Instagram: Ubermoon

Showing posts with label ID: Jawa Tengah. Show all posts
Showing posts with label ID: Jawa Tengah. Show all posts

Tuesday, November 4, 2014

Manjakan Lidah dan Perut di Solo..

Saya bukan tipe pejalan yang senang mencoba berbagai macam kuliner. Selain memang tidak begitu fasih dalam membedakan rasa (rasa makanan biasa saja juga kadang saya bilang enak asal mengenyangkan. Hihihi), konsekuensi dari mencoba berbagai kuliner lokal di daerah yang saya kunjungi itu sungguh berat.

Seperti yang dikatakan Melzop, teman dari #NescafeJourney, tipe badan kami, makan kuaci saja jadi lemak! :'( Hihihihi.

Tapi itu semua berubah ketika kerajaan api menyerang saya ke Solo bersama Kakatete. Sebagai partner dalam #DuoGinuk (eh, kami sekarang punya fanpage sendiri di Facebook, Like dong yah yah yah), kami berusaha menerima dengan legawa bahwa badan kami memang tidak mungkin bisa dipepet hingga ke ukuran 2 atau bahkan 4. Dengan pemikiran seperti itu, saya mengubah pola pikir dari 'yang penting kurusan' jadi 'yang penting sehat dan happy'. Berubahnya pola pikir ini malah membuat badan saya enakkan. Ukuran baju dari 8 - 10 jadi ................................ tetap 8 - 10. Ya setidaknya stabil lah. Bagus kan? KAN? KAN? JAWAB 'IYA'!! *siap-siap melempar lembing beracun*

Saat di Solo, saya benar-benar memanjakan lidah saya dengan berbagai macam makanan khas sana. Pulangnya, hati saya bahagia, perut saya menggelayut manja penuh sukacita, lidah saya bergoyang tanda gembira. Ah, kurang apa coba? :D

Ini beberapa makanan yang saya kejar untuk coba ketika di Solo.

Gudeg Ceker Mergoyudan
Saya nggak tahu apa harus yang 'Mergoyudan' yang enak, tapi saya keukeuh mau mencoba yang Mergoyudan ini sesampainya kami di Solo. Gudegnya beda dengan gudeg di Yogya karena ini gudeg basah. Berkuah dan rasanya pun tidak terlalu manis. Jadi untuk yang sering mengeluh blah dengan manisnya Gudeg Yogya, monggo dicoba Gudeg Solonya mbak, mas. :D

Gudeg Ceker Mergoyudan. Kalau di foto kok kelihatannya horror ya. Hahaha.

Gudeg disajikan dengan pilihan nasi atau bubur. Dilengkapi dengan ceker (cakar ayam) yang tak terhingga banyaknya, tapi kalau kurang, tentu bisa pesan ceker tambahan. Saya suka rasa segarnya. Walaupun bersantan tapi tetap terasa ringan. Gurihnya juga pas!

Gudeg ini buka dari malam hingga pagi. Paginya pagi sekali karena jam 6 pagi biasanya sudah habis! Kemarin saya datang jam setengah enam dan beruntung masih dapat! Gnom gnom gnom!

Nasi Liwet Bu Sri
Ini nasi kesukaan saya! Oke, selain Nasi Tutug Oncom tentunya. Hihihi. Dan Nasi Liwet adalah pilihan makan pagi yang terkenal di seantero Solo. Ya semacam bubur ayam atau nasi uduk di Jakarta, toast di negara barat sana, atau buah segar di rencana diet saya. Cieeee, pencitraan maksimal. Makan pagi buah. Padahal lalu kelaparan, jam sepuluh cari makan lagi buka-buka kulkas kantor. Hihihi. *pukul-pukul sayang perut yang membulat*

Yampun kok jadi lapar? >.<

Nasi Liwet Bu Sri ini berlokasi di seberang Pasar Gede, Solo. Posisinya tidak menghadap Pasar Gede melainkan memunggungi, berhadapan dengan toko akuarium yang besar. Tanya saja sama petugas parkir dekat Pasar Gede, hampir semua tahu kedai minimalisnya Bu Sri ini. :D

