu lebih kurang dua setengah jam. Saya yang sudah kelelahan ahirnya tdr di bis. Dan adalah susah tidur di bis dengan sabuk pengaman mengitari perut anda (doank). Kalau yang memalang di badan si enak, malah bs bergantung padanya, nah ini cuma di perut. Bergerak susah, ga bergerak duduknya ngga enak. Serba salah. Hehehe.

Sepanjang jalan kanan kirinya sawah. Saya terkikik membayangkan bule2 itu pasti sangat menikmati perjalanan ini, sedangkan saya, saya kembali ke masa saya pulang kampung ke Jogja menggunakan mobil bersama abang dan mamah saya. Persis sama suasananya. Hehehe.


Kami berhenti di sebuah bangunan tua di pinggir sawah. Pemandu wisata mempersilahkan kami turun. Katanya sih untuk peepee, tapi kami - Indonesian - sudah mampu membaca gelagatnya. Dia mempersilahkan kami peepee di sebuah bangunan yang menjual kerajinan kulit telur, mau cari komisi dari pembelian yang *siapa tahu* kami lakukan. Hehehe. Saya yang masih sangat mengantuk sama sekali tdk ingin beranjak dari kursi saya. Untung teman2 yang lain jg tdk. Maka kami tetap berada di bis sementara para bule memasuki bangunan itu. Bis parkir, kami pun keluar. Hanya ingin meluruskan kaki, bergoyang2, dan berfoto saja. Satu demi satu bule2 keluar dari bangunan itu dan perjalanan pun dilanjutkan. Ini sungguh sangat melelahkan. :(

Sudah hampir makan siang ketika kami tiba di Cu Chi Tunnels. Ketidakterorganisiran membuat kami harus membeli tiket sendiri2 dan menunggu lagi. Tak berapa lama, kami pun memasuki terowongan panjang untuk mencapai medan perang yang dipakai Viet Cong ketika mereka mati2an melawan gempuran Amerika. Here's a lil wow..

1. Viet Cong menggunakan medan perang itu untuk melawan gempuran tentara Amerika di malam hari. Siang harinya mereka kemana? Mereka kembali ke daerah pinggir utk berkumpul bersama keluarga.

2. Mereka menggali tunnels tiga tingkat dengan serokkan sampah. Yap. You read it right, serokkan sampah. Dan yap, tiga tingkat. Tingkat pertama masih berupa tunnel yang menghubungkan ruangan2 besar, turun lagi ada tunnel persembunyian, turun lagi, tunnel pelarian. Yang mana tunnel pelarian ini akan tersampung ke laut. Jadi mereka kalau kabur ke laut. Gmn caranya? Mereka memakai stik bambu yang dimasukkan ke mulut dan diarahkan ke atas utk bernapas. Saya jadi ingat saya pernah menonton salah satu film yang menunjukkan kejadian serupa, dan menurut saya itu menakutkan sekali lhoooo.. Hiiii..


3. Viet Cong mempersiapkan beberapa jebakan. Dan beberapa jebakan itu sungguh mengiris hati ketika dipertunjukkan. Dari mulai jungkat jungkit yang jika tentara AS terjeblos (iki bahasa opooo??) ke dalamnya akan langsung menancap ke deretan paku2 besi tajam setinggi lebih kurang 40cm, paku besi lainnya yang langsung menancap ke kepala, yang lainnya menancap ke badan. Aduuuuh. Ini bikin miris banget melihatnya. Hiiii...



4. Viet Cong memasukki tunnel melalui sebuah pintu kecil sekali. Yang hanya muat satu tubuh kecil saja. Untuk memertahankan tubuh yang kecil sehingga bs memasukkin tunnel, gerilyawan Viet Cong hanya makan olahan tepung tapioka. Duerrr!! *elus2perut, saya terlalu memanjakannya*


5. Viet Cong itu sunguh sangat pintar. Mereka membangun lubang ventilasi udara menyerupai rumah rayap sehingga tentara Amerika tdk tahu bahwa itu adlh lubang ventilasi yang tertuju ke sebuah labirin tunnel dahsyat di bawahnya.


6. Viet Cong memasak di salah satu ruangan besar di tingkat satu tunnel. Tapi mereka menyimpan asap dari masakannya dl ketika memasaknya di malam hari. Asap itu dilepaskan sedikit demi sedikit di jam dua atau tiga dini hari supaya menyerupai kabut. Aih pinternyaaaa..

Beberapa wow ini membuat saya sungguh membayangkan, apa rasanya kala itu ya? Bagaimana mereka bisa punya semangat hidup tinggi wong menyambung hari aja kok kayaknya susah bener. Dan bagaimana mereka bisa tega membangun perangkap dengan paku besi setajam itu? Apa ngga kasian ya saat itu paku makan korban? Saya langsung bersyukur bahwa saya tidak perlu mengalami perang separah itu dalam hidup saya. Kalau saya mengalaminya, mungkin saya memilih mati saja deh. Payah deh. Mundur sebelum berperang. Hehehe.

Di akhir wisata, kami memasuki labirin tunnel. Saya yang sdh tdk enak badan sesungguhnya malas, tapi diyakinkan oleh sorang bule bahwa itu akan mengasyikkan, akhirnya saya pun masuk. Untung tubuh saya masih terhitung kecil (ahey!!) jadi masih muat bergerak, tdk terlalu mepet. Tunnel gelap, lembab, dan beberapa bagian tanpa penerangan sama sekali. Berjalan harus terus merunduk, kdg2 kalau depannya macet (sama sebuah keluarga bule yang dengan niatnya foto2), saya memutuskan untuk jongkok saja. Yang lucu Mbak Eva. Di tengah jalan beliau bilang "Ah ak ga kuat ni, udah deh ak balik aja.." Lha kami yang mendengarnya bingung. Balik gimanaaaa? Wong nengok ke belakang aja susah, tunnelnya mepet puuun. Mana bisa puter baliiik?? Hihihi.


Dengan berkeringat dan kekurangan oksigen, kami akhirnya keluar dari tunnel. Huff. Dengan diiringi teriakkan kecil seorang anak bule "We're ALIVE!!!". Yes baby, we're alive!! Haleluya!! Hehehe..



Senyum dulu ah.. :)

2 comments:

  1. howaaaa mereka pinter banget ya, ga nyangka bisa bikin begituan dan bisa kepikiran strategi yang kaya gitu. salut banget deh buat mereka

    ReplyDelete
  2. Iyaaaa.. Ak jg termehek2 sendiri pas diceritain sistem tunnel yang mrk bangun mbak.. Hehehe..

    ReplyDelete