Instagram: Ubermoon

Showing posts with label Weekenders. Show all posts
Showing posts with label Weekenders. Show all posts

Friday, October 24, 2014

#TourDeTangerang: Setengah Hari Tambah Kaya


Jengjeeeeng!!
Waktu saya dapat undangan pernikahan mantan dengan pacar barunya yang baru dipacari dua hari makan pagi bareng Mbak Vivi, Mbak Ketty, dan Mbak Deedee di sebuah hotel di Alam Sutera, saya kira kami hanya akan makan pagi saja. Tapi apa daya, kalau empat perempuan berisik jarang bertemu dan obrolan tidak selesai-selesai, maka tidak ada cara lain selain melanjutkan haha-hihi kami dengan jalan-jalan! *iya, soalnya jam makan pagi di hotel sudah habis juga sih..hiks..hihihi*
Dengan menumpang mobil Mbak Ketty, kami pun ....... wefie dulu. Bihihik!

Ki-Ka: Mbak Ketty, Mbak Deedee, Ibusuri Mbak Vivi, dan saya
Saat ditanya mau ke mana, Mbak Vi akhirnya punya ide untuk ke Boen Tek Bio. Saya yang buta Tangerang sih iya-iya saja ikut. Hihihi. Anaknya gampangan banget! :p

Boen Tek Bio adalah sebuah kelenteng tua yang masih aktif dipergunakan hingga saat ini. Nama kelenteng ini berarti 'tempat ibadah sastra kebajikan'. Posisinya ada di dekat Pasar Lama, Tangerang. Saya nggak tahu pasti jalan menuju ke sananya (kan buta, sungguh. Tangerang dalam peta saya cuma Cipadu saja. Hihihi), tapi yang pasti, harus menyusur pinggir Sungai Cisadane dulu kemudian nanti ada jalan masuk ke kanan (Jl Bakti, namanya) yang di ujungnya terdapat kelenteng ini. Mengingat kelenteng ini cukup terkenal, kalau nanya orang di sekitar Sungai Cisadane pasti banyak yang tahu dan bisa memberikan panduan arah lah. Saya sih nggak bisa. Hehehe. *salim*

Mengingat acara jalan-jalan ini dadakan, sesungguhnya pakaian kami sedang salah banget siang itu. Saya pakai baju atasan longgar tanpa lengan, Mbak Vi pakai atasan tanpa lengan dan rok mini (plus sepatu wedges 10cm), Mbak Ketty malah pakai atasan lengan panjang berbahan sifon. Hahaha. Cuma Mbak Deedee yang agak normal; itupun saya yakin karena dia pakai hijab. Coba kalau enggak, pasti dia paling ancur pakaiannya. Hahaha. *tengok kanan kiri, moga-moga orangnya nggak baca*

Saat kami sampai di Boen Tek Bio, suasana cukup ramai. Saya melihat sekeliling, banyak umat beribadah tapi ramainya Boen Tek Bio berbeda. Tidak hanya umat beribadah yang meramaikan tapi juga warga yang berkumpul untuk sekedar mengobrol, main kartu, atau bertemu teman. Kelenteng ini kayak sarana berkumpul warga Tionghoa dan senangnya, mereka cukup terbuka terhadap pengunjung. Setelah mendapat ijin masuk dan diberitahu bagian-bagian mana yang tidak boleh difoto, kami pun berkeliling.

Di bagian kanan kiri kelenteng ada gerbang bulat. Yang kiri adalah Pintu Kesusilaan, yang kanan Jalan Kebenaran. Karena saya tahu diri, maka saya mengajak yang lain untuk nggak masuk dari Pintu Kesusilaan. Hihihi. Dua gerbang bulat ini tersambung lorong di kanan kiri dan belakang altar utama.

Pintu Kesusilaan. Hanya yang punya susila yang bisa lewat sini! :p

Lorong belakang altar utama..

Ramai ya warnanya.. :)

Bisa kah, kalian melewati pintu ini???
Setelah berjalan-jalan dan berfoto, kami pun keluar dari area kelenteng untuk menuju perhentian selanjutnya: Museum Benteng Heritage.

Museum ini dekat sekali dari Kelenteng Boen Tek Bio. Keluar kelenteng ke kiri saja lalu ketemu pertigaan, ke kiri lagi. Jalan sebentar, nanti di sebelah kiri ada bangunan kayak candi, nah museum ini berada di sebelahnya. Bentuknya seperti rumah biasa dan tulisan museumnya kecil, tapi jika imanmu kuat, kamu akan melihatnya. :')

Stiker kenangan.. :)

Pintu depan museum..
Berkunjung ke museum ini harus (dan lebih baik) dengan pemandu. Pemandu kami saat itu namanya Mbak Suci yang sabar menjelaskan tentang budaya Tionghoa dan setiap ruangan dan bagian museum. Di museum ini juga akan diputar video tentang produksi kecap yang terkenal: Kecap Benteng; dan juga video tentang pernikahan dengan adat Tionghoa-Benteng. Selain itu, yang menarik banget untuk saya adalah pintu pintar yang cara membukanya unik. Seperti apa? Datang sendiri dong ke museum ini. *cieee.. sudah kayak buzzer-buzzer gitu belum? Hihihi*

Oya, satu yang menyenangkan adalah, di Museum Benteng Heritage kita bisa ..... sewa baju tradisional! HAHAHAHAHA. Cocok sekali kan untuk saya, Putri Tiongkok nan kece ala-ala. :') *ngunyah choy pan*

Puteri Jalan Kartini, Ibusuri Cahaya Tangerang, Puteri Kebon Jeruk Tak Tertukar, dan Puteri BSD Ala-ala..
Oh dan di museum ini, kita tidak boleh memotret di ruang atas. Jadi kamera hanya bisa digunakan sampai di tangga saja. Alasannya adalah karena tur museum ini tur berpemandu. Kalau diperbolehkan memotret, nanti pengunjung tidak akan mendengar penjelasan yang diberikan pemandu dan sibuk berfoto saja. Mmmm, benar juga sih ya. Tapi kan jadi nggak ada foto-foto bagian dalam museumnyaaaa. Huhuhu.

Selesai dari museum, kami berkunjung sebentar ke pinggir Sungai Cisadane untuk berfoto dan beli jeruk. Sumpah yang terakhir random abis. Hahaha. Ya namanya juga emak-emak. *tunjuk Mbak Ketty dan Mbak Vici dengan muka lempeng*. Eh saya baru tahu, Sungai Cisadane ini lebar sekali ya! Dan jalan di pinggirnya bersih lho. Oke juga nih Tangerang, nggak suram-suram amat. Hahaha.

Jam sudah menunjukkan pukul 12.18 siang ketika kami selesai belanja jeruk di pinggir Sungai Cisadane. Cacing-cacing di perut sudah bergelinjang, demo butuh makan. Secara sudah jalan-jalan kepanasan sesiangan, maka kami memutuskan makan siang di tempat sejuk saja. Mall!! Huahahahaha. 

Kembali menjadi anak mall.. :')
Jalan setengah hari kami pun selesai setelah makan. Tambah pengalaman, tambah ilmu, tambah kaya. Pulang bahagia bawa Kecap Benteng dua puluh ribu sahaja. Tangerang oke juga nih untuk pelesiran weekenders. Kapan-kapan mengulik sisi lain dari Tangerang ah!

Senyum dulu ah.. :)

Wednesday, October 22, 2014

Gemetaran di Tebing Keraton..


Halo dari pinggir Tebing Keraton - Bandung

Nama Tebing Keraton naik pamor mulai beberapa bulan lalu sejak tulisan tentangnya muncul di DetikTravel. Dari pertama kali lihat fotonya, saya langsung terperangah dan ingin sekali ke sana. Kemudan PergiDulu, pasangan blogger yang tinggal di Bandung akhirnya menyambangi tempat ini dan menuliskan cara menuju ke sana dengan jelas di sini.

Berbekal keyakinan diri, baca beberapa blogpost tentang tempat ini, dan dapat teman jalan tercihuy, Kakatete, maka #DuoGinuk plus dua teman pun siap menggebrak Tebing Keraton. TSAH!

HOBAAAAAHHH!!