Bu Sri sangat ramah melayani dan senang diajak mengobrol. Sayangnya, bagi saya, nasi liwetnya terasa biasa saja. Enak, tapi tidak yang enak sekali. Nasi liwetnya dilengkapi berbagai pilihan lauk tambahan dan saat saya makan di sana, saya mencoba makan lauk uritan untuk pertama kalinya. Uritan adalah bakal telur ayam. Bentuknya bulat berwarna kuning dengan tekstur agak keras dan rasa agak kering. Ini lauk kesukaan Kakatete yang sudah susah didapatkan di tempat lain. :D

Dawet Telasih Bu Dermi
Sudah makan nasi liwet di seberang Pasar Gede sayang sekali kalau nggak masuk ke dalam pasarnya. Selain ada banyak buah segar yang menggoda, di dalam Pasar Gede ini juga ada dawet telasih yang terkenal. Dawet Telasih Bu Dermi namanya. :D

Dawet Telasih.. Kesegaran tiada tara.. :')

Banyak yang menjual dawet telasih di dalam Pasar Gede tapi membaca dari ulasan beberapa orang, saya keukeuh mencari Dawet Telasih Bu Dermi ini. Hihihi. Posisinya ada di belakang jadi setelah masuk Pasar Gede, jalan saja terus ke arah belakang. Tempatnya tidak besar dan jumlah tempat duduknya pun sangat terbatas. Tapi tidak apa, dawet bisa dinikmati dengan berdiri. Macam lagi kondangan gitu. Bihihik.

Dawetnya enak dan super segar! Manisnya pun pas. Isinya ada dawet (cendol), telasih (selasih), bubur sumsum, dan ketan hitam. Kemudian disiram kuah santan dan diberi sedikit gula dan es batu. Ya Tuhan, saya kok jadi mencecap begini. Hihihi. Sluuurp!!

Oya, selain tempat duduk yang terbatas, bersiaplah menghadapi mbak-mbak penjual yang cuek dan jutek ya. Hihihi.

Timlo Sastro
Walaupun ini kuliner yang terkenal di Solo, tapi sesungguhnya waktu itu saya lupa 'memaksakan diri' untuk mencari tempat penjualnya karena sudah terlalu berbahagia mau ke Karanganyar. Hihihi. Pas di mobil, saya minta kami diantar makan apa saja (asal halal, karena ada Ang sodara-sodara!) di Solo sebelum perjalanan ke Karanganyar itu eh kok ya pas banget Pak Supir mengantar ke Timlo Sastro ini.

Aduh.. Timlo Sastro.. Glek.. Slup.. Saya lapaaaar!!

Saya pun pesan satu porsi isi ati saja. Yampun itu rasanya enak banget!! Kuahnya saya habiskan sampai benar-benar habis! Rasanya segar dan gurihnya pas! Sosis Solonya pun super enak. Dimakan dengan kerupuk tambah maha lagi. Kalau nggak ingat mau melanjutkan perjalanan yang cukup jauh, saya pasti mau nambah lagi. Hihihi. *aduh, jadi lapar* Hiks. *pesan tiket ke Solo* *berangkatbesok* *orangkaya* *tapibeliapartemennyicil* Krikkrik..

Pis Tuban/Pis Degan
Konon, di suatu sore setelah selesai berkeliling kota Solo dengan Bus Werkudara; saya, Kakatete, dan Ang memutuskan untuk makan dulu di salah satu tempat makan yang menjual masakan angkringan tapi tidak berbentuk angkringan. NAH! Ribet kan!

Namanya Kafe Dangan. Kami pun makan nasi kucing beserta teman-temannya. Saat sudah agak kenyang, Kakatete dengan jayanya datang ke meja membawa satu bungkusan. Lalu dia membuka dengan wajah sumringah. Bungkusan itu berisi Pis Tuban.

