Instagram: Ubermoon

Showing posts with label ID: Jakarta. Show all posts
Showing posts with label ID: Jakarta. Show all posts

Tuesday, September 16, 2014

Ke Museum Tanpa Takut - Museum Di Tengah Kebun

Saya sedang dalam misi. Misi mencari program Weekenders yang menyenangkan, tidak terlalu mahal, tidak jauh dari Jakarta, dan pastinya tidak perlu menghabiskan banyak hari. Maklum, sejak jadi pekerja kantoran, saya tidak lagi bisa bebas jalan-jalan kapan pun saya mau karena terikat jumlah cuti tahunan. Hihihi.

Salah satu tempat yang baru saya ketahui saat menjalankan misi ini adalah Museum Di Tengah Kebun. Museum ini berlokasi di Jakarta, tepatnya di Kemang Timur No 66. Menemukannya agak susah karena tidak ada tanda besar. Hanya ada tulisan kecil yang menyatu dengan pagar samping. Saya sendiri memutari Kemang Timur ini tiga kali karena selalu terlewat. Hahaha. Mudahnya, temukan Reading Room, nah museum ini lebih kurang ada di seberangnya. Untuk parkir, memang agak susah karena sesungguhnya museum ini adalah rumah pribadi yang masih dihuni. Pengalaman kemarin, saya parkir Opie di Reading Room karena sempat menunggu sambil makan di sana. Kemudian ijin sama mbak kasir Reading Room sambil meninggalkan kunci kalau-kalau Opie menghalangi mobil lain yang mau ke luar. Aman hingga akhir kunjungan. :)



Pintu kayu tinggi menyapa kita saat hendak memasuki area museum. Di balik pintu itu, jalan cantik sepanjang 60 meter dengan tanaman rambat di kanan kirinya seperti mengukuhkan dunia lain. Lucu rasanya membayangkan betapa sibuknya Jalan Kemang Timur dan betapa tenangnya area dalam rumah ini. Seperti ada batas yang tinggi yang mampu menghalau suara bising dari luar supaya tidak masuk ke dalam.

Pak Mirza Djalil, seorang lelaki dengan kepala licin dan telinga bertindik menyapa dan meminta kami mengisi buku tamu. Untuk datang ke museum ini memang harus reservasi dulu. Museum hanya dibuka hari Rabu, Kamis, Sabtu, dan Minggu dengan dua jadwal kunjungan per harinya yaitu 09.45 - 12.00 dan 12.30 - 14.30. Satu grup minimal berisi 7 orang dan maksimal 10 orang. Karena itulah banyak pengunjung yang datang ke museum ini memang baru kenal satu sama lain saat bertemu di museum. Terima kasih untuk Twitter dan media sosial lainnya, biasanya pencarian teman berkunjung ke Museum Di Tengah Kebun ini dilakukan via media sosial. :D Saat saya ke sana, kami bertujuh: saya, Kakatete, Kamikih, dan Kalejid sudah saling kenal. Saya diajak Widi yang datang bersama satu temannya Oliph. Dan Widi kenal dengan Novi yang juga datang dengan satu orang temannya Sandya. Berdelapan deh kami. Hihihi.



Saat pintu depan dibuka dan tur dimulai, saya tidak lagi terperangah dengan masing-masing koleksi museum melainkan keadaan keseluruhan rumah yang adem, tenang, nyaman, dan tidak menakutkan. Jujur saya katakan, saya suka malas memasuki museum di Indonesia karena kebanyakan museum menguarkan aroma mistis dan menakutkan. Tapi Museum Di Tengah Kebun ini berbeda. Ada rasa aman dan nyaman. Mungkin karena rumah ini memang dihuni dan lebih seperti rumah galeri dibanding museum.

Koleksinya sendiri banyak berupa patung. Keberadaannya acak di seluruh sisi rumah. Ada juga furniture dan lukisan. Pak Sjahrial Djalil, pemilik rumah, mengumpulkan keseluruhan koleksi museum sendiri. Beliau juga masih tinggal di rumah ini. Saat saya ke sana, Bapak lagi istirahat, tapi sempat bertemu saat tur sudah mau berakhir. Bapak duduk di kursi rodanya, melihat kami dari kejauhan. :')





Dari keseluruhan area rumah, saya paling suka kebunnya. Kebun ini sangat luas! Dari 4200 meter persegi, 3500 meter perseginya adalah kebun. Jadi bangunan rumahnya hanya 700 meter persegi. Karena itulah namanya Museum Di Tengah Kebun. :D Dan kebun ini pun tidak luput dari koleksi seni. Ada satu pendopo untuk bersantai di tengah kebun yang memuat banyak koleksi mulai dari patung hingga lampu dan kursi antik; ada arca Ganesha besar di tengah kebun dan juga ada bangunan kecil lainnya yang dipenuhi cermin dan lampu gantung bernilai tinggi.