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kami berencana berangkat dari penginapan di Braga pukul 04.30 pagi, tapi karena satu dan lain hal, kami berangkat telat. Sungguh, bukan salah kami. Kami sudah siap dari pukul 04.20! *remas-remas cimol*

Setelah sempat salah jalan dua kali dan mobil memutar balik, sekitar pukul 06.40 kami sampai di bagian bawah Tebing Keraton. Jalan menuju ke Tebing Keraton ini susah-susah gampang. Pokoknya ambil jalan menuju Tahura (Taman Hutan Rakyat Ir. H Djuanda) saja. Setelah ketemu Tahura, lurus lagi sedikit dan ..... tanya orang. Hahaha. Itulah yang kami lakukan. :p

Dengar-dengar, ada yang bilang banyak pungutan liar ditarik di sekitar Tebing Keraton tapi Puji Tuhan dengan pikiran positif, hati riang, muka senang, dan badan bergoyang, kami tidak mengalami pungutan liar apapun.

Mobil berhenti di bagian bawah Tahura, 3km sebelum Tebing Keraton. Dari parkiran, perjalanan dilanjutkan dengan naik ojek seharga Rp25.000 untuk sekali jalannya. Mobil memang bisa naik sampai ke atas, sampai pinggir pintu masuk Tebing Keraton, tapi jalan menuju ke sananya tidak begitu bagus dan di atas hanya ada beberapa slot parkir. Sistem siapa cepat dia dapat (lahan parkir) pun berlaku. Saya sebagai pemilik Opie, punya perikemobilan yang cukup tinggi dan nggak rela mobil yang kami sewa mengantar sampai atas. Jadi sudah, bagus parkir di bawah saja. Aman. :D

Bisa jalan kaki untuk 3km itu? Bisa! Beberapa bagian jalan tidak menanjak kok. Jalan santai juga oke. Tapi sebagai pejalan ala-ala kaya yang kece nan manja, jujur, kami sih mending naik ojek bayar Rp25.000 daripada harus jalan kaki 3km. Huikikikik. *peace* Dan kalau ada yang bilang tukang ojek di bawah suka memaksa pengunjung menggunakan jasanya, hal itu tidak terjadi pada kami. Mereka memang menawarkan jasa, tapi tidak memaksa. Beberapa pengunjung yang datang dalam waktu yang bersamaan juga ada yang jalan kaki dan tidak dipaksa naik ojek kok. Pilihan saja.

Mamang ojek di Tebing Keraton yang ramah dan sabar saya minta berbaris. Hihihi.

Ojek mengantar sampai pintu masuk Tebing Keraton. Setelah membayar tiket masuk Rp11.000, kami pun jalan santai menuju ujung tebing untuk melihat pemandangan. Tanah berkerikil dan berpasir jadi harus hati-hati menapak karena Mbak Endah sempat terperosot saking licinnya.

Yang saya suka, orang-orang di sekitar Tebing Keraton masih sangat ramah, suka bercanda dan sopan. Pengunjung yang datang pun sabar berganti giliran mengambil foto di ujung tebing. Bahkan ketika saya mau ambil foto Kakatete dan ada orang di belakangnya, saya minta dengan sopan untuk orang di belakang menunduk eh mas-masnya mau lho. :') Yang penting saling sopan bertutur kata. :)

Pemandangannya memang bagus. Kita bisa lihat pemandangan luas seratus delapan puluh derajat. Pemandangan di bawah adalah Taman Hutan Rakyat yang hijau. Di ujung pemandangan, ada deretan pegunungan. Saat kami datang, masih ada kabut menyisip, membuat suasana terasa magis. Udara sejuk melingkupi, mendukung terciptanya suasana menyenangkan sepanjang kunjungan.

Saya melihat seorang mas berfoto duduk di atas sebuah batu. Wah, bagus nih pemandangannya. Saya pun menunggu giliran untuk berfoto juga di sana. Saat mas (yang kemudian kami berkenalan dan kami memanggilnya Mas Bro Han) berdiri, saya pun jalan pelan menuju batu tadi. Tiba-tiba, sepuluh sentimeter dari batu, kaki saya diam, beku, tak bisa bergerak. Pemandangan di bawah begitu memesona dan (menjorok) dalam. Di kanan kiri batu tidak ada pagar sama sekali. Tanah yang licin tak mapan untuk dipijak makin membuat saya gemetaran. Aduh ini kalau salah langkah bisa berakhir dengan ...... hiiiii, saya menepis bayangan buruk tadi. Tapi kaki saya tetap tidak mau bergerak. Tetap membeku. Saya pun menengok ke belakang ke Kakatete, Mbak Endah, dan Mbak Irrna. 

Nggak kelihatan kan gemetarannya. :))

'Aku nggak bisa gerak ini!! Kakiku freezin!!', saya berteriak ke mereka. Yang kemudian disambut derai tawa. Saya pun tertawa. Orang sekitar melihat kami dan tersenyum. Dikiranya kami bercanda, padahal kaki saya benar tidak bisa bergerak lebih jauh! :))

Akhirnya Mas Bro Han turun lagi untuk memegang tangan saya hingga saya bisa duduk dengan mapan. Selesai saya difoto, kaki saya masih beku, tidak bisa bergerak. Bagaimana saya mau berdiri? Melihat sekeliling, mas-mas tadi sudah pergi. Saya teriak lagi, "Aku nggak bisa gerak lagi niiii.. Gimana niii? Kakiku bekuuuu.. Gak bisa geraaaak!!" dan kemudian kami tertawa-tawa lagi. Kakatete pun melepas sandalnya dan turun perlahan untuk memegang tangan saya sehingga saya lebih percaya diri menggeser kaki untuk bisa berdiri. 

Ini lucu.

Saya bukan orang yang takut ketinggian tapi semakin ke sini kok saya semakin suka gemetaran saat berada di ketinggian. Hihihi. Mungkin benar, semakin tua, kita semakin punya rasa takut. Bagaimana mau mendaki The Dolomites atau meloncat di leap of faith Nepal nih kalau begini? Hihihi.

Bungy jumping leap of faith, Nepal. Bukan foto saya. Saya ambil dari sini.

Kami tidak lama di Tebing Keraton. Sekitar jam 7.30 kami beranjak karena hari sudah semakin panas dan cacing di perut sudah semakin keras berdemo minta asupan. Rencana awal adalah kami akan berjalan kaki kembali ke parkiran.

HOBAAAAHHH!!! *pasang ikat kepala*

Kami pun jalan pelan-pelan dan saat hampir sampai di pintu masuk Tebing Keraton, kami berbicara santai dan berkeputusan mufakat bahwa .......................................... kami akan naik ojek saja!

HAHAHA!! *lepas ikat kepala, kibarkibar bra*

Maka kami pun menumpang ojek lagi untuk kembali ke parkiran. Ojek berjalan pelan dengan kami yang sibuk lihat pemandangan kiri dan kanan. Hati senang dan bahagia. Energi seperti terisi kembali. Siap menghadapi minggu bekerja. Sampai tiba waktu liburan selanjutnya. :D

Senyum dulu ah.. :)





Tuesday, September 16, 2014

Ke Museum Tanpa Takut - Museum Di Tengah Kebun

Saya sedang dalam misi. Misi mencari program Weekenders yang menyenangkan, tidak terlalu mahal, tidak jauh dari Jakarta, dan pastinya tidak perlu menghabiskan banyak hari. Maklum, sejak jadi pekerja kantoran, saya tidak lagi bisa bebas jalan-jalan kapan pun saya mau karena terikat jumlah cuti tahunan. Hihihi.

Salah satu tempat yang baru saya ketahui saat menjalankan misi ini adalah Museum Di Tengah Kebun. Museum ini berlokasi di Jakarta, tepatnya di Kemang Timur No 66. Menemukannya agak susah karena tidak ada tanda besar. Hanya ada tulisan kecil yang menyatu dengan pagar samping. Saya sendiri memutari Kemang Timur ini tiga kali karena selalu terlewat. Hahaha. Mudahnya, temukan Reading Room, nah museum ini lebih kurang ada di seberangnya. Untuk parkir, memang agak susah karena sesungguhnya museum ini adalah rumah pribadi yang masih dihuni. Pengalaman kemarin, saya parkir Opie di Reading Room karena sempat menunggu sambil makan di sana. Kemudian ijin sama mbak kasir Reading Room sambil meninggalkan kunci kalau-kalau Opie menghalangi mobil lain yang mau ke luar. Aman hingga akhir kunjungan. :)



Pintu kayu tinggi menyapa kita saat hendak memasuki area museum. Di balik pintu itu, jalan cantik sepanjang 60 meter dengan tanaman rambat di kanan kirinya seperti mengukuhkan dunia lain. Lucu rasanya membayangkan betapa sibuknya Jalan Kemang Timur dan betapa tenangnya area dalam rumah ini. Seperti ada batas yang tinggi yang mampu menghalau suara bising dari luar supaya tidak masuk ke dalam.

