Instagram: Ubermoon

Showing posts with label Malaysia. Show all posts
Showing posts with label Malaysia. Show all posts

Saturday, June 14, 2014

Gratisan: Itinerary 3H2M Kuala Lumpur

Untuk beberapa yang (pernah) sekedar bertanya (atau malah meminta) saya buatkan itinerary, ini beberapa itinerary yang mau saya bagi. Gratis untuk kalian. :) 

Bilang apa hayoooo? :p
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Itinerary Kuala Lumpur 3H2m

Hari 1:
Sampai di Kuala Lumpur, taruh barang bawaan di penginapan, menyegarkan diri sebentar lalu menuju Menara Kembar Petronas (monorel turun di Stesen Bukit Nanas disambung jalan kaki ATAU LRT langsung sampai Stesen KLCC). Di KLCC/Menara Kembar Petronas, bisa jalan-jalan, makan, foto-foto di dalam mallnya. :D Malam hari lanjut ke KL Tower, bisa jalan kaki dari KLCC/Menara Kembar Petronas, tapi kalau sudah capek, naik taksi saja karena jalannya lumayan agak menanjak. Hihihi. Kalau sudah sampai Kantor Keamanan di mana kalian bisa beli tiket, tunggu saja shuttle van yang akan membawa kalian ke kaki KL Tower, kecuali kalau mau olahraga, silakan, itu nanjaknya hayuk banget! :))) Selesai dari KL Tower, naik monorel dan turun di Medan Tuanku, di persimpangan samping kiri Tune Hotel (kelihatan jelas kok gedungnya yang merah putih), ada tempat makan di area terbuka gitu. Kebanyakan yang jualan orang Indonesia. Saya rekomendasiin banget Char Kuey Teownya. Penang style dan sampai sekarang, menurut saya, masih yang terenak di KL. Hehehe. :P Selesai makan, kembali ke penginapan dan istirahat.

Menara Kembar Petronas
Kuala Lumpur dilihat dari KL Tower

Hari 2:
Ayo ke Batu Caves (LRT turun di Stesen Sentul), jangan minum apapun yang berpotensi memabukan di pagi hari karena kita akan menaiki sekitar 272 anak tangga - kalau nggak percaya, kalian mungkin akan mengalami apa yang saya alami di sini. Coba juga makanan vegetarian yang ada di kios-kios di depan gua. Kalau kepanasan, segarkan diri dengan kelapa muda yang juga ada di depan gua. Setelah dari Batu Caves, perjalanan bisa dilanjutkan ke Bukit Bintang atau Central Market. Dua-duanya tempat belanja. Saya pribadi lebih suka ke Bukit Bintang. Central Market lebih kayak ITC dan kualitas barang-barangnya lebih kurang, tapi untuk yang mau beli grosiran, cocok banget ke Central Market ini. Makan malam di Jalan Alor, Bukit Bintang, recommended banget! Bukit Bintang bisa dicapai dengan Monorel, turun di Bukit Bintang. Central Market bisa dicapai dengan LRT, turun di Pasar Seni.

Pelataran Batu Cave
Batu Cave

Hari 3:
Hari ketiga ini santai-santai saja sambil menunggu pesawat balik. Kalau masih ada setengah hari, datang lebih cepat saja ke Bandara klia2. Selain lebih nyaman karena sudah mengatasi lalu lintas kota, juga karena di dalam bandara ini ada shopping mall besar! Jadi bisa jalan-jalan dulu dan beli oleh-oleh jika ingin. Hehehe. :)

Sekian itinerary gratisannya. Ya kalau ada yang kurang maaf ya; kalau ada yang salah, beritahu saya. Kalau kurang pas, silakan diubah susunannya sesuai rute jalan-jalan yang diinginkan. :) Hihihi.

Terima kasih.. :)
Senyum dulu ah.. :)

Monday, December 23, 2013

Langkawi.. Permata Kedah..

Hola hola!!
Saya sebagai blogger terajin abad ini mengucapkan selamat datang kembali di blog sendiri hai diri.. Hihihi..

Maaf ya lama tidak update blog. Banyak panggilan ngedangdut di kampung sebelah sampe yampun semua kostum manggung ngendon di laundry kiloan. :')

Anyhoo, pernah dengar nama Langkawi?

Langkawi adalah bagian dari Malaysia, letaknya di Kedah. Menyandang nama Permata Kedah (The Jewel of Kedah), seyogyanya Langkawi ini terkenal ya. Nyatanya, errr, saya kali yang kurang kece karena kebanyakan manggung maklum artis, saya nggak familiar dengan nama ini. Hihihi. Saat kemarin ikut cruise dan salah satu setopan (setopaaaaan...loe kira Mikrolet?!) di Langkawi, mulai lah saya Googling tentang Langkawi ini. Bujendral ternyata sudah pernah ke sana.

Saya: Ma, di Langkawi ngapain aja ya kita 5jam?
Bujendral: Mama dulu udah pernah ke sana, Dek! Belanja aja!
Saya: Ha? Belanja? Terkenal pusat belanja gitu di sana, Ma?
Bujendral: Iya! Mama sih dulu ke sana belanja. Belanja sendok sama garpu.
*kemudianhening*

NGAPAIN KE SANA BELANJA SENDOK DAN GARPU COBA??
*jorogin mama ke Mas Ryan Gosling* Hih!

Setelah Googling, akhirnya kami akan ke Kulim Geoforest Park dan naik Langkawi Cable Car! Woohoo!! Mari!!