Tidak hanya koleksi barangnya yang bernilai sejarah tinggi, uniknya, bahan bangunan yang dipakai di museum ini pun memiliki nilai sejarah. Batu batanya dari bekas gedung tinggalan VOC, pintunya dari bekas pintu penjara wanita. Tapi semua bersatu dengan apik dan manis, tidak terlihat saling mengungguli. Arsiteknya hebat. :D




Saya nggak akan menceritakan tentang koleksinya karena banyak sekali dan masing-masing ada ceritanya. Saya gantungkan saja biar kalian yang membaca juga jadi ingin berkunjung. :D

Menghabiskan akhir pekan dengan mengunjungi museum? Totally not a bad idea!
Semoga banyak museum lainnya di Indonesia bisa berbenah dan memberikan kenyamanan bagi pengunjung seperti Museum Di Tengah Kebun ini. Dan semoga semua museum dijauhkan dari aura-aura mistis yang mengganggu. Hihihi.

Senyum dulu ah.. :)

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Berita Terkini: Museum Di Tengah Kebun sedang tutup untuk publik. Belum ada kabar kapan akan dibuka lagi. Semoga tidak lama ya. :)

Wednesday, May 29, 2013

Masa lalu manis di Cikini..

Jakarta punya kota tua, tapi mau merasakan nikmatnya kota tua tanpa harus ke kota tua? *nah bingung kan?!* Ya pokoknya, ke Cikini aja! -____-"

Di Cikini memang tidak banyak bangunan peninggalan jaman purbakala kolonial yang bagus jadi latar foto, tapi kalau kalian jalan-jalan di Cikini, rasakan auranya, aura jadulnya tuh dapet lho! Kalian pakai aja dress ala noni-noni Belanda, topi lebar, dan sarung tangan brokat. Niscaya. Niscaya dikatain titisan atau orang gila. Hahaha. PLAK!

Beberapa kali, Cikini masuk jadi obrolan di grup Nescafe Journey, obrolannya tentang sejarah Jakarta? Oh ya engga lah, anak NesJour mah mana ada yang suka ngomongin sejarah (well, kecuali Rey yang kemudian pasti dicuekin juga sama yang lain..*peace*), kami ngomongin Cikini tentu saja dilihat dari........kulinernya! Hahahaha. *gojeng2perut* Memang ada beberapa makanan enak di Cikini, tapi biar lebih elaborate (oh I love that word!!) isi post saya kali ini, jadi mari dibahas beberapa tempat (termasuk tempat makan) di Cikini yang jelangjrett kucru kucru.. :)


1. PLANETARIUM
     Huruf kapital semua tuh, ga santai saya! Hahaha. Beberapa yang kenal saya luar dalam depan belakang mungkin sudah tahu kalau saya terkhilakhila sama tempat ini. The most romantic place in Jakarta where we can see stars and constellations shining brightly on pitch dark sky! Yeah, walaupun palsu, tapi saya sih beli-beli aja. :)))



2. Metropole XXI
     Dulunya namanya Megaria. Ini adalah gedung tua yang kemudian direstorasi jadi bioskop. Ga tanggung-tanggung, ada enam teater di Metropole ini. Empat di gedung utama dan dua di paviliunnya. Suka banget nonton di sini. Kualitasnya pertunjukkannya bagus (suara dari teater sebelah ga masuk gitu ya ga kayak Blitz Megaplex CP - HIH!), parkirnya luas (makin luas karena sekarang ada parkir tambahan di samping gedung sebelah), harganya masuk akal banget (Senin-Kamis 30rb, Jumat 35rb, Sabtu-Minggu/Libur 40rb), dan baik bapak satpam, bapak parkir, dan penjual-penjual di sini semuanya ramah. :)


Di Metropole ini juga ada resto yang jual beberapa makanan terkenal antara lain Pempek Megaria dan Ayam Bakar Megaria. Pempeknya lembut dan empuk-empuk yuppie. Harganya juga asoy murahnya. Pempek kecil tiga ribuan lah. :)


Ayam bakarnya, waktu saya masih SMA itu rasanya enyak banget. Nah beberapa bulan lalu saya coba makan lagi di sini tapi kok....rasanya beda. Ndak seenak dulu. Huhuhu. Kembalikan ayam bakar Megariaku!! Kembalikan!!