Pak Mirza Djalil, seorang lelaki dengan kepala licin dan telinga bertindik menyapa dan meminta kami mengisi buku tamu. Untuk datang ke museum ini memang harus reservasi dulu. Museum hanya dibuka hari Rabu, Kamis, Sabtu, dan Minggu dengan dua jadwal kunjungan per harinya yaitu 09.45 - 12.00 dan 12.30 - 14.30. Satu grup minimal berisi 7 orang dan maksimal 10 orang. Karena itulah banyak pengunjung yang datang ke museum ini memang baru kenal satu sama lain saat bertemu di museum. Terima kasih untuk Twitter dan media sosial lainnya, biasanya pencarian teman berkunjung ke Museum Di Tengah Kebun ini dilakukan via media sosial. :D Saat saya ke sana, kami bertujuh: saya, Kakatete, Kamikih, dan Kalejid sudah saling kenal. Saya diajak Widi yang datang bersama satu temannya Oliph. Dan Widi kenal dengan Novi yang juga datang dengan satu orang temannya Sandya. Berdelapan deh kami. Hihihi.



Saat pintu depan dibuka dan tur dimulai, saya tidak lagi terperangah dengan masing-masing koleksi museum melainkan keadaan keseluruhan rumah yang adem, tenang, nyaman, dan tidak menakutkan. Jujur saya katakan, saya suka malas memasuki museum di Indonesia karena kebanyakan museum menguarkan aroma mistis dan menakutkan. Tapi Museum Di Tengah Kebun ini berbeda. Ada rasa aman dan nyaman. Mungkin karena rumah ini memang dihuni dan lebih seperti rumah galeri dibanding museum.

Koleksinya sendiri banyak berupa patung. Keberadaannya acak di seluruh sisi rumah. Ada juga furniture dan lukisan. Pak Sjahrial Djalil, pemilik rumah, mengumpulkan keseluruhan koleksi museum sendiri. Beliau juga masih tinggal di rumah ini. Saat saya ke sana, Bapak lagi istirahat, tapi sempat bertemu saat tur sudah mau berakhir. Bapak duduk di kursi rodanya, melihat kami dari kejauhan. :')





Dari keseluruhan area rumah, saya paling suka kebunnya. Kebun ini sangat luas! Dari 4200 meter persegi, 3500 meter perseginya adalah kebun. Jadi bangunan rumahnya hanya 700 meter persegi. Karena itulah namanya Museum Di Tengah Kebun. :D Dan kebun ini pun tidak luput dari koleksi seni. Ada satu pendopo untuk bersantai di tengah kebun yang memuat banyak koleksi mulai dari patung hingga lampu dan kursi antik; ada arca Ganesha besar di tengah kebun dan juga ada bangunan kecil lainnya yang dipenuhi cermin dan lampu gantung bernilai tinggi.

Tidak hanya koleksi barangnya yang bernilai sejarah tinggi, uniknya, bahan bangunan yang dipakai di museum ini pun memiliki nilai sejarah. Batu batanya dari bekas gedung tinggalan VOC, pintunya dari bekas pintu penjara wanita. Tapi semua bersatu dengan apik dan manis, tidak terlihat saling mengungguli. Arsiteknya hebat. :D




Saya nggak akan menceritakan tentang koleksinya karena banyak sekali dan masing-masing ada ceritanya. Saya gantungkan saja biar kalian yang membaca juga jadi ingin berkunjung. :D

Menghabiskan akhir pekan dengan mengunjungi museum? Totally not a bad idea!
Semoga banyak museum lainnya di Indonesia bisa berbenah dan memberikan kenyamanan bagi pengunjung seperti Museum Di Tengah Kebun ini. Dan semoga semua museum dijauhkan dari aura-aura mistis yang mengganggu. Hihihi.

Senyum dulu ah.. :)

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Berita Terkini: Museum Di Tengah Kebun sedang tutup untuk publik. Belum ada kabar kapan akan dibuka lagi. Semoga tidak lama ya. :)

Tuesday, September 9, 2014

Cerita Book and Go dan Duo Ginuk Menginap di Hotel Besar

Beberapa teman yang terhubung ke saya di Facebook (dan Twitter) mungkin melihat tagar yang saya tuliskan beberapa saat lalu; #DuoGinukInSolo . :D Ginuk itu bahasa Jawa untuk badan yang agak gendut-gendut namun lucu maksimal gitu. Duo Ginuk ini mengacu ke saya dan Kakatete. Hihihi.

Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, jalan-jalan ke Solo ini terhitung lumayan cepat prosesnya. Cepat dan nggak ribet. Yang membingungkan, saya dan Kakatete yang sama-sama OCD, bisa-bisanya tidak bertemu dulu untuk membicarakan rencana perjalanan. Komunikasi pun tidak intens; hanya sebatas membicarakan soal naik Bus Werkudara (yang kepengurusan dipegang oleh Kakatete) dan keinginan untuk sewa sepeda selama di Solo (yang kepengurusan menguap di Twitter begitu saja karena ternyata susah cari sewa sepeda di Solo. Hihihi). Saya? Ya mengurus free-stay penginapan (yang saya limpahkan ke Mama dan Mas Agung), membantu sedikit kepengurusan akan sewa sepeda *tetap* (dengan menanyakan ke Mas Agung dari pihak hotel), datang lebih awal ke Stasiun Gambir untuk mengurus tiket kami, dan .... tadaaaa .. membuat itinerary santai (hahaha, tetap ya..).

Dengan mengurusi segala sesuatu di menit-menit terakhir, ternyata semua berjalan dengan baik dan banyak tempat yang kami ingin kunjungi bisa kami sambangi! *pat our backs*. Saya pun kaget karena biasanya jika liburan kurang dari 4H3M, saat sampai Jakarta, saya akan kena PHS (Post Holiday Syndrome) di mana saya akan bengong-bengong bodoh gitu. Tapi kemarin pulang dari Solo langsung masuk kantor, saya segar luar biasa. Dan hatinya terasa senang sekali. :D

Setelah perjalanan ke Solo ini sukses, satu yang menjadi poin bagi saya. Bahwa kadang saya perlu melakukan 'book and go'. Begitu saja tanpa pusing memikirkan ini dan itu. 'Book' biar ada keharusan untuk pergi dan berlibur. 'Go' untuk akhirnya menjalankan liburan itu sendiri. Jalan saja dan nikmati setiap hal yang terjadi. Tidak melulu setiap hal harus mempunyai target dan rencana jangka panjang (walaupun saya tetap suka merencanakan segala sesuatu jauh hari), dan saya harus mencapai target tersebut. Kadang, keluar dari rutinitas dan berjalan santai adalah apa yang saya perlukan. :D

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 

Saya pernah menulis tentang kebiasaan saya menginap di dorm saat jalan-jalan. Kalau belum baca, silakan klik ini. Saya juga sudah bercerita bagaimana rasanya menginap di hotel berbintang gratisan dibayari kolega kantor di sini. Nah kali ini saya mau cerita kelucuan yang saya dan Kakatete alami ketika kami - yang biasanya menginap di guesthouse murah meriah atau malah di dalam tenda -   menginap di hotel besar di Solo. :D

Becak Pak Mul berhenti tepat di seberang sebuah gedung tinggi dengan jalan masuk rapi dan taman di kanan kiri. Saya dan Kakatete turun sambil cengar-cengir. Inilah hotel yang akan kami inapi selama dua malam. :D Sebuah mobil mewah ke luar dari parkiran. Saya menengok ke dalam; yah, kok nggak ada becak di dalam parkiran? Becak nggak boleh masuk ya? :(

Selesai berbicara dengan Pak Mul, kami berlari kecil menuju depan hotel untuk .... berfoto! Hahaha. Satpam melihat saya dan Kakatete berfoto dan membiarkan walaupun sepertinya ia agak bingung. Selesai berfoto, dengan ransel di punggung, kami jalan cengengesan menuju lobby.



