Instagram: Ubermoon

Showing posts with label ID: Aceh. Show all posts
Showing posts with label ID: Aceh. Show all posts

Tuesday, October 2, 2012

Terimakasih Teman!

Ini seri terakhir dari Nescafe Journey saya ke Aceh yaaaa.. Udah, abis ini ganti cerita. Hehehe.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Saya selalu ingin membuat satu post tersendiri tentang teman-teman perjalanan saya. Bentuk ucapan terimakasih saya karena mereka telah ingin berbagi cerita dan pengalaman bersama saya. Kali ini pun, saya ingin mengucapkan terimakasih pada beberapa orang yang sudah begitu baik menjaga dan berbagi nafas perjalanan ini dengan saya.

Mas Darto, the aspirer slash the bullied man, makasih ya sudah jadi team leader yang hip hip hura. Yang berani cepat mengambil keputusan demi kemaslahatan kesehatan masing-masing anggota. Yang menyerahkan diri (atau pasrah??)  mengikuti keinginan kami (iyaaaa, saya dan Iffaaaa) ngedance di pinggir pantai, joget-joget, luncat-luncat, dan bahkan menerima saya (yang tidak terlalu berat ini *uhuk*) saat saya loncat minta digendong. :))))



Si adik kecil nan lucu, Iffa. Makasih ya sudah jadi blueberry jam in the doughnut (ga usa tanya maksudnya, saya juga ga tau, cuma kedengerannya keren aja *kibasponi*). Teman perjalanan yang menyenangkan yang baterenya ga abis-abis (kecuali pas lagi laper dan atau pengen poop..hahahaha..). I will surely miss your begging voice right before our every sleep 'Bulan liat siniii.. Aku takuuut..' and your ndusel-nduseling me with your sleeping bag.  And your heitz check-on-my-whereabout question 'Bulan mau kemanaaa??' even when I was just walking a meter away to reach my backpack. Hahahaha. Thanks for our laugh, our shared memories, (and our future show together - Moon Allyfa Show!!). Ini aku publish foto kamu yang ada di ipod aku ya.. Kapan kamu foto pake ipodku deh ni? :))




Mas Onceeee, thanks for being a great Fixer tho we still have a hard time explaining the term 'Fixer' itself. Hahahaha. Thanks for the coffee, the hammock, and your willingness to find the medicine when I'm mabok mabok di jalan. Hehehe. Will always remember the way you say 'Bagaimanaaaaa???' :)))) 




And last but not least: Mas Tyo, the camera person. Thanks for not only being technical but also being a part of the adventure. Makasi uda bantuin nyapu musholla di Rikit Gaib ketika kita harus bermalam di sana. Makasi juga uda nemenin saya dan Iffa pipis malam-malam di toilet yang naudjubilah nakutinnya itu dan terus berbicara dari luar toilet biar kami tenang ada yang nungguin. Makasi uda mau duduk di 'hot seat' yang sudah pasti memabukkan ketika saya dan Iffa sama-sama menolak duduk di sana. Hahaha. Personally, terimakasih sudah lari bawain air mineral dan mijit-mijit tengkuk saya saat saya muntah-muntah mabok untuk yang kesekian kalinya. Hehe. Ohya, makasi uda jadi pendukung utama dan satu-satunya (yampun, cuma satu masa pendukungnyaaaa -______-) untuk Moon Allyfa Show!!



Puji Tuhan saya punya teman perjalanan yang sungguh luar biasa membahagiakan. Perjalanan ke Aceh, bentakkan di Masjid Baiturrahman, terperosok di Batu Gantung, tidur di musholla dengan se-su-a-tu di pohon di luar jendela, percobaan penyelaman, snorkeling, jump shot, beautiful sunset, sampai chicken dance pasti akan terus ada di kaset memori perjalanan saya. Suatu saat akan terputar otomatis, menimbulkan senyum geli ketika mengingatnya kembali. Ada kalian di dalamnya. Terimakasih. :)

A great partnership may bring an adventure even if it's just a trip.

Thanks for this magnificent 7days6nights dear Nescafe. Proud to be part of Sobat Journey. 


Senyum dulu ah.. :)




What I did not write..Ketukan itu..Hiiii...