Kami berhenti di Langkawi dari jam7pagi dan harus kembali sampai kapal jam12siang. Jadi hanya punya waktu 5jam sahaja. Hehehe. Turun dari kapal, kami langsung deal dengan taksi untuk menuju Kulim Geoforest Park karena hanya tempat itu yang sudah buka pagi-pagi. Secara umum, kehidupan baru dimulai jam10pagi di Langkawi. Nggak kayak di Bekasi, dulu jaman masih tinggal di Bekasi, jam4pagi saya sudah bangun dan nyeret badan ke kamar mandi. Hihihi.

Perhentian pertama: Kulim Geoforest Park. Hutan ini dikatakan tempat wajib kunjung kalau ke Langkawi. Belum ke Langkawi kalau belum menginjakkan kaki di Kulim Geoforest Park! :D Di sini kita bisa masuk ke gua kelelawar yang ya-Tuhan-baunya-luarbiasa-itu-gua-saya-sampai-nahan-napas-banget, huhuhu. Guanya lumayan panjang dan ada dua. Dua-duanya bau sih tu saya kasih tahu aja. Hahaha. Sayangnya, karena nggak ada pemandu yang ikut dan saya nggak bawa lampu, jadi ya udah ga keliatan lah itu di mana kelelawarnya. Tapi demi bau yang menyengat, sudah pasti ada kelelawar dalamnya. Cungguh!

Setelah dari gua kelelawar itu, kita akan diantar ke tempat peternakan segala binatang laut. Bisa megang ikan pari juga di sini yang mana saya serahkan tampuk pemegangan ikan pari tersebut ke bujendral saja dan pegang beberapa binatang lainnya. Ya lumayan lah. Ga bisa dikatakan spesial menurut saya sih. Hehehe. *peace*



Lalu perjalanan di Kulim Geoforest Park dilanjutkan ke tempat yang kata mamangnya adalah 'We see eagle.'. Hoooo, eagle...yayaya..WAIT WHAT IS THAT??

OMG, untuk bagian ini, saya akui, luar biasa. Jadi kami dan pengunjung lainnya akan tetap ada di kapal masing-masing (seperti kapal kecil yang dipakai island hopping kalau di Kepulauan Seribu) sementara salah satu awak kapal akan melemparkan daging dan WUSH elang buesar buanget terbang kencang, menukik, dan langsung menyambar tu daging dengan sukacita! Me and bujendral = bengong in awe! Hahaha.

Selesai dari Kulim Geoforest Park, kami lanjut ke salah satu tempat beli suvenir untuk lihat-lihat. Kain batik -daster batik - dress batik - kemeja batik - syal batik -peralatan membatik, sepatu ba....ah sudahlah, melengos ke luar. Hahaha. Perjalanan dilanjutkan ke Telaga Tujuh.

Pak supir taksi bilang, menuju Telaga Tujuh perlu hiking 15menit dari gerbang masuk. Saya lihat ke bujendral, wondering apakah beliau siap? Turun taksi, jalan masuk gerbang kemudian melewati dua kios dan "Dek, udah yuk, ga usah lah kita ke sini, nggak pake sepatu hiking juga.", kami pun berbalik badan masuk taksi lagi. Hahahaha. Lanjut ke Langkawi Cable Car, what is said to be the highest cable car in Southeast Asia, jam sudah menunjukkan pukul10.30 sementara kami harus sampai kapal lagi jam12siang dan perjalanan dari tempat cable car ini ke pelabuhan memakan waktu 1jam. Setelah diskusi enam bulan, maka kami bersikap bijaksana dengan turun taksi, foto di depan gerbang cable car, lalu masuk taksi lagi. Hahaha.


Bujendral ingin banget makan Roti Canai dan pak taksi pun mengantar kami cari roti canai kampung. Di dekat pelabuhan ada jalan kecil dan tadaaaa, satu restoran roti canai sederhana ada di situ. Saya makan roti canai plain sementara bujendral coba roti canai fussion dengan daging dan saus lada hitam. Ga sampai 6menit, bujendral udah mblokek-mblokek makan tu roti canai fussion sementara saya malah nambah, makan dua porsi roti canai plain. Dudududu. :))))

Jam 11.50 kami sampai di kapal lagi. Pas banget langsung masuk lalu bersantai di kabin. Phew. 5jam di Langkawi tu kejar-kejaran euy. Ga banyak yang sempat dinikmati. Tapi sempat melihat momen matahari terbit di pinggir pelabuhan Langkawi saat kapal baru merapat, saya tahu kenapa tempat ini menyandang gelar Permata Kedah. :) Lihat deh foto di bawah ini: cantik ya.. :')

Senyum dulu ah.. :)





Bonus:
cantik ya..
*kemudian dikeplak*


Monday, January 14, 2013

Colmar Tropicale - Pahang

Pas saya update DP BBM dengan foto saya sedang berada di tempat ini, banyak yang langsung nanyain itu di mana. Some mengira saya lagi di Eropa, yang mana sebenarnya bisa aja saya iyakan, cuma saya kurang total aja, harusnya sekalian pake kaos tebal, jaket, scarf knit, topi, dan boots. Sesuai deh. Hihihi. Tapi, kalau saya memaksakan diri memakai itu semua, sudah pasti saya akan keliatan lepek karena kepanasan. Ini Malaysia, Bung, bukan Eropa. Hahaha.


Colmar Tropicale ada di daratan tinggi Bukit Tinggi, Pahang. Saya tahu tempat ini pertama kali dari Miu dan Mbak Wulan yang mau ke sana saat liburan bersama kemarin. Saya sempat tergoda tuh, cuma karena memang nggak ada budget lalala yeyeye untuk jalan, jadi lah saya memilih untuk ga jadi ikut. Tapi saya sempat google tempat ini dan janji, suatu saat nanti saya akan ke sana.