'Sudah check in, Mbak?', tanya satpam (yang daritadi melihat kami) dengan ramah.
Saya bingung menjawabnya. Kan kami baru datang.

'Belum. Ini baru mau.', jawab saya kikuk. 'Lobbynya di sana kan, Pak?' saya menunjuk ke arah depan. Mungkin pertanyaan itu bisa membuat pak satpam sadar kami 'baru mau' check in.

'Oh iya, silakan mbak, itu lobbynya.', masih dengan ramah bapak itu menyahut.

Saya dan Kakatete jalan berdekatan sambil cekikikan berpikir apakah bapak itu bingung melihat kami yang beransel ini terseok-seok memasuki lobby hotel besar ini dan berpikir kami salah masuk penginapan? Hihihi.

Sampai di lobby, seorang mas-mas dengan ramah menangkupkan tangan dan mengucapkan salam. Saya tadinya mau ikut menangkupkan tangan, tapi tangan saya sudah terlanjur nangkring di meja resepsionisnya. :D Saya mengatakan sudah ada reservasi. Masnya mencari nama saya .... TIDAK ADA. Krik krik krik.

'Oh saya pakai poin mama saya, Mas. Sudah diaturkan oleh Mas Agung.'

Mas itu mencari sekali lagi kemudian berkata, "Atas nama Ibu Kissumi ya, Mbak?' - nama mama saya; saya mengangguk. Keluarlah kertas ini dari printer di sebelah masnya dan saya membubuhkan tandatangan di bagian bawah lalu menunjukkan kalimat 'Free Stay Point' ke Kakatete sambil cengengesan.



'Di kamar 1905 ya Mbak. Ini password untuk wifinya.'
Saya mengambil kartu kamar yang diberikan.

Beberapa saat setelahnya, di kamar, Kakatete tiba-tiba cekikikan melihat kartu kamar kami. 'Buy, there's no way we can forget that we can sleep here because of Bujendral ya. Password wifinya aja nama Bujendral.' Saya melihat kartu kamar dan ngakak. Iya, passwordnya nama mama saya! Huahahaha.



Selesai urusan check in, kami jalan lagi. Memasuki elevator, ada seorang staff hotel lagi yang menyapa ramah dan sopan dengan menundukkan kepalanya sambil berkata, 'Silakan, Mbak' dan menunjuk elevator.

Saya masuk elevator dengan biasan warna hangat itu dan memencet angka 19. Tetoooot, tidak bisa menyala.

'Oh..' sahut saya sambil menyadari kedodolan diri sendiri. Perlu dimasukkan dulu kartu kamarnya sebelum angka 19 itu bisa menyala rupanya. :p

Bapak yang tadi menyapa kini mendekati kami karena melihat pintu elevator tidak juga tertutup.

'Bisa, Mbak? Itu harus pakai kartu kamarny...'
'Iya iya..' sahut saya grogi sambil mengeluarkan kartu kamar dan mencoba memasukkan ke dalam slot. Eh kok nggak bisa? Saya coba sisi lain kartunya. Tidak bisa juga. Saya melihat kartunya dengan bengong dan mencoba lagi. Tidak bisa juga. Aaaargh! *grogi berhadapan dengan bapak staff hotel*

Bapak itu makin mendekat dan dengan senyum ramah menunjukkan cara memasukkan kartu dengan benar. Ternyata dimasukkan secara horizontal; bukan vertikal. BUAHAHAHAHAHA. Gembel! :)))))



Masih cekakakan di dalam elevator yang membawa kami ke lantai 19, saya dan Kakatete menghibur diri akan kedodolan kami dengan mengatakan, 'Yaaaa kan di tenda nggak ada elevatoooorr. Dudududu..' YA MENURUT LOE AJA, TONG! Hihihi.

Sampai di kamar, kami membuka pintu kemudian dua-duanya berucap hal yang sama dalam waktu bersamaan; 'Whoaaaa!!' Hahaha. Norak abis!

Satu langsung lari ke jendela, satu lagi langsung lari ke ruang tidur. Lalu bersama-sama masuk ke toilet. Lalu lari lagi menyalakan TV, buka lemari, jalan ke sini jalan ke sana. Begitulah. Hihihi.

Hingga hari kedua kami di sana, kami masih suka membuka korden untuk melihat pemandangan dari atas. Masih suka terpana dan bersyukur bisa sampai di Solo, bersikap santai, punya pack and go attitude, dan bersyukur bisa menginap di hotel besar itu. Hihihi.

Demikianlah cerita singkat Duo Ginuk Menginap di Hotel Besar -nya. Ayo jalan-jalan! Sometimes, the more you overthink (about) the plan, the farther the chance of it to happen. So, just book and go! :D Jangan lupa senyum tertawa dan bersyukurnya. :D

Kesempurnaan adalah milik Tuhan, kesalahan memasukkan kartu ke dalam slot elevator adalah milik manusia. Sekian.

Senyum dulu ah.. :)

Thursday, August 28, 2014

Pemandu Becak dan Sewa Mobil di Solo..

*pertanyaan penting pembuka post*

Kalau orang Jakarta disebut Jakartan,
Orang Palembang disebut Wong Kito Galo,
Orang Minang disebut Urang Awak,
Orang Solo disebut apa?

:D

Tapi, apapun sebutannya minumnya tetap Teh Botol Sosro, satu yang berkesan bagi saya saat ke Solo kemarin: sebagian besar orang Solo ramah-ramah ya. Ramahnya ramah tulus gitu. Saya bahagia. :)

Yang membuat kesan ramah dan tulus pertama kali adalah Pak Mul: pemandu becak kami selama di Solo. Saat pertama bertemu di pintu keluar Stasiun Balapan, kami tawar menawar untuk diantar ke Gudeg Ceker Margoyudan. Dari Margoyudan, kami lalu minta diantar langsung ke hotel. Pak Mul menyanggupi. Sampai di hotel, saya bertanya di mana mencari sewa sepeda? Kata Pak Mul, sewa sepeda jarang di Solo. Beliau menanyakan kami mau ke mana saja. Setelah diberitahu, Pak Mul bertanya (dengan sangat sopan) apa mau diantar olehnya. WAH! Boleh boleh! Huhuw!



Pak Mul datang sebelum pukul setengah sepuluh, perjanjian waktu kami. Dia menunggu di luar hotel dan tidak mau masuk padahal saya geregetan banget ingin bawa becaknya Pak Mul sampai depan lobby Hotel Solo Paragon. Hehehe. Kami pun berkeliling kota Solo sama Pak Mul. Orangnya sabar sekali dan sangat melayani. Bahkan saat kami tidak jadi ke Taman Sriwedari sedangkan Pak Mul sudah belok kanan dari depan gerbang masuk Pura Mangkunegaran, beliau tanpa mengeluh menggenjot becaknya lagi untuk putar balik dan mengantar kami ke Pura Mangkunegaran, sesuai yang (tiba-tiba) kami inginkan. Hihihi. Maaf ya Pak.

Pak Mul ini rumahnya di daerah Balapan, dekat stasiun. Usianya memang cukup tua namun masih kuat menggenjot becak ke rute kami Hotel (Solo Paragon) - Pasar Gede - Pura Mangkunegaran - Pasar Klewer - Kampung Batik Kauman - Hotel. Saat di Kampung Batik ada kejadian lucu, Pak Mul-nya posesif sama kami, takut kami kecapean jadi beliau ingin mengantar kami ke gang-gang kecil itu, padahal kaminya mau jalan kaki. Hahaha.

Saya masih menyimpan nomor HP Pak Mul. Kalau ada teman-teman yang akan ke Solo dan ingin berkeliling diantar becak oleh Pak Mul, drop a message on my Facebook or Twitter. I'll share. Tapi mintanya yang baik dan sopan ya. Pesan seperti 'Pernah baca kamu punya nomor telepon tukang becak di Solo, minta dong sekarang, perlu banget. Besok ke Solo!' TIDAK AKAN saya jawab. Saya lebay? Mungkin. Tapi beneran ada yang pernah kirim pesan ke Facebook saya seperti itu, menanyakan nomor telepon Pak Azmal, supir taksi langganan saya di Kuala Lumpur. -_____- d'uh! Situ ikrib sama saya?!