Bulaaaan... Kenapa si kita ngga ajak Mas Darto sama yang lain tidur di sini?
Kenapa si kita sendirian?
Kita tidur di sana aja yuk..

Itu ucapan Iffa malam itu. Yang membuat saya  - sekali dalam perjalanan ini - agak membentak Iffa singkat "Iffa diam!! Tidur sekarang!!". Saat itu, Iffa tidak tahu apa yang sedang saya hadapi. Hiiii.. *njrit, merinding lagi mengingatnya doank..glek!!*

Tulisan ini tidak saya post ke Nescafe, tertutup oleh pengalaman lainnya dan memang saya resisted untuk menulis tentangnya. But I want to write it now!! To share with youuuu!! Ya kali masa ketakutan sendiriaaan??? :)))

Remember cerita mobil kami yang terperosok sampai akhirnya harus berbalik? Nah kejadian ini terjadi sebelumnya. Malam itu, dalam perjalanan kami ke Blangkajeren, jam sudah menunjukkan pukul 00.21, kami semua sudah kelelahan. Saya sudah muntah dua kali. Iffa sudah mau muntah tapi ngga bisa-bisa, Mas Tyo sudah mabok, Mas Darto dan Mas Once lah yang bertahan, itu pun bertahan dalam kepasrahan. Karena jalan seperti tak berujung gitu. :( Bau mobil sudah ga jelas. Sudah tambah bau minyak kayu putih plus ini itu. Ancur lah perasaan pokoknya.. *menatap nanar ke balik jendela*

Saya duduk di depan. Tidur. At some point, karena guncangan yang begitu keras, saya jadi kebangun. Nah, pas saya bangun, apa yang saya liat? *beloooom, ini belom bagian klimaksnyaaaah*. Saya liat tulisan "Selamat datang di Desa Rikit Bukit Gaib" JRENG!!! Bayangin scenenya ya. Itu lampu mobil kekuningan nyorot ke arah tulisan yang berwarna hitam dengan latar putih, kanan kiri semak-semak tinggi, posisi mobil agak miring belok kiri, dan jalan tanah berbatu dan berlumpur. HUANJIIIIRRRR itu mirip banget scene-scene pas film horror Indonesia menggambarkan si aktor/aktrisnya masuk ke suatu desa yang nakutin gitu. Huaaaaaa... *eh, wait, not that I watch those movies ya, tapi yaaaa you know lah, kan sering ada trailernya..* *ga membantu ya?* *ya yauda deh..begitulah maksudnya ya* *WEK*

Saya bangun sebentar, kaget sama scene depan saya dan tulisannya, tiba-tiba jantung saya berdegup makin kencang dan saya akhirnya memutuskan untuuuuuukkkk........lanjut tidur lagi aja. *antiklimaks* :)))

Nah sekitar 30menit kemudian, Mas Darto sudah mulai ga tahan tu. Akhirnya liat kiri kanan dan ada Polsek. Berhenti lah kami di sana. Berbicara dan ijin ini itu, akhirnya malam itu kami memutuskan untuk tidur di sana. Tempatnya ada dua. Ada di dalam Polseknya atau di musholla yang berjarak beberapa langkah di depan Polsek ini. Mas Darto bilang, yang laki-laki di dalam, yang perempuan di musholla. Saya sebenarnya agak bingung dengan pengaturan ini, karena kok perempuan yang di luaaaar??? Kan agak takuuuuttt.. Tapi saya coba positive thinking ya, polisi yang ada di dalam kan laki-laki semua, mungkin menurut Mas Darto ndak elok lah kalau perempuan di dalam, walaupun ga bareng sama bapak-bapak polisi itu, tapi bapak itu bisa melihat kami tidur. Okelah, diterimaaaaa.. Saya dan Iffa bawa ransel kami ke musholla dan saya nyapu mushollanya dulu.