Suatu saat itu terjadi ketika kemarin extend di Malaysia. Saya tadinya mau ke Perak, tapi berubah haluan karena boskece, Jovita, yang mau ikut saya lebih keliatan sumringah kinyis kinyis pas lihat gambar-gambar Colmar. Hahaha.


Banyak yang bilang di Colmar membosankan. Oh well, pas sampai sana, kalau bawa anak kecil atau kalau sukanya ada objek wisata tertentu, Colmar emang jauh dari kebisingan. Di satu titik ada kastil utama dengan perkampungan Prancis kecil di dalamnya. Hotelnya ada di kastil ini. Kampung Prancis itu isinya toko-toko dan resto. Kami sempat makan di sana, makanan saya sih enak ya, saya pesan Pho. Nyoba prawn mee-nya Rudy juga enak. Tapi asam laksanya rasanya agak anyeh. Hehehe. Pas kami asyik makan, brassssss, ujan deres. Hahaha. Jadi lah selesai makan malah kami ngobrol ini itu ksana kemari dan main truth or dare dengan korban pertama (dan satu2nya) adalah Jovita. Hahaha.


Dari kastil, kami ke Japanese Village. Di Japanese Village ini bisa menyewa kimono untuk berfoto. Japanese Village ini enak, adem, tenang, tentrem, gemah, ripah loh jinawi. Segar lah. Jalan ngikutin path-nya yang muter dan nantinya kembali ke awal juga udah cukup, cukup capek! Bahahaha.

Sebenarnya masih ada beberapa tempat lain, ada mini zoo yang isinya bunny wobbit!! Ada adrenaline field juga, bisa flying fox (oh, I'm a foxie remember, cuma di sini mahaaaaaal flying foxnya.. 78ringgiiiit.. Huhuhu), bridging, dll. Tapi karena keterbatasan waktu dan hujan, kemarin jadinya cuma ke kastil dan Japanese Village.

It is surely not a place for a super active person, yang maunya di satu tempat ada semuanya, ada mainan, ada wahana, ada banyak hal yang bisa dilakukan lah. No. That's why, maybe, for some people, it is boring.

Tapi saya sangat menikmati waktu saya di sana. Bisa leyeh-leyeh, refreshing lihat yang segar-segar, menghirup udara bersih, bersantai, khas wisata orang tua lah. Buahahaha. *Eh, why did I write that?!* :)))))



Pilihan lain untuk yang mau ke KL dan wisata melipir sedikit ke luar kota. :) Satu jam saja berkendara. :) Yuk!


Senyum dulu ah.. :)

Sunday, January 13, 2013

Supir Taksi Idaman di Malaysia..

Hari kedua di Malaysia, hari extend kami, grup terbagi dua. Satu ke Genting, satu ke Colmar. Colmar?

Yup! Colmar Tropicale.

Tempatnya di Pahang.
Di klik aja di nama di atas and you go straight to its website. :D

Ke Colmar ini bisa naik shuttle bus dari Berjaya Hotel (di Berjaya Times Square), harga PP 55ringgit. Sayangnya, saya yang salah, ga prepare dulu. Pas dibilang "Or you can come straight to our office and obtain the ticket there." di email, saya ho-oh ho-oh aja dan memutuskan langsung go show. Saya juga lupa bilang ke Jovita, Caesar, dan Rudy, kalau sudah di-warn untuk datang sejam sebelumnya sementara sikembar (Caesar dan Rudy maksudnya, kenapa kembar? Krn Caesar sebenarnya dipanggilnya Yudy, cuma karena saya suka salah nyebut ke Rudy, jadi sekarang dipanggil Caesar aja. Hehehe. Bingung ga? :D) bangunnya telat. Jadi kami mepet banget sampai di Berjaya Hotel itu nearly 10min before the bus go daaaaaaaaaaaaaannn BUS SUDAH PENUH!! Okesip!! :((

Sempet lama tu ngendon di lantai 8, di depan officenya sambil nelpon call center Colmar di Berjaya Hotel (namanya Diana, and she's of a BIG BIG help!! Baik dan sabar banget!!). Pilihannya kemudian adalah naik teksi. Mata uda melotot sambil muter aja mikir berapa duit ke sana kalau naik teksi. Huhuhu. Diana dapat harga 300ringgit PP. Huaaaaaaaa.. Atutedih... :((

Kami akhirnya ke bawah, mau coba cari taksi sendiri dan nawar, siapa tau bisa dapat lebih murah dari 300ringgit. Padanannya adalah, kalau kami naik shuttle bus, per orang 55ringgit kan jadinya berempat 220ringgit. Nah pengennya ga jauh-jauh dari itu lah. Hehehe. *pedit* *bodo* :p

Pas depan lobi, nanya security di mana bisa ambil taksi, pas banget ada taksi lagi nurunin penumpang. Kata securitynya, boleh kalau mau naik dari situ, deal sama supir taksinya di lobi. Ah, baiknyaaaaaa.. And Lord, I never knew it was such an amazing day.

Perkenalkan...

Supir taksi kami: Pak Azmal. Orang Indonesia. Tapi dari tahun 70-an sudah tinggal dan bekerja di Malaysia. Bahasanya Indonesia Medan. Jadi melayu-melayu gitu. Istri dan anak-anaknya ikut tinggal di Malaysia. Anaknya bahkan dapat beasiswa dari kerajaan Malaysia karena pintar!! Ia pulang ke Indonesia dua tahun sekali. Orangnya ramah, sopan, dan yang terpenting, jujur. Oh, not to mention, he's caring.