Oya, tolong sekali, kalau naik becak sama Pak Mul, maksimal 2 orang per becak ya. Atur rute sedemikian rupa biar nggak bolak-balik. Atau beritahu tempat mana saja yang mau dikunjungi dan minta Pak Mul yang atur rutenya. Kalau waktunya makan dan kalian sebagai penumpang akan makan, jangan lupa tawarkan (atau langsung pesankan) untuk Pak Mul juga. Nggak akan bikin kalian kekurangan, sungguh! Kemarin kami putar-putar selama lebih kurang 4.5jam itu memberikan Rp120.000 + makan siang ke Pak Mul. Dari awal, Pak Mul menolak menyebutkan berapa yang harus kami bayar. Saat diberi pun beliau tidak meminta lebih, bahkan tidak menghitung berapa rupiah yang kami berikan. Beliau penuh rasa syukur dan menerima dan kalau tahu Pak Mul dari saya, tolong jangan berikan harga di bawah itu untuk jalan-jalan selama periode waktu yang sama. Kalau mau menawar sampai murah sekali, silakan cari pemandu becak lain, jangan sama Pak Mul!! *penumpangposesif* Hehehe.

Hari kedua di Solo, kami berencana untuk sedikit ke luar kota Solo. Ke Karanganyar, mengunjungi Candi Cetho, Candi Sukuh, dan Air Terjun Jumog. Untuk ke sana, tentu tidak bisa dengan Pak Mul. Hihihi. Malam-malam jam 21.00 kami baru cari sewa mobil setelah mengetahui kalau sewa mobil di hotel harganya Rp620.000 untuk Avanza. HIDIW BABHAY!

Googling sebentar dan membuka satu website, menelpon, mendapatkan harga, menutup telpon sebentar untuk berkata ke Kakatete dan Ang, "Aku gagal deh kalau menghadapi orang ramah dan sopan. Bapak yang angkat telepon sopan banget. Harganya 450.000 sudah mobil supir BBM." Kakatete melihat saya sekilas, membaca air muka saya yang yakin, kemudian langsung mengiyakan. Tidak sampai dua menit kemudian, kami dapat mobil sewaan untuk keesokan harinya. Hehehe. Kaget ya kok tumben saya bisa jalan-jalan koboy begini tanpa persiapan matang? Iya, saya juga kaget. Hihihi.

Nama sewa mobil ini Tedda Rent Car. Silakan diklik tautannya untuk masuk ke websitenya. Supir kami kemarin namanya Pak Doni. Baik, ramah, dan rambutnya gaya mullet! Hihihi. You know tatanan mullet kan? Business at the front, holiday at the back! Hihihi. Nih seperti ini:

Ini bukan Pak Doni. Cuma gaya rambutnya saja.

Sayang saya nggak sempat foto Pak Doninya. Padahal sudah rencana. :( Mungkin nanti saya bisa minta Pak Anton (yang punya Tedda) untuk fotoin. Hihihi. Pak Doni sopan dan mengerti jalan. Menyetirnya pun halus dan tidak grasa-grusu. Sabar sekali melayani kami, tiga perempuan lucu nan imut jalan-jalan keliling candi, makan, tidur, ribut nyanyi, dan makan lagi. :p Pak Doni pun mau diminta memotret kami di tengah hujan sambil ikut ngetawain bareng warga sekitar (--____--) saat kami menjadi Power Ranger dadakan di Desa Jumog. Cerita Power Ranger ini nanti akan ada di post yang berbeda ya. Overall, sangat puas dengan pelayanan Tedda Rent Car dan Pak Doni.

Untuk menyewa mobil di Tedda, ternyata paling tidak harus memesan seminggu sebelumnya. Kami kemarin beruntung sekali masih bisa mendapatkan mobil di waktu yang mepet dan mobil yang kami pesan adalah mobil terakhir yang ada. Hehehe. Rejeki anak cantik kece nan baik dan rendah hati. :')

Selain Pak Mul, Pak Anton, dan Pak Doni; satpam di hotel juga ramah. Satpam di Mall Paragon juga ramah. Ibu Gudeg, Ibu Nasi Liwet, Bapak Parkir, semua ramah.

Eh tapi apa semua ramah? Tidak juga sih. Supir taksinya nggak ada yang ramah masa. Padahal taksi ini taksi resmi rekanan hotel. Taksinya tidak ada yang pakai argo dan supir taksinya semua sok tahu. Sok tahunya nyebelin banget. Saya sama Kakatete sampai tobat deh. Kalau nggak terpaksa, nggak mau naik taksi di Solo. Mending sama Pak Mul atau Pak Doni deh. Hehehe.

Mbak-mbak Dawet Telasih Bu Dermi di Pasar Gede juga nggak ramah. Nggak ada senyum-senyumnya acan. Mbaknya nggak bisa berlaku semanis dawet jualannya. Ihiks.

Tapi, jumlah orang yang ramah mengalahkan mereka yang tidak ramah kok. Solo kota yang menyenangkan. Orang-orangnya juga menyenangkan. Membuat betah. Cocok untuk tempat kita menghabiskan masa tua bersama, Mas. *gamit lengan Mas Joseph Gordon-Levitt dengan mafhum*

Senyum dulu ah. :)

Tuesday, August 26, 2014

Candi Sukuh dan Keperawanan Saya..

"Jadi Buy, konon katanya, kalau kita naik Candi Sukuh ini lalu pas turun kita berdarah, itu tandanya kita masih perawan!!" ujar Kakatete dengan mimik wajah super serius yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.

Saya membalas dengan tatapan bingung. Apa yang dia harapkan dari berkata demikian pada saya yang sepertinya sudah tidak perawan ini deh? >.<

Tapi baiklah, mari kita coba!

------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Candi Sukuh adalah candi ketiga yang kami kunjungi hari itu. Terletak di Karanganyar, candi ini lebih terkenal sebagai candi seksual atau candi porno. Kenapa begitu? Karena Lingga dan Yoni digambarkan secara terbuka di candi ini. You know Lingga and Yoni, aite? The image of penis and vagina. :D

Saat mobil sewaan kami memasuki parkir, Ang sempat mengucap 'Yah...Penuh banget!!', dan saya langsung lihat ke bagian atas candi yang ternyata sudah penuh orang nongkrong-nongkrong cuek. Kami pun berjalan santai masuk area candi setelah sebelumnya beli tiket masuk dulu Rp3000/orang. Saya jalan duluan sementara Ang dan Kakatete masih baca-baca penjelasan tentang candi ini. Saat saya naiki tangga kecil di halaman, saya ketemu satu bapak satpam yang duduk santai mengawasi. Saya tanya ada apa di atas kok penuh sekali? Dijawab katanya sedang ada ritual. Ooooo, pantesin penuh.

Saya pun keliling-keliling dulu menunggu pengunjung yang di atas turun untuk gantian dengan pengunjung yang di bawah. Tunggu punya tunggu, nggak turun-turun dong mereka. Hihihi. Betah ya Mas, Mbak. Melihat banyak pengunjung yang menunggu giliran naik, bapak satpam pun melaksanakan tugasnya dengan baik. Beliau mendekat ke candi lalu menganjurkan pengunjung yang di atas untuk turun dan memberi kesempatan pengunjung yang di bawah untuk naik juga. Anjuran disampaikan dalam Bahasa Jawa halus yang membuat saya bengong. KENAPA BAPAK ITU BISA BAHASA JAWA HALUS?? Saya kok nggak bisa? Kenapa coba kenapa? Jawab!!


Beberapa pengunjung pun turun setelah mendengar anjuran bapak satpam; beberapa lainnya, tetap keukeuh di atas. Ada satu pasangan yang tetap di atas dan kaki sang perempuan menjulur ke bawah. Mereka nggak ngobrol pun, ya cuma duduk saja di candi. Mungkin menurut mereka itu keren. Hehehe. :P

Menunggu beberapa saat, turun lah para nongkrongers itu dan kami pun naik ke atas. Sesampainya di atas, ada beberapa orang berbaju seperti petapa dengan rambut panjang dan tatapan wajah diam misterius (ala-ala Sudjiwo Tedjo gitu) sedang membereskan barang-barang yang habis dipakai untuk ritual. Saya melihat ke sekeliling. Komplek candi ini, walaupun kecil tapi sangat adem dan menyenangkan. Rumputnya hijau, banyak pohon rindang, suasananya adem. Pantas banyak yang pacaran di sini. 