Musholla ini kayaknya ga pernah dipake solat. Emang ada karpet solatnya tapi yasalam keadaannya kotor banget. Plus ada satu markas semut item di bawah tu karpet. Hiiii... Iffa udah mau ngambek aja, ga mau tidur di situ malam ini, but hey, ndak ada pilihan lain. Hihihihi. Saya pribadi perasaannya uda ga enak pas tau saya akan tidur di sana. Kanan dan kiri musholla ini ada jendela tak berkorden. Dan di luar jendela itu ada apa? YAK!! Ada pohon. Hihihi. Entah lah pohon apa itu. Saya yang uda ga enak feelingnya jadi menganjurkan kami untuk tidur di pojok yang menjauhi jendela ke arah pohon sebelah luar. Gelar matras, buka sleeping bag, uget-uget masuk, dan berusaha keras tidur tanpa melihat ke arah jendela. Iffa masih mengetik di BBnya, saya bilang "Fa, tiduuuurrr..", "Iya sebentar" katanya. Tiba-tiba terdengar suara super keras kayak ada yang jatoh ke atap musholla ini. Jeng jeeeeng!!! Saya yang jantungnya meloncat pura-pura tetap santai karena kalau saya panik, Iffa bisa ikutan panik sambil teriak-teriak kali. Hihihi. Padahal ni jantung uda kembang kempis kembang kempis cepet banget!! HIH!!

Saya menengok ke kanan (ke jendela itu), mengintip sedikit dari balik hoodie sleeping bag saya. Dan apa yang saya liat??? *nah ini mau mulai klimaksnya ni, prepare yourself!!* Saya melihat ada bayangan putih dengan bentuk rambut hitam di pohon itu. Udah itu aja?? EJANGANSEDIIIIIHHHH!!!!! *anjrit, merinding lagi ni aduuuuh*. Itu bayangan lagi ngapain?? Lagi ngetok-ngetok jendela musholla aja loooooh!!! OH EM JI what theeee??? Huaaaaaaaa.. Mamaaaaaaaaaaaah.. Huaaaaaaaaa... Saya langsung nutup hoodie saya lagi. Kebat-kebit jaga jantung dan jaga kaki biar ga luncat dan lari. Dan di saat itulah Iffa bilang hal yang pertama saya tulis tadi. Dan kemudian itulah saat pertama kali saya bentak Iffa nyuruh dia tidur. Bentakkan karena saya sendiri paniiiikkk.. Huaaaa.. Itu apa tadi ngetok-ngetok haaaa?? Hiiiii... Tuhaaaaan...

Iffa, abis saya bentak, langsung uget-uget di dalam sleeping bag-nya, ndusel-ndusel saya. Gapapaaa, saya butuh ndusel-nduselmu Iff, just to make sure yang di sebelah saya adalah.......benar berwujud. Huaaaaa....

Hiiii..

Ih udah ah..
Udah ya ceritanya..
Ntar makin takut..
Udah ah..
Dadah..


Senyum dulu ah.. Hihihi..

Friday, September 28, 2012

Pelukan Tiga Detik Dalam Perjalanan..

This post was made as a daily journal for Nescafe Indonesia.
Thank you for the journey Nescafe, proud to be part of Sobat Journey.. :)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Apa kalian tahu kalau kegiatan berpelukan adalah kegiatan yang menyembuhkan. Tidak serta merta yang sakit langsung sembuh tentu, tapi efek hangat dari berpelukan memberikan perasaan aman nyaman yang menyenangkan. I'm Bulan, I'm a hugaholic. ;*tangan ke atas, berputar, menunjuk -- Sailormoon!!* *oke maap, abaikan* :)))

Pagi ini kami berangkat santai setelah sebelumnya asyik ngobrol dengan bapak-bapak polisi di Polsek Rikit Gaib yang menerima kami malam sebelumnya untuk menginap. Yup, kami menginap di kantor polisi. Horor, tapi itu yang teraman. Mencari tumpangan menginap di rumah warga di Aceh agak lebih susah karena kami sekelompok ada perempuan ada lelaki, sehingga akan bingung sepertinya warga yang mau menerima kami kalau mereka sendiri tidak memiliki dua tempat kosong yang terpisah. Ehem, bukan muhrim, ehem. :D


Berangkat dengan semangat bahwa kami akan tiba di Meulaboh malam harinya. Jalanan yang kami lalui bukan jalan negara. Rusak dimana-mana. Bolong dan berkerikil. Ground mobil mentok kegasak berkali-kali. Dari yang awalnya kami kaget dan deg-degan, lama-lama jadi terbiasa mendengar gasakan itu. Doa saya cuma satu: Semoga as mobil bertahan, tidak patah. Jalan kecil ini bahkan sangat jarang dilalui warga. Terhitung dengan jari berapa banyak warga yang berpapasan dengan kami sepanjang perjalanan. Dan sinyal: MATI TOTAL. Sedap makjaaaannn!!!