Oknum pembawa Pis Tuban dengan wajah sumringah.. :D

Pis Tuban dibuat dari pisang yang dicampur dengan santan dan beberapa bahan lain. Ada yang bentuknya kering dan basah, nah yang kemarin kami (iya, kami. Akhirnya kami makan bersama lah itu Pis Tuban karena masih lapar penasaran) makan itu yang basah. Rasanya manis. Sebenarnya enak kalau kami belum kekenyangan, tapi karena kami sudah kekenyangan, jatuhnya agak eneg. Hihihi.

Sate Kelinci
Oke ini bukan kuliner khas Solo sih tapi karena saya makan pas di Solo dan enak, jadi saya masukkan juga di sini. Hihihi.

Sate Kelinci.. 

Saya makan Sate Kelinci ini di Curug Jumog. Makannya di pinggir aliran air bersih dari curugnya. Sambil mengobrol dan bersantai, sungguh menyenangkan. :D

Rasa Sate Kelincinya cukup enak. Dagingnya empuk dan bumbu kacangnya halus dan tidak bikin eneg. Ibu dan bapak penjualnya juga ramah. Suasana juga enak. Bahagia lah. Hihihi.

Nah jadi itulah enam kuliner yang bertanggungjawab untuk naiknya berat badan saya sepulangnya dari Solo. Tapi selain bertanggungjawab untuk naiknya berat badan, kuliner di atas juga bertanggungjawab untuk berbahagianya saya kok. Jadi, all good! Hihihi.

Ada lagi kah kuliner di Solo yang harus saya coba? Ayo beritahu saya ya biar pas saya ke Solo lagi, saya bisa menambah berat badan lagi khasanah perkulineran. Biar rasa nggak hanya ada enak dan enak sekali. Hihihi.

Senyum dulu ah.. :)


Thursday, September 11, 2014

Itinerary 2H2M (atau 3H2M) Solo

Untuk beberapa yang (pernah) sekedar bertanya (atau malah meminta) saya buatkan itinerary, ini beberapa itinerary yang mau saya bagi. Gratis untuk kalian. :)

Bilang apa hayoooo? :p

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Hari 1:
Sampai di Solo di pagi hari setelah menghabiskan 8jam40menit menumpang kereta Argo Lawu dari Jakarta langsung lah cari angkutan (becak atau mobil sewaan atau taksi) di luar stasiun. Minta untuk diantar ke Gudeg Ceker Margoyudan untuk makan awal-lebih-pagi-dari-makan-pagi. Hihihi. Gudeg Ceker Margoyudan ini bukanya dari jam 2pagi hingga sekitar jam 6pagi. Tapi biasanya jam 5pagi sudah habis. :D



Setelah urusan mengisi hati perut selesai maka perjalanan dilanjutkan ke penginapan untuk check-in. Tapi kalau belum bisa check-in, jangan sedih, main saja ke Pasar Gede. Pasar adalah tempat yang tepat untuk dikunjungi saat kamu nggak tahu mau ke mana di pagi hari! Hihihi. Di Pasar Gede bisa lihat-lihat keadaan pasar, bisa beli pisang murah setandan untuk makan pagi esok hari, bisa dapat makanan-makanan tradisional, dan bisa ikut di market-galore saja reramean di pasar. Hihihi.

Kalau saat ke penginapan sudah bisa check in, maka langsung check in dan istirahat saja dulu. Senyaman-nyamannya kursi di kereta, tetap saja tubuh tidak bisa lurus sempurna dan tidur pun tidak senyaman tidur di kasur kan. :D Istirahat kira-kira hingga jam 9 atau 10 lalu naik becak menuju Pasar Gede untuk makan Nasi Liwet Bu Sri! Hehehe. Nasi Liwet Bu Sri ini tempatnya di seberang Pasar Gede. Tanya saja ke orang di sekitar Pasar Gede, pasti semua tahu. :)



Selesai makan, jalan kaki menyeberang (di zebra cross ya) ke dalam Pasar Gede untuk menikmati Dawet Telasih Bu Dermi! :D Banyak dawet telasih tersedia di dalam Pasar Gede tapi yang terkenal memang Dawet Telasih Bu Dermi ini. Posisinya agak di belakang dan bersiap dijudesin mbak penjualnya ya. Hihihi. Tapi dawetnya sendiri enak! Segar sekali! Jadi tidak apa deh dijudesin juga. :D

Setelah itu, jalan-jalan lah di sekitar Pasar Gede. Ada kelenteng juga di sebelah kirinya. Kelentengnya kecil tapi cantik! Boleh foto-foto di sana. Kalau mau masuk, jangan lupa buka alas kaki dan ijin penjaganya ya.