Kami berfoto sebentar lalu turun untuk memberi giliran pengunjung lain yang akan naik. Sedikit cerita tambahan, pas di bawah, di halaman candi, ada sekelompok mas-mas gitu mengikuti kami dan tiba-tiba salah satu dari mereka bilang, "Mbak, teman saya mau foto bareng sama mbak. Boleh ya mbak?"

YAMPUN AKUH DIKIRA RAISA!!

























Okeskip!
















*ya sedikit selfie saja deh ya nggak papa*



*peace*

Selesai dari Candi Sukuh, kami menuju ke Air Terjun Jumog. Selesai dari sana baru kami pulang dan hasil tes pun keluar. Hasil ini cukup mengagetkan karena .... Kakatete tidak merasakan apa-apa sedangkan saya ..............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

Menstruasi.
Darah.

Berarti ............................


















SAYA PERAWAN!!

OMG!!
*pingsan*










Sekian.
Post selesai.
Hihihi.

Senyum dulu ah.. :)

Tuesday, June 10, 2014

Ke Sukabumi naik kereta..

Dari dulu, nama Sukabumi itu selalu terngiang di telinga saya. Bergema menggelitik gitu. Tapi kalau diajak ke sana dengan mobil/bus, saya angkat tangan. Sejak terakhir pulang ke Yogyakarta dengan mobil dan menghabiskan waktu 46 jam perjalanan bolak-balik, saya yakin saya bukan penikmat road trip dengan mobil. Hehehe.

Saat kemarin diajak ke Sukabumi dan diberitahu akan naik kereta, sudah pasti saya langsung katakan tidak pada narkoba iya. Apalagi saya lagi bangga-bangganya sama PT KAI dengan kemajuan pesatnya yang membuat saya jadi ingin terus-terusan naik kereta (sayang nggak ada kereta api rute Kebon Jeruk - Tomang untuk ke kantor setiap hari :D). Maka sebentar klik di Tiket.com dan tiket PP seharga Rp100.000 pun langsung dipegang erat. Saya siap menuju SUKABUMI!! Yeah!!

Tiket saya.. :D

Rute di tiketnya adalah Bogor - Sukabumi. Jadi dari Kebon Jeruk, saya harus naik kereta Commuter dulu sampai Bogor. Dan biarkan saya bercerita sedikit tentang betapa fancy-nya saya dan Kamikih pagi itu. :p

Kamikih jemput saya ke apartemen dan saat saya menemuinya di lobby, saya ternganga. DUILE, dijemput pake Silverbird!!. Saya sempat ketar-ketir tuh kalau-kalau pengemudinya kurang kece, turunan basement apartemen saya itu super mepet, nah kalau nyerempet bagaimana? Sayang temboknya.. :'( Tapi Puji Tuhan semua selamat sentosa dan tembok tetap berdiri kokoh. :D

Sudah naik Silverbird, makan paginya pisang barangan yang kecil nan imut. Saya satu, Kamikih satu. Huahaha. Sudah begitu, arahnya ke Stasiun Juanda lagi, bukan stasiun besar macam Gambir. Hihihi. Ya begitulah, fancy sekali kami ya. :)))

Kembali ke cerita awal, dari Stasiun Juanda jam 6, kami sampai di Stasiun Bogor jam 7.15 sementara kereta ke Sukabumi berangkat jam 7.55. Saya dan Kamikih pun mencoba menghubungi Kakatete, Mbak Nyanyu, dan Kalejid yang sudah duluan sampai. Waktu semakin mepet dan kami belum bertemu sementara saya dan Kamikih tidak mau ke luar dari stasiun karena takut lama lagi masuknya sampai tiba-tiba kami disadarkan bahwa kereta ke Sukabumi itu berangkat dari Stasiun Paledang, bukan Stasiun Bogor!! JENG JENG!! Jadi di mana kah Stasiun Paledang itu?

Stasiun Paledang..

Stasiun Paledang ada di lurusan rel kereta Stasiun Bogor. Jadi kalau ke luar dari pintu besar di ujung rel, posisi Stasiun Paledang itu di seberang. Kita tinggal ke luar, menyeberang jalan, dan jalan mengikuti rel.

Untungnya dekat dan bisa jalan kaki. Tidak terbayang kalau kami terus menunggu di Stasiun Bogor dan tidak mengetahui bahwa berangkatnya dari Stasiun Paledang, lewat lah itu kereta. :(

Perjalanan ke Stasiun Cisaat, Sukabumi, ditempuh dalam waktu kurang dari dua jam. Dan perjalanan kurang dari dua jam itu diselingi pemandangan indah di kiri dan kanan. Dan beberapa kali, anak kecil di sisi rel melambaikan tangannya. :D

Saya sempat menghabiskan waktu sendirian di gerbong restorasi. Menyisip kuah mie instan sambil melihat hijaunya pemandangan dan mengobrol dengan masinis yang ramah luar biasa, menceritakan bahwa di manifest, total 400 kursi seharusnya terisi penuh, namun kenyataannya tidak demikian. Lalu bercerita tentang Sukabumi, tentang jalur kereta yang baru dioperasikan kembali ini, dan hal lainnya.

Pemandangan dalam perjalanan

Hijau!!

Bisa saya katakan, waktu kurang dari dua jam itu terasa manis sekali. Semuanya menyenangkan. Pilihan bagi warga Jakarta dan sekitarnya yang ingin merasakan dinginnya udara Sukabumi tanpa harus melewati kemacetan yang membosankan; perjalanan dengan kereta!! :D

Jadi, siapa yang mau ajak saya ke wisata ke Sukabumi dengan naik kereta?
SAYA MAUUUUU!!! :D

Senyum dulu ah.. :)

Tambahan: Ada yang minta foto interior keretanya, jadi saya tambahkan di sini ya.. Silakan.. :D

Interior kereta..

Ala-ala candid.. :p

Thursday, June 5, 2014

Bersihnya Situ Gunung..

Waktu Kamikih dan Kalejid mengumumkan pertunangan mereka berencana mau liburan ke Situ Gunung, saya masih belum tergoda. Tapi ketika kemudian bertemu mereka plus Kakatete dan  Mbak Nyanyu, dengan begitu kerasnya rayuan untuk ikutan, maka tangan saya langsung sigap kirim pesan minta ijin ke Costa dan saat dapat 'YA', saya langsung iyakan dan memesan tiket kereta. Hihihi. *mure*

Dan sungguh saya tidak menyesal ikut ke tempat yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango ini.

Kami tinggal di Villa Cemara dan dari awal, Bu Tuti, sang empunya, selalu mewanti-wanti kami untuk jaga kebersihan villa maupun kawasan taman nasional, untuk buang sampah di tempatnya, untuk cuci peralatan makan dan masak sendiri; pokoknya kebersihan adalah yang utama. Bahkan cinta datang kedua. *EH?!*

Kesadaran akan kebersihan dari orang-orang di sekitar taman nasional ini berpengaruh besar karena baik air terjun, danau, maupun seluruh kawasan ini jadi sangat bersih! Sungguh deh, saya dan teman-teman sampai terpesona! Bersih banget!

Bersihnya kawasan ini bukan karena tidak ada yang datang karena terbukti yang datang cukup banyak dan keadaan pun cukup ramai. Bukan juga karena tidak ada pedagang yang berjualan di dalam karena faktanya, ada pedagang baik di air terjun maupun di danau. Tapi seluruh pedagang punya satu kantong plastik khusus untuk sampah. Dan seluruh pedagang keukeuh mengingatkan pengunjung untuk membuang sampah di kantong plastik miliknya. Semua tertata dengan baik. Semua bersih! Saya bahagia!! :D



Jadi apakah dari dulu kawasan ini sudah bersih?
Ternyata tidak.
Kata Kamikih yang sudah beberapa kali berkunjung ke kawasan ini, dulunya kawasan ini ya kotor. Penuh sampah bungkus makanan di mana-mana.

Lho, kalau dulunya kotor, kok sekarang bisa bersih ya?
Apa yang dilakukan sampai bisa bersih begini?