Tidak hanya jalan rusak dengan lubang besar, kami juga harus melalui dua sungai dengan batu-batu tinggi di dalamnya. Setiap melewati jalan dengan lubang besar yang berpotensi membuat ground mobil kegasak kencang dan setiap akan melewati sungai, kami semua turun supaya beban mobil tidak semakin berat dan kami bisa memberi arahan kepada supir dari arah depan. Itu saja? Oh tentu tidak. Aceh masih menyimpan banyak cerita. Jalan bekas longsor menyisakan ruang yang hanya muat satu mobil dengan bagian kanan tebing dan bagian kiri jurang bekas longsoran. Lebih lagi? Adaaa. Jalan menanjak 50 derajat dengan kerikil kering yang tajam menghadang. Dan keadaan terakhir itu lah yang paling parah.


Mobil kami terperosok dalam di tanjakan berbatu yang pertama. Ban mobil bagian belakang sobek. Bau plat kopling terbakar langsung tercium. Hingga setengah jam kami coba membantu mobil keluar, tapi tidak berhasil. Lebih 30 menit, ada warga sekitar yang lewat dan dengan baiknya membantu kami. Mobil berhasil keluar, mundur, dan kemudian mengambil ancang-ancang untuk kemudian ngegas kenceng melewati tanjakkan itu - tanpa kami di dalamnya. Hahaha. Jadilah kami hiking tanjakan berbatu siang hari bolong. :)) *menggeh-menggeh, sampun sepuuuh*


Udah? Oh tentu belum. Selesai tanjakkan pertama, kami sempat istirahat. Ada seorang bapak yang lewat dan mengatakan ada satu lagi titik yang berat, yaitu titik yang bernama Batu Gantung. Kami disarankan cepat berangkat supaya tidak terlalu sore sampai di sana. Kami pun bersiap-siap. Kini, semua naik. Mobil mengambil ancang-ancang kemudian melesat. Semua batu dihantam. Kami teruncal-uncal di dalam. Cuma bisa pegangan dan berdoa. Dan tidak sampai 10menit kemudian, mobil terperosok lagi. Ayasalaaaam.. *tepokjidat*




Kali ini lebih parah. Mobil terperosok lebih dalam, ban semakin sobek, bau rem menyeruak, dan gongnya?? HUJAN!! Eh tapi belum semua. Makin gongnya: tidak ada sinyal sama sekali di area itu jadi kami sama sekali ga bisa cari bantuan. Cuma bisa nunggu warga yang kebetulan melintas. Itu juga untung-untungan secara jalur itu tidak banyak dilewati warga. Huhuhu. *meratapi nasib di Batu Gantung*

Setelah berkali-kali mencoba mengeluarkan mobil dan tidak ada hasil, kami akhirnya menyerah. Tidak bisa melanjutkan perjalanan. Mobil diarahkan untuk mundur menuruni tanjakan sampai kemudian ada tanah agak lapang dimana mobil bisa memutar balik. Dan dejavu. Seluruh jalan berlubang, kanan kiri semak, ground mobil kegasak, badan teruncal, dua sungai berbatu, semua terulang. Kali ini pasrah dan hanya bisa tersenyum saja ke satu sama lain. Untung tadi sebelum naik saya sempat minta pelukan dari Mas Darto dan Iffa. Pelukan tiga detik. Yang hangat dan meyakinkan diri, bahwa semua akan baik-baik saja dan kami pasti bisa melewati 'perjalanan' ini dengan lancar. Ihiy!! Semangaaat!!


Senyum dulu ah.. :)

Thursday, September 27, 2012

Takluk Sama Jalanan Aceh!!