Selesai dari Pasar Gede, perjalanan dilanjutkan ke Pura Mangkunegaran. Beli tiket lalu masuk menjelajah kawasan istana dan museum yang ada di dalamnya. Dari Pura Mangkunegaran, lanjut ke Pasar Klewer yang keberadaannya tak jauh dari Pura Mangkunegaran. Mau belanja batik murah meriah, bisa di pasar ini. Di luar Pasar Klewer, dekat gapura, ada juga Tengkleng (yang sepertinya) super enak karena ramai sekali. Karena saya bukan pemakan daging merah jadi nggak bisa kasih penjelasan akan rasanya ya. :D

Dari Pasar Klewer, perjalanan dilanjutkan ke Kampung Batik Kauman. Susuri gang-gang dengan toko-toko batik di kanan kirinya. Mau belajar membatik? Bisa ke Batik Gunawan di ujung jalan. Mau sekedar berbelanja, bisa di sepanjang jalan itu. Jangan ragu ke gang-gang sebelahnya karena banyak toko-toko kecil juga yang kadang menawarkan model baju atau celana atau batik yang tidak ada di tempat lain.

Selesai dari Kampung Batik Kauman, lihat jam! Kalau belum jam dua siang, langsung menuju ke Kantor Dishub Manahan untuk naik Bus Wisata Werkudara! Bus ini hanya beroperasi Sabtu dan Minggu dengan jadwal keberangkatan dua kali dalam sehari. Untuk menaiki bus ini, paling tidak reservasi sehari sebelumnya ya. Lebih jelas tentang bus ini, silakan baca post dari teman jalan saya Kakatete di sini.



Setelah Bus Werkudara sampai kembali di Kantor Dishub, jalan kaki untuk makan (lagi? IYA LAGI!) di Cafe Dangan sambil santai mengobrol. Cafe Dangan letaknya nggak jauh kok dari Kantor Dishub dan sudah pasti bisa jalan kaki. Keluar Kantor Dishub ambil jalan ke kiri. Lurus terus mengikuti jalan, jangan belok-belok walaupun jalan terpecah. Tetap lurus saja dan kalau lihat ada bapak atau ibu haji di jalan tersebut, percayalah kalian berada di jalan yang benar. Jalan yang diridhoi. Amin. Puji Tuhan. Di Cafe Dangan bebas menghabiskan waktu sampai malam. Lalu kembali ke penginapan dengan becak atau taksi. Hari pertama, selesai. :)

Hari 2:
Hari ini ayo ke luar kota sedikit. Sewa mobil untuk menuju perhentian pertama: Timlo Sastro. Mari makan! Hahaha. Perut terisi, happy tummy happy me, perjalanan dilanjutkan ke luar kota menuju Karanganyar. Jangan lupa minta berhenti sebentar di mini market untuk beli minum dan makanan kecil ya. Tujuan wisata yang pertama adalah Candi Cetho tapi sebelum mencapai Candi Cetho, kalian akan melewati Kebun Teh. Minta berhenti sebentar di Kebun Teh itu untuk menghirup udara segar, minum teh hangat, dan kalau beruntung, beli Cilok Kukus! Nom nom nom! :D



Sebentar saja di Kebun Teh, ayo lanjutkan perjalanan ke Candi Cetho. Beli tiket masuk lalu persiapkan kaki untuk menaiki tangga menuju atas candi. Sebelum sampai atas, belok kiri dulu ke menuju Candi Kethek. Jadi sekali dayung, dua candi terlampaui. :D Sudah selesai bersantai dan melihat sekeliling Candi Cetho, ayo ke candi lainnya: Candi Sukuh! Dari Candi Cetho ke Candi Sukuh tetap naik mobil ya, tidak bisa jalan kaki. Beli tiket masuk lagi dan nikmati candi yang terkenal sebagai candi porno ini. Ademnya suasana komplek candi pun cocok untuk bersantai menikmati angin semilir. :D