3. Menteng Huis
     Ini agak ngemol dikit sih, tapi dikit doank. Menteng Huis adalah mall kecil di pojokan jalan. Entah kok namanya Menteng ya bukan Cikini. Apakah karena bangunan ini masuk daerah Menteng dan bukan Cikini? Ketik 1 jika YA, ketika 2 jika TIDAK. Di dalam Menteng Huis ini ada beberapa cafe dan resto (ada Hema aja donk) dan kalau ke sini, tidak lain tidak bukan, saya langsung menuju lantai atas - D'Cost! Buahahaha. Tetep balikbaliknya ke D'Cost. :)))



4. Vietopia dan blablabla
     Kenapa saya bilang blablabla, karena di deretan Vietopia ini ada resto lainnya tapi saya nggak hapal apa saja. Yang sering saya sambangi hanya Vietopia ini. Hehehe. Adanya di seberang kanan Menteng Huis, ngesot juga nyampe. Ini bangunannya tua, lantai bawah dijadikan restoran (dan blablabla) dan lantai atas entah untuk apa (GLEK!). Di deretan Vietopia ini juga ada studio tatonya Durga. Hehehe. Hai Durgaaaa.. :D


5. Ampera
     Adanya di pojokan. Hmmm, gimana menjelaskannya ya. Tepatnya di seberang sekolah Percik (Perguruan Cikini). Kalau kalian lihat ada banyak mobil parkir, nah itu lah dia Ampera ini. Hehehe. Tanya aja sama orang di sekitar situ, pasti pada tahu, kalau nggak tahu, gampar-gamparin aja! Ada di Cikini kok ga tau Ampera, HIH!! Ini adalah Ampera versi wartegan, bukan kayak Ampera resto. Lebih kayak tempat makan masakan Padang gitu sih. Tapi makanannya enak-enak dan harganya juga ga bikin kantong kaget. Cuss lah.

6. Stasiun Cikini
     Bukan bukan, fokus bukan di keretanya tapi apa yang ada di bawah Statsiun Cikini ini. Ada banyak sekali toko-toko yang menjual barang-barang rotan dan boks-boks untuk bawaan mahar. Jadi yang mau nikah (atau yang mau nikahin saya...uhuk!) cuss atuh cari boks bawaan mahar ke sini. Saya maunya boks yang reusable ya. Jadi jangan beliin yang lucu tapi ga bisa dipakai lagi. Oh, saya suka yang bahannya kulit atau malah sekalian yang pakai kertas kado warna warni gitu. Pesan aja, bisa custom kok. *hloh ini apa sih?!*


Di stasiun Cikini juga jangan lupa makan Siomay Cikini. Ada di dekat tangga tengah. Tempatnya di pojokan. Seporsi tujuh ribu saja. Siomaynya empuk nan kece, nambah bumbu gratis (hlah). Ahihihi.



7. Pasar Cikini
     Ini tempat untuk yang mau cari emas. Banyak sekali toko emas di sini. Dari emas perhiasan sampai emas batangan, ada di sini. Tempatnya tepat di seberang Statsiun Cikini. Koprol lima kali nyampe! Kalau males koprol, boleh minta gendong sama mamang parkir. Eh, saya baru sadar, pas banget ya, abis beli boks mahar di Stasiun Cikini, langsung beli mahar sekalian di Pasar Cikini seberangnya! Ih pas banget! Dipermudah sekali kan sama Cikini kalau mau nikah tuh! Ihihiw. :p


Nah, kayaknya segitu dulu cerita saya tentang Cikini. Ntar kalau ada yang saya ingat lagi, saya tambahin di sini ya. Garisbawahi, bold, italic 'kalau ingat'. Ahihihi. Yang mau nikahin saya, tunggu apa lagi?? Apa lagi?? *tarik kerah Mas Ryan Gosling* (eh, bayangin ga kalau Ryan Gosling ke Cikini? Kiyut ya.. Hihihi)

Senyum dulu ah.. :)

Sunday, February 20, 2011

Dufan.. Do FUN?!