This post was made as a daily journal for Nescafe Indonesia.
Thank you for the journey Nescafe, proud to be part of Sobat Journey. :)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Saya takluk!! Takluk sama Aceh..
Takluk jatuh cinta.
Dan takluk jatuh sakit.
Hahaha.

Pagi di hari kedua, kami sampai di Takengon. Mobil berhenti di sebuah kedai kopi di pinggir jalan. Kopi Luwak disajikan dari french press ke dalam gelas-gelas kecil. Mencium aromanya, hmmmm, segaaaarrr. Ibu dan Bapak pemilik kedai pun senang menemani kami mengobrol ramah.


Dari kedai kopi, kami langsung jalan menuju ke Danau Laut Tawar. Dan saya takluk. Jatuh cinta. Di tengah hiruk pikuk, Danau Laut Tawar mempesona dengan keheningannya. Bayangkan danau yang luas, hening, dengan pegunungan hijau di belakangnya, dan udara dingin segar yang menyergap. Ah, bahkan kata-kata tidak mampu menggambarkannya dengan tepat. Saya jatuh cinta dengan Takengon.

Danau Laut Tawar - Takengon



Dari Takengon, kami mulai perjalanan menuju Blangkejeren. Dan di sini lah awal mula penaklukkan saya yang kedua. Jalan berkelok tajam hampir di setiap 10 meter. Jika tidak berkelok tajam, pasti tetap ada kelokan. Berkali-kali driver mengerem mendadak karena kelok yang dikira 90 derajat ternyata lebih tajam, saya sampai bengong melihat kelokannya. Hampir 30 derajat!! Baru jalan kira-kira satu jam, saya merasa punuk saya memanas, tangan saya mendingin, dan lemas. Saya meminta driver meminggirkan mobil dan berlari untuk kemudian mengeluarkan seluruh makan siang saya. Saya takluk. Jatuh sakit. Ahuhuhu.. *peluk pohon waru*

Di pemberhentian pertama, kami justru akhirnya berhenti lama untuk ngopi-ngopi di pinggir jalan dengan tampilan pegunungan di satu sisi dan biasan sinar matahari yang jatuh di deretan pohon pinus di sisi lainnya. Indah! Saya seperti melihat gambaran kartu pos pegunungan di Switzerland. Tapi, ini Aceh sodara-sodara!! ACEH!! Indonesia!!






Perjalanan Takengon-Linge-Rikit membuahkan dua kali pemberhentian untuk saya menguras isi perut. Luar biasa!! Sampai mual mencium bau mobil dan mual juga melihat makanan. Out of many journeys that I have ever done, this is surely one I will call 'Real Journey'!!

Tapi perjalanan masih akan panjang. Dan kami harus terus berjalan. *masuk mobil dengan gontai* 



Ihiy!! :))) Semangaaat!!!


Senyum dulu ah.. :)

Dibentak di Aceh!!

This post was made as a daily journal for Nescafe Indonesia. 
Thank you fro the journey Nescafe, proud to be part of Sobat Journey. :)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Setelah delay pesawat, transit di Medan, dan perjalanan tak mulus, akhirnya saya tiba di Aceh. Daerah Istimewa Aceh. Yay!! *jogetjogetbahagia*


Bagi saya, Aceh menyimpan keluguan, keanggunan, dan misteri yang luar biasa. Seperti tak terbuka. Tak ada cerita. Menyimpan rapat keindahan untuk dirinya sendiri. Maka ketika saya akhirnya menjadi pemenang #NescafeJourney dan berhak untuk jalan-jalan bersama aspirer saya, Imam Darto, kebahagiaan menyeruak karena saya akhirnya akan menginjakkan kaki di daerah istimewa ini.


Satu hal yang saya kenal dari Aceh, Aceh punya polisi syariah. Menjadi provinsi dengan sebutan 'Serambi Mekah', Aceh ternyata ketat dan lugas dalam menjalankan apa yang ia anggap layak dan benar. Saya sudah bersiap? Oh sudah pasti!! Sampai niat beli kaos lengan panjang!! *walaupun kemungkinan besar, sekembalinya dari Aceh lengannya akan saya potong lagi - heeey, Jakarta panaaas.. :p*




Hari ini, hari pertama saya di Aceh pun saya sudah mempersiapkan pakaian saya dengan baik. Celana panjang (dadah shorts and skimpy), kaos (masih pakai lengan pendek dulu), cardigan (jadi lengannya panjang kan?), dan pashmina sebagai kerudungnya. Saya siap tempur!! Siap mengitari Acccc.... "HEY!!!"