Dan dengan bangga saya umumkan, kami berempat, naik taksi, Pak Azmal nungguin, PP = 220ringgit saja!! SAMA ma naik shuttle bus. Hahaha. Pas di jalan, sambil ngobrol, baru sadar. 220ringgit itu 660ribu rupiah loh. Weeheeeee, kapan lagi naik taksi 660ribu ha? Hahaha. Tapi ya karena bandingannya shuttle bus, jadi ini udah harga yang kece marice banget!! Pak Azmal juga bawa mobilnya enak. Nyaman. Mobilnya juga masih bagus. Senang lah.

Keuntungannya jalan sama Pak Azmal, karena hujan dan keasikan ngobrol dan foto-foto santai, kami ketinggalan shuttle untuk ke Japanese Village di dalam komplek Colmar. Jalan kaki ya uda pasti gempor!! Jadi tut tit tat tit tut, "Halo, Pak Azmaaaaalll.. Kite nak ke Japanese Village ni. Sudah ketinggalan shuttle. Tolong Pak Azmal kemari dengan kereta ya. Di tempat drop tadi." satu menit kemudian Pak Azmal datang dan kami cuss ke Japanese Village lagi naik taksi. Hahaha. Jadi santai lah, ga keburu-buru waktu. Bisa nikmatin waktu ngobrol berempat, ketawa ketiwi, luncat-luncat, foto-fotoan, joget-jogetan, jorog-jorogan.

Di perjalanan pulang, kami semua tidur saking capeknya (heeeey, Japanese Village itu naik ke atasnya lumayaaaan!! Ngiterinnya apa lagi!! :p), dan Pak Azmal tetap nyetir dengan baik, aman, dan nyaman. Berhenti sebentar di Hotel Istana karena kami mau ambil barang-barang dan anter kami ke Tune Hotel untuk menginap di malam kedua. He's such a darling.

Esoknya, saya nelpon Pak Azmal lagi, minta dijemput jam setengah dua (kata Pak Azmal, "Setengah dua itu pukul satu setengah ya?" Hihihi), pesawat kami akan take off jam 16.40. Kami mau makan pagi dan jalan-jalan di Bukit Bintang dulu. Dan saya terharu, sekitar setengah jam dari saya menelpon Pak Azmal, beliau nelpon saya lagi, memastikan pukul satu setengah jemput di Tune Hotel dan kemudian menanyakan..

"Sudah makan pagi belum?"
"Sudah, Pak. Ni kami semua sedang makan pagi bersama-sama."
"Oh, makan pagi di hotel?"
"Enggak Pak, kami ke Bukit Bintang ni. Makan pagi di sini."
"Oh ya oke.. Saya nak tanya itu saja. Bagus kalau sudah makan pagi."

Aaaaaaa, perhatian banget!!! Syenang!!

Terserah deh pikiran orang 'ya itu dia nanya gitu karena mau nawarin kalau belom makan pagi, dia jemput, bayar taksi lagi...', terseraaaaah. Tapi menurut saya, dia menelpon untuk memastikan kami sudah makan pagi saja, itu sudah pelayanan yang luar biasa.

Pak Azmal datang tepat jam setengah dua, datang dengan dua taksi lagi sesuai pesanan. Semua drivernya orang Indonesia. Saya ga sempat nanya sama teman di taksi lain, bagaimana driver di taksi mereka, tapi semua jujur pakai argo. That would be enough. :) Oh, karena dibagi 3 taksi, Caesar ikut taksi di belakang, jadi di taksinya Pak Azmal cuma saya, Jovita, dan Rudy aja. Pak Azmal perhatian banget pake nanya, "Gondrong (Caesar maksudnya) mana?". Hahaha. Pas mau berangkat, Pak Azmal memastikan seluruh rombongan (kami bersembilan btw) sudah naik taksi dulu. Beberapa kali saat di jalan, saya lihat Pak Azmal cek ke rear mirror untuk ngecek keberadaan dua taksi di belakangnya. Kami tiba dengan selamat sampai di bandara, dengan kebapakan, Pak Azmal ngasih tau "Masuk sini, lalu nanti ke kiri ya.." as if kami anak-anaknya yang masih kecil dan baru sekali menginjakkan kaki di bandara. Hihihi. Kebapakan banget!!

Senang lah. Sekarang punya supir taksi idaman kalau di KL. Jadi nanti kalau ke KL lagi, tinggal telpon Pak Azmal dan dijemput aja langsung dari bandara. Kemana-mana, sama Pak Azmal aja lah. Hehehe.


Senyum dulu ah.. :)

PS: Iya, saya salah, saya lupa banget banget untuk berfoto sama Pak Azmal. :( Nanti ya, kalau ke sana lagi, pasti foto bareng. Hehehe.

Friday, January 27, 2012

Makan enak di Melaka..

Perjalanan kali ini memang menaikkan berat badan saya (lagi) sekitar dua kilo. Not to mention kulit yang semakin menghitam sampai-sampai kalau sekarang saya pake baju agak kaget sendiri dengan kontrasnya warna baju ke kulit saya. Dan mineral foundation yang biasa saya pakai membuat wajah saya kayak pake topeng saat memakainya, saking beda levelnya jauh. Hehehe. Tapi gapapa, yang penting happy. Hihihi.

Melaka gudangnya makanan enak. Itu saya akui. Hari pertama di Melaka saya dan Silka makan Chicken Rice di tempat yang direkomendasikan uncle sebagai the best chicken rice in town, yaitu Hoe Kee Chicken Rice. Pelayannya (dan perawat anaknya) orang Indonesia tapi kami tidak ngobrol banyak karena saat kami datang, sesungguhnya tempat ini sudah mau tutup. Dan kayaknya kami diberikan ekstra ayam, sekalian menghabiskan ayam masak mereka. Hihihi.