Rupanya, pengunjung kawasan Taman Nasional Gede-Pangrango ini sekarang dibatasi. Tidak bebas seperti sebelumnya. Dengan adanya pembatasan ini, maka kontrol terhadap perilaku pengunjung pun bisa lebih baik. Seluruh pedagang dan pengunjung dianjurkan untuk terus menjaga kebersihan selama berada di dalam kawasan dan juga membawa turun sampah masing-masing. Pedagang dan pengawas di kawasan ini (bahkan tukang ojek) juga bisa galak mengingatkan pengunjung kalau ada yang buang sampah sembarangan. Semua ikut menjaga.

Saya jadi ingat ketika jalan pertama kali ke Phi Phi Island - Thailand. Saat menaiki speedboat, seluruh penumpang diberikan briefing singkat. Briefing bukan hanya tentang tempat-tempat yang akan dikunjungi tapi lebih dari itu, tentang bagaimana tetap menjaga kebersihan lingkungan di tempat-tempat wisata tersebut. Di masing-masing kapal disediakan satu tempat sampah super besar yang bersih. Seluruh penumpang diwajibkan membuang seluruh sampahnya ke tempat sampah tersebut; bahkan saat sudah turun ke pantai, seluruh sampah yang ada harus dibawa kembali ke kapal untuk dimasukkan ke dalam tempat sampah tersebut. Mereka gigih menyuarakan 'Please help us keeping our environment clean so you can come back and visit Phi Phi Island as clean as it is now.' Wihiy!!

Dan jangan sedih, itu pemandu masing-masing kapal (diperbolehkan) bertindak tegas. Saya pernah mendengar suara priwitan panjang dan setelah itu melihat seorang pemandu meminta satu pengunjung untuk mengambil plastik bungkus bikininya yang ditinggalkan di pulau. Lari-lari lah itu pengunjung balik ke pantai untuk ambil plastiknya lalu balik lagi ke kapal. Hihihi. Saya sih kalau jadi pengunjung itu akan super malu ya. :P

Melihat dua hal ini, jadi sebenarnya menjaga kebersihan sebuah tempat wisata itu bisa dilakukan. Bukan sekedar angan-angan. Mulai dari hal paling sederhana: menjaga sampah masing-masing. Buang di tempat yang disediakan dan kalau belum ketemu tempatnya, ya simpan dulu. Sampah yang kita simpan di kantong tidak akan bertumbuh jadi makin banyak tapi sampah yang kita buang ke tanah akan menambah kesan kebodohan dan ketidakpedulian. :D

Jadi siapapun kalian, pencinta gunung, pencinta laut, pencinta pantai, pencinta kemping, maupun pencinta laki-laki seperti saya, ayo kita tunjukkan sedikit hal yang bisa kita lakukan untuk lingkungan. Simpan sampah kita dan buang di tempatnya.

Kalau lihat ada orang yang buang sampah sembarangan, jangan ragu untuk menegur. Bisa langsung atau pakai cara paling baru yang saya lakukan, saya kejar orang itu lalu bilang, 'Mas, itu ada yang ketinggalan.' dan saat dia nengok dan nanya apa, saya bilang, 'Sampahnya.'. Hehehe. *peace*

Ini hanyalah sedikit usaha untuk kita bisa berkontribusi menjaga lingkungan yang akan membesarkan kita.
Sedikit usaha. Yang jika dilakukan bersama, saya yakin efeknya akan sangat besar adanya.

Ayo malu buang sampah sembarang!!
Demi Situ Gunung dan Curug Sawer lainnya di Indonesia!! :D

Senyum dulu ah.. :)
Selamat Hari Lingkungan Sedunia 5 Juni 2014!! :D


------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Baca juga cerita teman-teman tentang lingkungan di:
* Menjelajah Negeri Orang Laut << Kak Danan Wahyu
* Selamat Datang di Masa Depan << Kak Yofangga
* Jatuh Cinta Kepada Hijau << Kak Indri
* Dilema Wisata Karimun Jawa << Fahmi Anhar
* Apa Itu Green Tourism << Kak Felicia Lesmana
* Hutan Kalimantan Nasibmu Kini << Kak Indra BpBorneo
* Musuh Abadi, Plastik << Kak Adlienz

Monday, May 26, 2014

Kemping Menakutkan di Pulau M..

Apa rasanya berkemah ditemani makhluk lainnya?
Biasa?
Kalau makhluk halus?
Kuntilanak?
Genderuwo?
Dan nenek tua tanpa kepala yang memakai kebaya?
*Huaaaaa.. Merinding lagi*
:'(

Beberapa minggu lalu, saya dan teman-teman Cukstaww berkemah di Pulau M, bagian dari Kepulauan Seribu.

Saat kapal kami merapat di Dermaga Pulau M, terlihat lah pulau yang bersih, sepi, dan lapang. Melihat tanah lapang tepat di pinggir dermaga, saya berujar, 'Di sini saja bangun tendanya,', tapi kemudian penjaga pulau mengatakan tidak boleh membangun tenda di situ karena itu adalah jalan yang dilalui orang. Logis.

Maka tenda pun dibangun di belakang tanah lapang tersebut. Saya satu tenda dengan Uni Deedee dan Kamikih. Saya pribadi yang memilih spot tenda kami; di bawah naungan pohon besar yang ada di bagian belakang tanah lapang. Sepertinya nyaman. :) Semua pun sibuk membangun tenda. Total enam tenda yang harus dibangun termasuk satu tenda super tinggi dan besar dengan dua kamar untuk manusia-manusia berukuran bule (baca: Mbak Astrid dan Mas Bule). Hihihi.


Tenda selesai dibangun, kami pun berganti baju renang dan bikini dan berangkat lagi untuk snorkeling. Saat kembali, hari sudah agak senja. Saya dan Mbak Nyanyu memutuskan ke bagian belakang pulau untuk melihat matahari terbenam. Di bagian belakang pulau, kami baru tahu ternyata ada satu grup lain yang juga berkemah. Selesai main-main dan foto-foto, kami pun menyusuri pinggir pulau untuk kembali ke tanah lapang kami. Dan dari sini, perasaan sudah mulai agak .... mmmm .... aneh?

Tidak biasanya saya dan Mbak Nyanyu diam-diaman. Ini jalan beberapa langkah, rasanya wagu, aneh. Kok pulau ini sepi sekali ya? Terlalu sepi sampai kami takut untuk menggerakkan bibir. Saya berusaha melucu dan mencairkan suasana, tapi tetap saja. Sepertinya kemagisan pulau ini sudah mengokupasi daya tawa dan ide bicara kami hingga kami diam lagi.

Sesampainya kami di tanah lapang, kami pun langsung mandi di sumur terdekat. Kami mandi berlima atau berenam. Dan sepanjang mandi, saya merasa ada yang melihat ke arah kami, tapi entah kenapa wajah saya berat untuk dipalingkan dan melihat ke arah lain selain .... sumur tempat kami mengambil air. GLEK!

Acara dilanjutkan dengan ngobrol-ngobrol santai dan datanglah waktu tidur. Saat kami mau beranjak tidur, tiba-tiba Kamikih dan Kalejid menyalakan api unggun besar tepat di samping tenda saya. Wah, saya mulai tahu nih ada yang nggak beres. Bersamaan dengan berkobarnya api asmara unggun yang dibuat Kamikih dan Kalejid, muncul suara lolongan kucing. Lolongan mencari pasangan, tapi lebih panjang dan lebih merana terdengarnya. Suasana, mencekam. Saya bertahan di dalam tenda.

Tidak lama, Kamikih memanggil saya dan menyuruh saya tidur di luar. Dengan jaya saya menjawab, 'Nggak ah Kak, aku di tenda aja.'. Kamikih memanggil sekali lagi dan saya tetap dengan pendirian saya. Kan ceritanya teguh pendirian. Hihihi.

Api pun meredup setelah beberapa saat. Dan suara kucing melolong terdengar lagi. Menghiasi sepinya malam. Kemudian saya mendengar suara laki-laki dan perempuan berbicara. Suaranya tidak terdengar seperti suara dari grup kami, jadi saya pikir, mungkin dari grup lain yang membangun tenda di belakang pulau. Tapi ..... grup sebelah itu kan isinya laki-laki semua. Jadi .... suara perempuan itu siapa?

'KAMIKIIIIIIII....', saya memanggil.
Tidak ada suara apa-apa sementara suara laki-laki dan perempuan yang mengobrol semakin terdengar dekat.
'KAMIKIIIIIIII....', saya memanggil lagi.
Tidak ada balasan apa-apa.
'MIKIIIII!!!!', Uni ikut memanggil Kamikih.
Tetap tidak ada suara apa-apa.