Kemarin saya ke Dufan. Setelah sekian lama tak menyentuhnya. Padahal skrg deket dari rumah si Dufan itu. Hihi. Acara ke Dufan ini terhitung acara "loncat-langsung-jalan", saya, Imel, dan Manov (temannya Imel yang kenalan via Twitter) janjian *lewat Twitter juga* dan akhirnya memutuskan untuk menggolkan rencana ini. Padahal, saya dan Imel sudah berteman cukup lama dan susah sekali mencari waktu bertemu dengan perempuan sebok ini, lha kok ini rencana cengengesan malah jadi. Hehehe.

Saya dan Imel sudah bertemu sekitar pukul setengah sebelas. Manov akan telat karena harus membujuk mamanya yang berdrama sedih dulu di rumah. Hihihi. Jadi saya dan Imel masuk duluan.

Eh Dufan sekarang sudah pake kartu lhoooo. Hihihi. Terakhir saya ke Dufan, Dufan masih menerapkan karcis cetak. Sekarang pake kartu, seperti kartu masuk Transjakarta itu. Kartu tinggal dimasukkan ke mesin lalu kami dicap lalu masuk deh. Harganya, kalau hari biasa 120rb, kalau Sabtu-Minggu 150rb. :)

pic taken from www.medyana.blogspot.com
 Setelah masuk, kami disambut beberapa badut karakter Dufan. Saya memilih berfoto bersama Kabul, si Kodok Gembul. Dan Imel memilih berfoto bersama si Garin - Garuda Indonesia. Sayangnya, karena saya agak dodol memakai kamera saku yang dibawa, ternyata pengaturannya salah. Yang diproduksi saat itu video, dan bukan foto. Hihi. Pantes ga bs diliat. *getokpalabulan* Tapi saat di dalam, kami menemukan satu lagi karakter Dufan yang membuat kami tertawa. Karakternya Dufan perempuan, namanya Dufi. Orang di balik kostum Dufi ini sangat menghayati perannya. Dufi digambarkan sebagai karakter yang centil. Dan ia berhasil memainkannya dengan baik. Gaya jalannya mencong2 centil, gayanya ketika difoto pun centil2 ceria, dan jika berfoto dengan laki-laki, ia akan memegang erat tangan laki2 itu dengan centilnya. Hihihi.

saya dan Dufi..Si centil yang lucu..
Lihat tangannya Dufi ..Hihihi..
Ketika masuk, kami mulai bermain bumper car. Saya sudah wanti2 ke Imel bahwa saya adalah pemain yang suka cari aman. Maka saya jarang mau menabrakkan mobil saya. Saya akan memilih jalan yang lurus, yang Engkau ridhoi. Hihihi. Bukan-bukan, maksudnya, saya akan memilih jalan yang kosong yang minim tabrakan. Imel berkata "Ah Bubuy ga asik.." Hihihi. Saya cengengesan aja. Tibalah waktunya kami masuk dan menaiki mobil kami. Ngeeeeng...Ngeeeeng..IMEEEELLLLL..BRAK!! Saya menabrakkan mobil saya ke mobil Imel. Loh kok rasanya enak ya. Saat tabrakan terjadi, seperti ada yang lepas dr kepala saya, DASSSS, lega dan sehabis itu tertawa-tawa. Waduh, ini menyenangkan ternyata. BRAK!! BRAK!! BRAK!! BRAK!! Saya sibuk menabrakkan mobil saya ke mobil2 pemain lain. Setelah itu cengengesan lebar. Hahaha.

Selesai main bumper car, kami beranjak menonton 3D The Journey to The Center of The Earth. Ini kali pertama saya masuk wahana ini. Lucu juga, walaupun pendek sekali durasinya, seharusnya lebih lamaaaaa. (smua org jg ngarep gitu kali..kasian yang ngantri di luar..hihihi).

Sehabis nonton 3D, kami naik Halilintar. Masih santai. Saya ingat wahana ini pernah berkali-kali saya naikki saat saya ke Dufan bersama teman2 kuliah. Selesai naik, antri lagi, naik..Selesai, antri lagi, naik lagi..Selesai, antri lagi, naik lagi. Hahaha. Tapi kali ini engga lah. Cukup satu kali saja. Dan walaupun saya sempat membuka mata saya beberapa kali, most of the time saya tutup mata. Hahaha. Imel menantang saya untuk mengangkat tangan. Saya sih mau-mau aja kalau naik Alap2 (rollercoaster yang utk anak2), saya berani deh angkat tangan. Hihihi.