Rice Balls dan Steamed Chicken di Hoe Kee Chicken Rice

Rasanya, JUARRRA!!

Tempat ini hanya menawarkan steamed chicken karena ternyata, menurut sang auntie,  Hainan Chicken Rice (as we call it) aslinya hanya si steamed chicken itu, tidak ada roasted-nya. Maka Hoe Kee mempertahankan dengan hanya menjual steamed chicken. Beruntungnya kami makan di sana sore itu, karena ternyata besoknya, kami sudah niat makan siang lagi di sana (saking enaknya) tapi TUTUP. Kekekeke. Sudah mau imlekkan auntienya. Hehehe.

Makanan lain yang direkomendasikan uncle di hostel adalah dim sum. Dim sum, seperti seharusnya, dimakan sebagai sarapan. Nama restorannya Low Yong Moh Dim Sum, buka dari jam lima setengah pagi - as uncle said (setengah enam maksudnya..hehehe) dan tutup sekitar jam makan siang. Kami ke sana sekitar jam delapan pagi lalu bingung bagaimana memesannya karena semua menu tertulis dalam Bahasa Mandarin. Kekeke. Suasananya juga cukup hectic, seperti layaknya resto Cina terkenal. Dan pelayannya beberapa tidak bisa Bahasa Melayu maupun Inggris. Selamet deh. :)))

Hmmm.. Nyaho siah!!

Akhirnya saya langsung ke depan dan berbicara Melayu dengan pelayan yang di depan, tak lama auntienya datang dan thank Lord, she can speak English walaupun ga terlalu lancar. Hahaha. Pilihan dim sum diantarkan ke meja dan kami memilih mana yang mau kami pesan. Tidak berapa lama, pilihan dessertnya datang lagi dalam nampan besar dan kami memilih lagi mana yang mau kami makan. Agak bingung juga bagaimana nanti membayarnya karena nenek yang menangani perkasiran ga bisa Bahasa Inggris. Akhirnya kami foto aja yang kami makan, kalau-kalau nanti dia tanya, kami tinggal kasih lihat fotonya. Tapi ternyata tidak, dihitung per piring saja.

Pa!! Sembilan piring yang kami makan, dan satu pot Chinese Tea, plus refill. Hihihi. Semua dim sumnya enak!! Favorit saya yang kayak sushi, dibungkus dengan nori. Enaaaaaakkk!!! Gulp!! *tetiba laper*

Foto bukti apa-apa saja yang kami makan. Hihihi.

Kalau yang ini, direkomendasikan oleh Addy, teman kami di KL. Katanya ini tempat menawarkan rasa asli masakan Melayu. Maka, karena Hoe Kee Chicken Rice tutup di hari kedua, menuju lah kami ke Jonker 88. Saya pesan Baba, Silka pesan Nyonya. Dua-duanya laksa tapi saat dicoba, rasanya beda satu sama lain. Pemakaian mie-nya pun beda. Tempat ini memang sangat penuh, apalagi kalau malam, tapi kalau dari rasa masakan, lidah saya seperti terlalu memberontak. Terlalu asam. Tapi mungkin memang sesungguhnya seperti itulah (seharusnya) rasa masakan Melayu. Hehehe.

Baba

Nyonya

Pineapple tart adalah makanan khas dari Melaka, katanya. Penasaran doooonk. Kami coba pineapple tart di salah satu toko terbesar di pojokan jalan, gigitan pertama, Silka langsung sibuk nanya "Gimana gimana?? Enak ga??" Dan saya sambil cengengesan menjawab "NASTAR!!" Hahahaha. Pineapple tart turns out to be nastar. Dan untuk rasa, bikinan Tante Lik jauh lebih enak. Hehehe.

Pineapple Tart A.K.A Nastar! Hihihi

Es Cendol Duren juga dikatakan adalah khasnya Melaka. Kami mencobanya, satu berdua, kamu udek-udek untuk melihat isinya dan LHAH, durennya manaaa?? Penonton kecewa. Hahaha. Ternyata durennya sudah diolah menjadi esnya, beda dengan es duren yang ada di Bandung yang menaruh buah durennya bulet-bulet ke dalam gelas, ini sama sekali ngga ada penampakan si duren. Dan rasanya pun tidak terlalu wow. Masih kalah sama abang-abang es duren Cihampelas lah. Hehehe.

Es Cendol Duren

Es Cendol Clock Tower. Ini juga rekomendasi uncle. Kami kira si Es Cendol Clock Tower ini di satu gedung yang sama dengan si es cendol duren, ternyata eh ternyata tidak sodara-sodara! Es Cendol Clock Tower ini hanya menempati satu kedai di pinggir jalan, dan makannya di belakangnya, di pinggir sungai Melaka. Kami datang sore, sudah habis. Datang esok paginya, belum ada. Akhirnya muter-muter dulu dan kembali lagi. Kali ini Puji Tuhan, sudah ada. Pilihannya pake pulut atau kacang (merah). Saya pakai pulut, Silka pesan yang pakai kacang.

Ini yampuuuuun, enak bangeeeeeeet!!! Sederhana dan nikmaaaaaaaat!! Gulp!! Rasanya segar, cendolnya halus, dan pulutnya pas, tidak terlalu banyak jadi ga eneg. JUARRA!! Penjualnya juga ramah. Ternyata dia pernah tinggal lama di Bandung dan sempat menyebut Cendol Elisabeth. Saya dan Silka jadi cekikikan berpikir, jangan-jangan resep cendol enak ini asalnya dari Cendol Elisabeth di Bandung. Hihihi.

Cendol Clock Tower. ENAK!!