Setelah dari Candi Sukuh, kita ke tujuan terakhir yaitu Air Terjun Jumog! Kaki tetap harus dipersiapkan karena menuju dan kembali dari air terjun ini, kita harus menuruni dan menaiki 232 anak tangga! Aha! *beli koyo untuk persiapan ya* Sampai di jembatan sebelum air terjun, bisa kita lihat banyaknya tempat makan lesehan di pinggir sungai dengan air jernih mengalir. Jadi makan lagi? OH SUDAH TENTU! Hahaha. Tidak ada yang bisa mengalahkan makan Sate Ayam atau Sate Kelinci di pinggir sungai sambil mengobrol santai dengan teman, kan? :D



Habis makan, jangan lupa ke air terjunnya ya. Jangan habis makan lalu balik! Hihihi. Oya untuk yang pergi bareng keluarga, bisa banget bawa baju renang ya karena di Air Terjun Jumog ini ada kolam renang. Bersih dan menyenangkan kok ada Jungle Gym-nya juga. :)

Sudah puas bersantai di Air Terjun Jumog, ayo jalan kembali ke mobil dan pulang ke Solo. :D Kalau masih lapar, bisa berhenti di angkringan yang ada di pinggir jalan kembali ke Solo. Saya lupa namanya tapi itu cukup terkenal kok dan biasanya penuh. Hihihi . Sampai di Solo, mandi dan istirahat lalu bisa makan. Mau makan di restoran, banyak pilihan ternyata di Solo. Dan banyak kafe-kafe lucu bertebaran. Kalau lelah, sudah lah makan di mall saja atau di dekat penginapan. *percayalah, saya nggak main-main soal bilang 'lelah' ini karena seharian keliling candi dan naik turun tangga, kaki tidak akan bisa bohong.. :p*

Untuk yang besok pulang (2H2M perjalanan), jangan lupa beli roti atau makanan bawaan untuk besok makan pagi sebelum naik pesawat kembali ya.

Hari 3:
Yang kembali pagi ini ke kehidupan nyata, hati-hati di jalan pulang. Yang masih ada waktu (3H2M) sebelum kembali sore hari di hari ketiga, ayo ke Pasar Mbeling untuk makan pecel! Hehehe. Perut kenyang, ayo geser ke Pasar Triwindu! Pasar Triwindu ini pasar barang antik (seperti yang ada di Jl Surabaya, Menteng, tapi jauh lebih besar). Nikmati perjalanan ke masa lalu dan buang mantanmu di sini bernostalgia. Capek berputar-putar, jalan kaki sebentar ke Taman Sriwedari. Taman besar yang cocok untuk bersantai. Badan sudah cukup segar, ayo segera kembali ke penginapan dan bersiap untuk kembali ke kenyataan. Pesawat sudah menunggu di Bandara Adi Sumarmo Boyolali, membawamu kembali ke Jakarta! :D Short getaway, tapi dengan banyak senyum dan banyak bersyukur, sungguh lah ini liburan singkat yang menyegarkan! :)

Sekian itinerary gratisannya. Kalau ada yang kurang, maaf ya; kalau ada yang salah, beritahu saya. Kalau kurang pas, silakan diubah susunannya sesuai rute jalan-jalan yang diinginkan. Hihihi.

Terima kasih.
Kembali kasih.

Senyum dulu ah.. :)

Tuesday, September 9, 2014

Cerita Book and Go dan Duo Ginuk Menginap di Hotel Besar

Beberapa teman yang terhubung ke saya di Facebook (dan Twitter) mungkin melihat tagar yang saya tuliskan beberapa saat lalu; #DuoGinukInSolo . :D Ginuk itu bahasa Jawa untuk badan yang agak gendut-gendut namun lucu maksimal gitu. Duo Ginuk ini mengacu ke saya dan Kakatete. Hihihi.

Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, jalan-jalan ke Solo ini terhitung lumayan cepat prosesnya. Cepat dan nggak ribet. Yang membingungkan, saya dan Kakatete yang sama-sama OCD, bisa-bisanya tidak bertemu dulu untuk membicarakan rencana perjalanan. Komunikasi pun tidak intens; hanya sebatas membicarakan soal naik Bus Werkudara (yang kepengurusan dipegang oleh Kakatete) dan keinginan untuk sewa sepeda selama di Solo (yang kepengurusan menguap di Twitter begitu saja karena ternyata susah cari sewa sepeda di Solo. Hihihi). Saya? Ya mengurus free-stay penginapan (yang saya limpahkan ke Mama dan Mas Agung), membantu sedikit kepengurusan akan sewa sepeda *tetap* (dengan menanyakan ke Mas Agung dari pihak hotel), datang lebih awal ke Stasiun Gambir untuk mengurus tiket kami, dan .... tadaaaa .. membuat itinerary santai (hahaha, tetap ya..).

Dengan mengurusi segala sesuatu di menit-menit terakhir, ternyata semua berjalan dengan baik dan banyak tempat yang kami ingin kunjungi bisa kami sambangi! *pat our backs*. Saya pun kaget karena biasanya jika liburan kurang dari 4H3M, saat sampai Jakarta, saya akan kena PHS (Post Holiday Syndrome) di mana saya akan bengong-bengong bodoh gitu. Tapi kemarin pulang dari Solo langsung masuk kantor, saya segar luar biasa. Dan hatinya terasa senang sekali. :D

Setelah perjalanan ke Solo ini sukses, satu yang menjadi poin bagi saya. Bahwa kadang saya perlu melakukan 'book and go'. Begitu saja tanpa pusing memikirkan ini dan itu. 'Book' biar ada keharusan untuk pergi dan berlibur. 'Go' untuk akhirnya menjalankan liburan itu sendiri. Jalan saja dan nikmati setiap hal yang terjadi. Tidak melulu setiap hal harus mempunyai target dan rencana jangka panjang (walaupun saya tetap suka merencanakan segala sesuatu jauh hari), dan saya harus mencapai target tersebut. Kadang, keluar dari rutinitas dan berjalan santai adalah apa yang saya perlukan. :D

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 

Saya pernah menulis tentang kebiasaan saya menginap di dorm saat jalan-jalan. Kalau belum baca, silakan klik ini. Saya juga sudah bercerita bagaimana rasanya menginap di hotel berbintang gratisan dibayari kolega kantor di sini. Nah kali ini saya mau cerita kelucuan yang saya dan Kakatete alami ketika kami - yang biasanya menginap di guesthouse murah meriah atau malah di dalam tenda -   menginap di hotel besar di Solo. :D

Becak Pak Mul berhenti tepat di seberang sebuah gedung tinggi dengan jalan masuk rapi dan taman di kanan kiri. Saya dan Kakatete turun sambil cengar-cengir. Inilah hotel yang akan kami inapi selama dua malam. :D Sebuah mobil mewah ke luar dari parkiran. Saya menengok ke dalam; yah, kok nggak ada becak di dalam parkiran? Becak nggak boleh masuk ya? :(

Selesai berbicara dengan Pak Mul, kami berlari kecil menuju depan hotel untuk .... berfoto! Hahaha. Satpam melihat saya dan Kakatete berfoto dan membiarkan walaupun sepertinya ia agak bingung. Selesai berfoto, dengan ransel di punggung, kami jalan cengengesan menuju lobby.



'Sudah check in, Mbak?', tanya satpam (yang daritadi melihat kami) dengan ramah.
Saya bingung menjawabnya. Kan kami baru datang.

'Belum. Ini baru mau.', jawab saya kikuk. 'Lobbynya di sana kan, Pak?' saya menunjuk ke arah depan. Mungkin pertanyaan itu bisa membuat pak satpam sadar kami 'baru mau' check in.