*melongo*


Barusan ada yang bentak saya dan Iffa yang lagi jalan mengitari Masjid Raya Baiturrahman.


"HEY!!" - bentakkan yang sama. Saya dan Iffa berbalik badan. Menghadapi seorang satpam dengan alis nyureng judes.


"Jkrtdjcywosprenfh", satpam itu berbicara dengan cepat, tanpa gerakan mendekati kami. Logat Acehnya kental, saya dan Iffa sama-sama tidak menangkap apapun perkataanya.


"Apa Pak?", saya mendekat.


"Jddiwpybeufnbs", oke, masih ga nangkep nih!!


"Apa Pak?", saya dan Iffa makin mendekat.


Satpam itu masih berbicara sambil menunjuk-nunjuk ke arah saya dan Iffa.


"Ga boleh motret Pak?", tanya saya. Beberapa tempat ibadah memang tidak boleh dipotret, tapi saya orang yang cukup aware dengan peraturan itu - jika ada, tapi tadi saya tidak melihat tanda dilarang memotret.


"TIDAK BOLEH PAKAI CELANA INI MASUK MESJID!!! SAYA SUDAH LIHAT DARITADI, SAYA PIKIR MAU KELUAR, TERNYATA MALAH MEMUTAR!! TIDAK BOLEH!! KELUAR!!"


Saya dan Iffa bengong. Kalau kata anak Twitter, kami sedang dalam masa 'siyok!!'. Kami bertatapan sebentar, kemudian satpam itu membentak lagi, "KELUAR!!". Ayasalaaaam, ini beneran!! Ini bukan sinetron!! Ini beneran terjadi!! Kami diusir dari komplek masjid ini!! *JRENG!! Zoom in zoom out zoom in zoom out*


Saya dan Iffa langsung berbalik, keluar dari area masjid lalu mengambil jalan memutar ke pintu masuk lagi. Iffa shock berat. Saya masih bengong. Hahaha. Jadi beneran kami diusir dari masjid ni? Yampuuuun, apa kata anak cucu kami nanti???


Di pintu masuk, kami bertemu dua anak muda (perempuan) Aceh yang pakai celana lebih ketat dan lebih pendek dari saya dan Iffa. Kami bertanya apa ga boleh masuk masjid? Mereka jawab, "Boleh..". Laaaah, bagaimana iniiii??? *goyang2bahupaksatpam*


What can I get from this experience? Ternyata, informasi (yang memang juga hanya sedikit) yang saya dapat dari internet tentang bagaimana harus berpakaian di Aceh tidak selamanya dapat dipercaya. Berpakaian di Aceh tidak hanya harus tertutup atas bawah, tapi lebih dari itu, tidak ketat, tidak membentuk tubuh, (dan mungkin tidak-tidak lainnya). Paling aman apa? Paling aman rok panjang dengan atasan gombrong plus kerudung. Okesip!! Mari balik Jakarta, ganti bawa dress-dress panjang ajah!! :))))




Terimakasih untuk bentakkan di hari pertamanya ya Aceh. Walaupun dibentak-bentak lagi (oh tapi semoga tidak!!), saya tetap ga sabar menikmati setiap jengkal keindahan yang kau tawarkan!! Ihiy!! Semangaaaat!!!

PS: Saya masih suka ngikik kalau inget Mas Once niruin Iffa yang mimbik-mimbik shock, berdiri di samping pintu masuk sambil make mukenanya. Dan lebih lucu lagi karena Iffa insist ga mau buka mukenanya even saat dia uda selesai solat, karena trauma dibentak tadi.. :( Kasian Iffa.. *pelukkenceng* Saya gimana? Ya kaget aja, tapi trus yaudah, melenggang aja lagi. Hihihi. *peace*

Senyum dulu ah.. :)