Portuguese Egg Tart. Sudah lama saya tidak makan makanan dewa ini. Nyari di Jakarta tidak ada yang sesuai, aneh semua gitu rasanya. Hihihi. Nah ternyata, di Melaka banyak yang jual. Kami mencoba beli satu tapi tidak suka karena rasanya aneh. Adonannya beda, bukan pake pastry lapis-lapis tipis (opo iki jenenge??) di sekelilingnya, tapi pake adonan kayak si pineapple tart). Untung cuma beli masing-masing satu, jadi gampang abisinnya. Hehe. Nah di tempat yang sama juga jual dim sum. Kita bisa pilih sendiri dim sum apa aja yang mau kita makan. Nah dim sum-nya cukup enak walaupun ngga seenak yang punya Low Yong Moh. Hehehe. Selesai putar-putar malam itu, kami melihat lagi ada yang jual egg tart dengan tampilan yang lebih mumpuni. Nah ini bener deh pake pastry lapis-lapis tipis itu, tapi ga mau terkecoh, kami beli yang kecil saja lalu memakannya di kafe. Tidak sempat difoto juga, uda keburu masuk perut. Hahaha. Rasanya lebih enak dari egg tart pertama tapi tetap tidak bisa mengalahkan egg tart-nya Margaret e Nata di Macau. Hehehe.

Portuguese Egg Tart Ala-ala.. :(

Kayaknya sudah deh, itu saja tertuduh utama naiknya berat badan saya. Hihihi. Sampai sekarang, melihat fotonya saja, saya masih pengen tu si Hoe Kee Chicken Rice dan Es Cendol Clock Towernya. Ahahaha.

Yang sudah pernah ke Melaka, ada nggak rekomendasi makanan lain di sana yang belum masuk post ini? Mau coba!! :D


Senyum dulu ah.. :)

Fotogeniknya Melaka..

Ingat bahwa seperempat hati saya tertinggal di Macau? Yang sampai sekarang belum saya ambil-ambil juga. :) Dan sekarang, seperempat hati lainnya tertinggal di Melaka.

Melaka, kota kecil yang saya tempuh dengan dua jam perjalanan bus membuat saya terperangah. This is a photogenic lil heaven. Kotanya benar-benar kecil kami berjalan kaki kemana-mana. Pusat wisata budaya tersentralisasi di Dutch Square dengan gedung-gedungnya yang berwarna merah marun. Pusat kuliner, belanja, dan hiburan tersentralisasi di sebuah jalan panjang penuh dengan toko-toko di kiri dan kanan jalan di Jonker Street.



Ketika kami sampai hostel, belum masuk kamar, uncle mengeluarkan sebuah peta fotokopi dan menghighlight tempat-tempat yang menurut beliau wajib kami kunjungi serta beberapa tempat makan yang patut direkomendasi. Saya langsung semangat!!

Banyak gereja, and you know how I'm crazy about church, right? Give me a lil city with many churches and I'm in heaven. Hehehe. *lebay* Di Melaka juga ada beberapa gereja tapi kalau dilihat bagian dalamnya, interior gereja-gereja di Melaka jauh di bawah interior gereja-gereja di Macau sih. :p Saya tidak masuk ke gereja-gereja tersebut karena, first of all, cuaca sangat panas dan saya pakai celana pendek dan ternyata gereja-gereja di Melaka ini cukup ketat karena tidak membolehkan orang bercelana pendek masuk. Hehehe. Akhirnya saya melihat ke dalam Christ Church dari luar saja, biasa banget. Tidak menimbulkan perasaan 'hooooh..huhuhu' di dalam diri saya. Hehehe.


Ruins of St. Paul sudah pasti justru yang membuat saya merinding ingin meringkuk dan berdoa. Tapi tidak, tidak saya lakukan karena kan ini reruntuhan juga gitu, dalamnya juga sudah jadi makam. Saya jadi berpikir dan mau nanya ke romo, kenapa semua reruntuhan itu adalah gereja dengan St. Paul sebagai pelindungnya ya? Hehehe. Yang di Macau juga kan Ruins of St. Paul. What's wrong with St. Pauuuulll?? *berdoa moga-moga ga dikeplak romo nanti pas nanya*. Hehehe.



St. Francis Xavier Church sudah berbentuk seperti gereja modern. Saya juga tidak masuk karena kan masih pake celana pendek yang sama. Hahaha. *cengengesan*


Porta de Santiago (oke, ini emang bukan gereja deh..hihihi), turns out to be JUST a lil fort. Benteng yang kecil  sekali tapi bertengger manis dengan rumput hijau dan bunga berwarna-warni di belakangnya. Saat saya mengarahkan kamera ke awan di atasnya, saya terperangah lagi, gee, photogenic sekali. Perpaduan antara batu-batu dengan birunya langit, putihnya awan, dan bias matahari itu teeheehee, cantik.



Jadi kalau wisata rohani, saya jauh lebih menyukai Macau. Tapi jangan sedih, Melaka menawarkan lebih dari sekedar gereja. Ini adalah kota kecil dengan keramahan dan keaslian penduduknya. Kota kecil yang tidak terlalu penuh, masih nyaman untuk berjalan-jalan, dan beritme santai tapi tetap berdetam hidup.

Melaka is a photogenic lil heaven.. :) Let's see how I live with a half heart only. And let's see how long will I bear not to take my quarter here in Melaka. This city is just a baby to me. :)


Senyum dulu ah.. :)

Thursday, January 26, 2012

Batu Caves..