Halilintar selesai, kami berjalan gontai sambil menunggu Manov. Melihat ke kanan, akhirnya kami naik Ombang-Ombang. Wahana seperti ombak banyu yang ada di pasar malam (yayaya, level saya memang bukan Dufan. level saya Pasar Malam..Hihihi). Oh well, back to wahana, wahana ini sebenernya biasa saja. Hanya, durasinya lamaaaaa sekali. Hahaha. Menahan badan karena miring kanan lalu diombang-ambing naik turun maju dan mundur is definitely not a good idea. Di wahana saya masih tertawa-tawa sama Imel, sementara lelaki di belakang mengaku ke pacarnya bahwa ia pusing dan ingin muntah. (???) Tapi selesai dari wahana ini, jalan saya limbung dan perut bergejolak. Akhirnya kami duduk dulu sebentar menunggu Manov yang sudah sampai, lalu makan dulu.

Setelah makan, kami berbalik menuju Halilintar (lagi), kali ini Manov dan Imel saja yang naik. Saya memilih untuk menunggu di bawah saja. Membetulkan perasaan perut yang bergejolak. Imel dan Manov selesai, kami berjalan lagi. Kali ini, Kora-Kora. Manov dan Imel pasti mau duduk di barisan paling belakang. Saya sih maunya di tengah (biar ga terlalu terasa..hahaha), tapi apa daya, dua lawan satu. Kikiki. Saat tiba giliran kami,  deretan kursi belakang sudah terisi (YES!!!) jadi kami duduk kedua dr belakang. Dan 80% waktu, saya menutup mata dan memeluk lengan Manov. Hahaha. Kora-kora kami diayun tinggi sehingga saat di atas dan mau dilepas ke bawah, saya merasakan bokong saya mengangkat dan saya setengah berdiri. Huaaaaa. Takuuuuut. Yayaya, saya memang penakut untuk urusan mesin yang dibuat dan dikendalikan manusia. Hadeeh.

oh, i wore my batik shoendals btw.. :)
Kora-Kora selesai, saya membujuk mereka untuk keeeee Istana Boneka. Kekeke. Untung mereka mau. Masuklah kami ke Istana Boneka. Hehehe. Bersantai. Melihat keadaan boneka-boneka yang sepertinya tak pernah diganti kostumnya. Juga beberapa boneka yang dicoret-coret pengunjung yang merasa naik ke atas panggung adalah hal yang keren (padahal kampung).

Selesai dari Istana Boneka, hari sudah sore. Kami makan dulu (lagi). Makan sambil utak-atik ponsel androidnya Manov. Whaaaa, saya pengeeeen. Mau beli ah. Hahaha. Saya tdk bisa ikut sampai malam karena harus ke apartemen. Jadi kami lekas menuju wahana Arung Jeram. Menunggu sambil haha hihi cekikikan, Arung Jeram adalah wahana yang paling saya sukai. Hehehe. Air yang menghabisi pakaian dan tas saya malah bikin saya segar. Selesai berganti baju, saya menuju ke luar sementara Manov dan Imel melanjutkan petualangan menuju Niagara.

ahirnya foto bertiga..Imel Manov Saya
Sampai di dekat Turangga (carousel), ternyata saya belum dijemput, jadi lah saya membeli popcorn dl dan duduk menikmati Dufan di kala petang. Tak lama, ada band yang bermain, memainkan lagu The Beatles. Sedaaaap!!


sorry for the poor quality pic..*salahin BB!!
Setelah dijemput dan masuk mobil, baru terasa lelahnya badan saya. Dufan kemarin panaaaas sekali. Di antrian pun, pengelola tak menyediakan kanopi sehingga kami mengantri dalam terik yang menyengat. Saking panas teriknya, benar kesimpulan yang diambil Imel, bahwa kami minum banyak sekali air dan sama sekali tidak pipis. Karena semua sudah keluar lewat keringat. Grrrr. Badan pun rasanya lelaaaah sekali. Mata saya sudah sangat mengantuk. Sepanjang acara makan malam keluarga, saya mati2an menahan beratnya mata dan kepala saya. Hih.

TERIK!!
Selesai dr apartemen, pulang, tidur lelap dan terbangun (tetap pagi). Sekarang sudah lebih terbuka matanya. Hehehe. Overall, Dufan was okay. Meeting my friends Imel and Manov are great. Nyom nyom!!



Senyum dulu ah.. :)