Saya diam.
Uni diam.
Dan yang berbicara di luar masih saja terdengar.

Kresek kresek kresek....
Saya bangun dan terduduk. Kemudian melihat ke arah tempat kepala saya tidur. Mungkin ada binatang apa masuk ke dalam tenda gitu. Tapi tidak ada apa-apa. Saya berbaring lagi.

Kresek kresek kresek!!
Adooooh. Bangun lagi, melihat lagi. Tidak ada apa-apa (lagi).
Saya berbaring lagi.

Posisinya, kepala saya ada di dekat pintu tenda. Dan pintu tenda dibuka. Saya melihat ke atas, ke rimbunnya pohon besar di atas kepala saya. Seperti ada yang menggantung. Tapi, hmmm, ah mungkin salah. Saya kan nggak pakai kacamata.

Itu adalah malam terlama saya tidak bisa tidur saat berkemah. Biasanya jam 11 saya sudah tidur dan ini hingga jam 3 pagi, saya masih terjaga.

Esok paginya, kami kaget dengan berita dari Mas Rio.

Pulau M ternyata adalah pulau yang dipakai untuk evakuasi. Jadi tanah lapang yang ada di depan dermaga itu dipakai untuk menaruh seluruh mayat! Dan beberapa ada yang dimakamkan di Pulau M, bahkan hingga saat kami berkemah, ada tiga makam di sana!

DUILE!!

Pagi di hari Senin, saat saya masuk kantor, saya tidak berbicara apa-apa, hingga kemudian Devi (dukun di kantor..hihihi) mengatakan, dia melihat ada yang menemani saya tidur malam itu. Dan itu adalah mbak kun ...... ti!! (&$^(*)&^%$&()

Lalu Kamikih dan Kakatete juga melihat ada yang bergelantungan di pohon yang menaungi tenda saya itu. Dan yang bergelantungan itu adalah .... genderuwo. )*^#^*)_*^%%&

Kalejid juga melihat seorang nenek memakai kebaya melihat ke arah kami saat kami sedang makan malam. (*&^$#%&*(&^&

Pelajarannya: Lain kali jangan asal ikut saja kalau diajak berkemah di suatu tempat baru. Cari tahu tentang tempat tersebut tetap harus dilakukan!! Gitu ya Bulaaaan. Jangan mure langsung ikut-ikut saja yaaaa..

Ya .... kecuali kalau mau ditemani kunti sih tidurnya.
Hiiiii....

Senyum dulu ah.. :)

Thursday, October 24, 2013

Terbang ke Pulau Umang..

Pernah dengar nama pulau ini?

Pulau seluas 5hektar ini ada di Pandeglang, Banten. Di websitenya, jarak Jakarta ke Pulau Umang diklaim 183km jauhnya, tetapi ketika kemarin saya berkunjung ke sana, sepertinya lebih ya. :)) Eh tapi saya gagal soal ukur-ukuran sih, satu meter aja saya nggak bisa ngebayangin segimana. Hihihi.


Perjalanan Jakarta - Pandeglang itu sungguh lama. Lamanya sebenarnya bukan karena jauh, tetapi karena jalan sedang diperbaiki. Jadi dari dua jalur hanya bisa dipakai satu jalur; ganti-gantian, tunggu-tungguan, gendong-gendongan, peluk-pelukan, gitu lah. Saya berangkat dari Tanjung Duren jam 5 pagi dan baru sampai Pandeglang itu sekitar jam 2siang dengan dua perhentian:

1. Pos Polisi Cibaliung untuk numpang peepee, dan
2. RM Rhino untuk numpang makan.

Mencapai Pulau Umang (kalau dari Jakarta) bisa masuk jalan tol Kebun Jeruk arah Merak, keluar di Serang Timur. Dari situ lanjut ke arah Pandeglang, Labuan, Tarogong, Citeureup, Cigeulis, Cibaliung, Cimanggu, dan terakhir, berhenti di Desa Sumur. Apa saya ngapalin nama-nama desa yang saya lewati kemarin? Otentutidaaaak! Ini nyontek dari webnya kok. Hihihi. Di webnya dikasih dua opsi rute untuk ke Pulau Umang, tapi saya pakai rute yang di atas ini. :D Perjalanan kali ini saya pergi sama bujendral dan teman-teman dance di apartemen. Umur kami bervariasi mulai dari 25an sampai 65an. Hihihi. Ruame sangat!! Sepanjang jalan diisi dengan karaoke lagu ..... MANDARIN!! Hahahahaha. Saya kaget deh, ada satu lagu Mandarin yang mama saya apal aja donk dan dese bisa nyanyiin full!! Kece sangat!! *kemudian les Mandarin* *anak kompetitip*

Sampai di Desa Sumur itu nanti ada pondokkan untuk ngumpul sekaligus untuk parkir kendaraan dan kamar menginap untuk supir. Perjalanan dilanjutkan dengan naik kapal menyeberang ke Pulau Umangnya. 10-15menit sahaja. :D


Cukup banyak kegiatan yang bisa dilakukan di Pulau Umang. Selain leyeh-leyeh sambil menatap pantai dan berpikir galau tentang kehidupan percintaan, beberapa pilihan olahraga air juga tersedia mulai dari banana boat, donut boat, jet ski, sampai kano. Mau main air tapi nggak mau ikut-ikut olahraga air? Renang-renang cantik aja di kolam pinggir pantainya sambil lihat yang pada main banana boat. Ntar jadi pengen ikutan deh. Hihihi. Selesai main, bisa juga snorkeling. Ada dua spot snorkeling yang ditawarkan: di Pulau Umangnya atau di Pulau Oar (pulau tetangga yang bisa dicapai dengan naik speedboat 8menit!). Hati-hati kalau snorkeling di Pulau Oar ya. Koralnya terhitung sangat dekat dengan permukaan air dan pantai. Jadi kemarin saya bingung gitu, mau ubah posisi ke berdiri pas mau motret teman lagi snorkeling takut kena koralnya, pas mau balik ke pantai juga renangnya aja takut kena koral saking dekatnya. :'(



Di Pulau Umang ini juga kalau malam ada live music. Ihiiiirrr... Teman mama ada yang nyanyi (ho oh, lagu Mandari..teteeep) dan ibu-ibu yang lain pada line dance di depan panggung. Hihihi. Seru sangat!! Saya tadinya mau ikutan ngedance. Tapi sepertinya akan kurang sesuai line dance dengan joget koplo Pantura saya. -_____-

Sedikit kekecewaan dengan Pulau Umang, manajemennya sepertinya kurang baik atau kurang koordinasi atau gimana gitu. Pas selesai snorkeling di Pulau Oar, kami nggak dijemput-jemput donk. Lama banget gitu nunggunya. Mana pula itu jam makan siang. Lapar jendral! Saat ditelpon, pakai ditanya tadi pakai provider mana saat ke Oar. Ya meneketehe!! Wong kami nanti bayarnya ke manajemen Pulau Umangnya kok, bukan ke providernya, jadi ya seharusnya semua pengurusan terpusat lah. Sama halnya dengan pembayaran snorkeling ini. Awalnya kami dikasitahu salah satu marketernya kalau snorkeling ke Oar itu 75.000. Sampai sana, dia bilang harganya Rp105.000 (75.000 untuk sewa snorkel gear dan 30.000 untuk perjalanan speedboat ke Oar). Nah saat bayar, kasir masukkin harga 75.000 aja donk dan itu sudah termasuk trip ke Oarnya. Yaelah bro.. Pegimana dah.. :)))

Tapi weekend ini menyenangkan kok. Saya senang bisa nemenin mama dan teman-temannya liburan. Teman mama lucu-lucu pun. Sampai sekarang saya masih amazed bagaimana Tante Lie Tju, teman mama yang berusia 65tahun itu keukeuh ikut main banana boat dan snorkeling. Dan saat dijatuhkan dari banana boat, badan Tante Lie Tju terbang melewati Shinta sebelum mendarat di air dengan keras. Saya panik dan nanya apa beliau baik-baik saja? Dijawab dengan acungan jempol tinggi-tinggi sambil senyum sumringah bahagia. Hahahaha. Ekstrem!! 


Senyum dulu ah.. :)