Jadwal hari itu harusnya kami ke Genting Highlands, tapi lalu saat makan bersama, host di hostel mengatakan tidak sebegitu pentingnya ke Genting kecuali kalau kami akan ke casino atau memang niat main di theme parknya. Niat main sudah pasti gugur karena kami memang tidak niat dan saat itu waktu sudah jam setengah dua belas. Casino?? Oh well, udalah backpacker, duit mepet, masa iya nekat gambling. Hihihi. Akhirnya diputuskanlah kami akan ke Batu Caves, instead. :)

Sekitar jam setengah satu, kami jalan menuju Pudu Raya Central Station yang lalu ditolak mentah-mentah karena bisnya bukan dari situ (hihihi) dan jalan lagi menuju Lebuh Pudu. Naik bis, Silka langsung tidur. Hahaha. Silka ini pelor abis, nempel molor. Waktu naik LRT, saya sempat bilang "Sil, aku mau tidur dulu ya, nanti kasitauin aku kalau uda sampe.." lalu ia menampakkan wajah cengengesan dan saya langsung sadar. Lhah, besar kemungkinan malah dia yang akan tidur duluan daripada saya gitu. Hahahaha.

Satu jam di bis dan kami pun sampai. Sampai dan kami langsung......MAKAN. Buahaha. Lapeeerrr.


Kami makan di resto India dan karena saat itu saya mau yang berkuah hangat, jadilah saya memesan Maggi Soup yang di gambarnya terlihat yummy!! Tunggu punya tunggu, saat datang, saya melongo. Lalu cengengesan bodoh. Perkenalkan sodarah-sodarah, Maggi Soup adalaaaaaaah MIE INSTAN REBUSSS!!! Hahahahaha.. Yasalam. *tepokjidatBulan* Kenapa juga lupa kalau di Malaysia, Maggi itu merk yang cukup terkenal semacam Indomie. Hihihi.


Selesai makan, kami bersiap naik. Dua ratus tujuh puluh dua anak tangga untuk mencapai gua batu di atas. Saya naik sekitar dua puluh anak tangga, menggeh-menggeh, dan saat saya berbalik mau melihat pemandangan dari dua puluh anak tangga yang sudah didaki itu tiba-tiba 'yeeengggg' saya merasa pusing yang teramat sangat. Saya tahu saya bisa tetiba jatoh ni karena rasa kliyengan itu. Saya kasitau Silka tentang rasa kliyengan ini dan akhirnya berjalan naik dengan memegang tangan Silka. Silka sampai bilang "Aduh, aku ni sama kamu ke sininya kok naik tangganya jadi berasa sama Ibu Kissumi begini.." Hahaha. Siaul!! Saat itu saya ga tahu juga ya kenapa saya bisa sekliyengan itu, bener-bener kalau balik badan dan melihat scenerynya saya langsung pusing.

Tapi akhirnya dengan keberadaan Mbak Silka, saya selamat sampai di atas dan turun lagi. Pas turun, kami melangkah sama-sama, saya tidak boleh melihat pemandangan luas di bawah, jadi hanya melihat anak tangga saja dan Silka mengucap "Kiri..Kiri..Kiri kanan kiri.." kayak pas lagi gerak jalan gitu biar saya tetap fokus. Dan saat berhenti, saya langsung balik badan dan melihat atas supaya tidak pusing lagi. Begitu terus sampai bawah. Hehehe.

Ini pemandangan dari sekiar 20 anak tangga itu..

Nah ini pemandangan anak tangga yang harus kami daki lagi..

272 anak tangga.. Yiuuukk!!!
Batu Caves sendiri adalah gua besar yang diisi dengan berbagai alat devosi umat Hindhu India. Guanya besar, bertingkat dengan batu yang ah, megah. Saat kami datang, suasana sedang sedikit lebih ribut karena sedang persiapan untuk Thaipusam yang akan diadakan awal Februari nanti. Gua ini megah tetapi susah membagi ke-majesty-annya karena kamera tidak mampu menangkap itu. Memang benar harus mengalaminya sendiri (termasuk mengalami naik 272 anak tangga itu. :p).

Selesai dari Batu Caves, kami pulang, Silka ya uda pasti langsung tedor pas di bis. Saya asik melihat kiri kanan sambil berpikir kenapa saya tadi bisa sepusing itu, padahal biasanya engga. Sampai kemudian saya jot down beberapa kemungkinan yang bisa membuat saya pusing.

1. Kelelahan karena naik tangga.. Darah rendah??
2. Pemandangan BYAR yang melihat jauh tanpa ada pagar pembatas di sekeliling saya mungkin membuat saya merasa kurang aman jadi langsung deg-degan dan kliyengan..
3. Pemandangan gua batu yang menjulang tepat ketika saya melihat ke atas membuat saya merasa 'whoaaaa' dan kayak terintimidasi gitu.. <-- oke ini uda mulai drama..
4. Saya kurang makan.. <-- lah Maggie Soup tadi apa Bulaaaaan???
5. Saya minum vodka juice paginya saat sedang ngobrol-ngobrol sama teman-teman di hostel..

Dari lima kemungkinan itu, saya ngga tahu pasti mana yang menyumbang ke kliyengan saya. Tapi pelajaran yang bisa saya ambil: Don't drink vodka in the morning and Maggi Soup is just a mie instan rebus.. *teteeeeep* Hihihihi..



Senyum dulu ah.. :)

Wisata di Peta KL..

Melihat peta wisata yang diberikan percuma (gratis maksudnya, percuma is gratis in Melayu Malaysia) di bandara, saya langsung senyum-senyum sendiri. Di petanya, banyak sekali hal-hal yang 'sepertinya' bisa kita lihat, KL tetiba (kalau ini bahasa twitter, bukan Melayu Malaysia) jadi area kecil yang penuh wisata budaya (dan lingkungan). Tapi lalu saya cengengesan ke Silka dan berkata "Ini Malaysia tries too hard untuk punya hal wisata ya?" Silka langsung angguk-angguk setuju.

Kenapa saya bilang begitu? Karena di petanya ada gambar pohon-pohon dan ada namanya di bawah gambarnya lengkap dengan berapa (kira-kira) usia pohon itu. Hihihi. Jadi ada gambar pohon dengan nama "Banyan tree 80 years old" dan ada gambar lain dengan nama "Half a century old Ketapang Trees". Hihihi.


Saya mungkin bisa cengengesan karena faktanya di Indonesia banyak sekali pohon-pohon yang berusia sama atau bahkan lebih tua dari yang ada di KL ini, tapi ya pohon-pohon ini ngga masuk ke peta (oh wait, emang Indonesia punya peta wisata gitu??), dan saya ngga tahu apa para wisatawan bule memang suka datang dan nyusur jalan untuk melihat pohon berusia delapan puluh tahun teronggok diam di pinggir jalan. Hehehe. -__-"



Senyum dulu ah.. :)

Bahasa Malaysia dan Indonesia..

"I wonder, do you understand Malaysian language because I feel that it's pretty similar with your Bahasa."

Itu pertanyaan dari teman satu hostel yang saya lupa namanya. Jawaban saya adalah "No. Not that easy. I need time to digest what they're sayin for sure. Hihihi."

Bener deh, kalau membaca tulisan dalam Bahasa Melayu Malaysia, mungkin saya masih ngerti ya, tapi kalau mendengar langsung (apalagi kalau diucapkan dengan cepat), saya beneran bengong. Saya pernah nonton AFC dengan hostnya berbahasa Melayu Malaysia dan sepanjang acara saya mencoba membuat diri saya mengerti apa yang orang ini bicarakan. Hasilnya, nol besar. Saya langsung ganti channel. Hahaha.

Orang Malaysia bisa menyambung bahasa Melayu dengan bahasa Inggris dalam satu kalimat back and forth. Seperti: So, later you lihat signboard kita yang show arah jalan di round point, nah putar lah ke left lalu nanti nampak ka Shell and bejalan sikit dan Maybank ada lah tak jauh."

TIGA DETIK saya mencoba mencerna itu. Itu pun dibantu dengan arah tangan yang dia tunjukkan. Hahaha. Tapi lalu tiga hari saya di KL, seperti biasanya saya yang cepat mencerna dan mengikuti bahasa lokal, saya langsung bisa berbicara yang mereka mengerti dan mengerti yang mereka bicarakan. Tapi itu malah jadi bumerang ketika kemudian saya sampai di Singapore karena Bahasa Inggris saya jadi patah-patah dan saya jadi mencampur Bahasa Inggris dengan Bahasa Melayu, lalu menertawakan diri saya sendiri. Hihihi. Oh Lord.. :)))







Lalu jika Bahasa Melayu Malaysia lucu bagi kita yang orang Indonesia, menurut mereka gimana ya? Ketika saya dan Silka dalam perjalanan dan ngobrol dengan Addy - teman di KL, ini penggambarannya:

Silka: Addy, do you find our language funny?
Addy: Yeaaaah.. Do YOU find our language funny?
Saya dan Silka: YAAAA!!! Hahahaha..
Addy: Apa lah tu sabuk keselamatan. Sabuk keselamatan.
Saya: Sabuk is belt, keselamatan is safety. What about tali keledar?? What is keledar??
Addy: I DON'T HAVE ANY IDEA!!

Buahahahahhahahaha....

See, sama lah, bagi kita bahasa mereka lucu, bagi mereka, bahasa kita ya sama lucunya. Hahaha.



Senyum dulu ah.. :)

Tertula di Kuala Lumpur

Pertama saya membeli tiket Jkt-KL, satu yang ada di pikiran saya. Andre. Hahaha.

Andre teman mengajar dulu di Regina Pacis, we were pretty close dan pernah membahas soal KL ini. Saya (yang dulu) tidak begitu respect dengan Malaysia (karena kasus so-called pencurian kesenian Indonesia dan bla bla bla itu) mengatakan bahwa saya tidak mau lagi menyentuh negara ini, tapi lalu saya ralat, oke mungkin akan menyentuh tapi di bandaranya aja untuk transit ke negara lain (karena helloooo, Air Asia basenya di Malaysia bukaaaan, jadi kalau ke negara-negara di luar Asia pasti transit di Malaysia dulu bukaaan..). Andre cuma senyum-senyum nyebelin saat itu dan mengatakan "Ati-ati, ntar kualat lho Buy.."

Time flies dan JRENG!! Di sinilah saya. At the heart of Malaysia, Kuala Lumpur. Hahahaha.


Apa saya sudah respect dengan Malaysia? Well, tidak bisa dikatakan respect juga, tapi saya sudah menghilangkan rasa tidak respect saya. Itu aja. Membaca blogpostnya Marcel beberapa saat lalu membuka mata saya akan bagaimana mencoba melihat permasalahan Indonesia Malaysia dengan pandangan yang berbeda. So I'm dealin with all of those dan lebih cuek sekarang. :D

KL, I must admit, kinda like this city. Walaupun panas luar biasa (oke, pembandingnya salah ya karena Jakarta juga panas tapi saya sama Opie terus.. Hehehe) tapi jiwanya seperti terus berdetam. Seakan tidak tidur, mengajak saya untuk terus keluar, melihat, mengalami.

Tiga hari di KL saya belum puas, masih pengen balik dan explore lagi. Maybe next time. :)

So, Andre, if you read this post, yes, surely gue kualat. Hahaha. Ketawa aja yang lebaaaaar, yang puaaasss. Gue terima deh duuulll.. :)))


Senyum dulu ah.. :)