'Oh iya, silakan mbak, itu lobbynya.', masih dengan ramah bapak itu menyahut.

Saya dan Kakatete jalan berdekatan sambil cekikikan berpikir apakah bapak itu bingung melihat kami yang beransel ini terseok-seok memasuki lobby hotel besar ini dan berpikir kami salah masuk penginapan? Hihihi.

Sampai di lobby, seorang mas-mas dengan ramah menangkupkan tangan dan mengucapkan salam. Saya tadinya mau ikut menangkupkan tangan, tapi tangan saya sudah terlanjur nangkring di meja resepsionisnya. :D Saya mengatakan sudah ada reservasi. Masnya mencari nama saya .... TIDAK ADA. Krik krik krik.

'Oh saya pakai poin mama saya, Mas. Sudah diaturkan oleh Mas Agung.'

Mas itu mencari sekali lagi kemudian berkata, "Atas nama Ibu Kissumi ya, Mbak?' - nama mama saya; saya mengangguk. Keluarlah kertas ini dari printer di sebelah masnya dan saya membubuhkan tandatangan di bagian bawah lalu menunjukkan kalimat 'Free Stay Point' ke Kakatete sambil cengengesan.



'Di kamar 1905 ya Mbak. Ini password untuk wifinya.'
Saya mengambil kartu kamar yang diberikan.

Beberapa saat setelahnya, di kamar, Kakatete tiba-tiba cekikikan melihat kartu kamar kami. 'Buy, there's no way we can forget that we can sleep here because of Bujendral ya. Password wifinya aja nama Bujendral.' Saya melihat kartu kamar dan ngakak. Iya, passwordnya nama mama saya! Huahahaha.



Selesai urusan check in, kami jalan lagi. Memasuki elevator, ada seorang staff hotel lagi yang menyapa ramah dan sopan dengan menundukkan kepalanya sambil berkata, 'Silakan, Mbak' dan menunjuk elevator.

Saya masuk elevator dengan biasan warna hangat itu dan memencet angka 19. Tetoooot, tidak bisa menyala.

'Oh..' sahut saya sambil menyadari kedodolan diri sendiri. Perlu dimasukkan dulu kartu kamarnya sebelum angka 19 itu bisa menyala rupanya. :p

Bapak yang tadi menyapa kini mendekati kami karena melihat pintu elevator tidak juga tertutup.

'Bisa, Mbak? Itu harus pakai kartu kamarny...'
'Iya iya..' sahut saya grogi sambil mengeluarkan kartu kamar dan mencoba memasukkan ke dalam slot. Eh kok nggak bisa? Saya coba sisi lain kartunya. Tidak bisa juga. Saya melihat kartunya dengan bengong dan mencoba lagi. Tidak bisa juga. Aaaargh! *grogi berhadapan dengan bapak staff hotel*

Bapak itu makin mendekat dan dengan senyum ramah menunjukkan cara memasukkan kartu dengan benar. Ternyata dimasukkan secara horizontal; bukan vertikal. BUAHAHAHAHAHA. Gembel! :)))))



Masih cekakakan di dalam elevator yang membawa kami ke lantai 19, saya dan Kakatete menghibur diri akan kedodolan kami dengan mengatakan, 'Yaaaa kan di tenda nggak ada elevatoooorr. Dudududu..' YA MENURUT LOE AJA, TONG! Hihihi.

Sampai di kamar, kami membuka pintu kemudian dua-duanya berucap hal yang sama dalam waktu bersamaan; 'Whoaaaa!!' Hahaha. Norak abis!

Satu langsung lari ke jendela, satu lagi langsung lari ke ruang tidur. Lalu bersama-sama masuk ke toilet. Lalu lari lagi menyalakan TV, buka lemari, jalan ke sini jalan ke sana. Begitulah. Hihihi.

Hingga hari kedua kami di sana, kami masih suka membuka korden untuk melihat pemandangan dari atas. Masih suka terpana dan bersyukur bisa sampai di Solo, bersikap santai, punya pack and go attitude, dan bersyukur bisa menginap di hotel besar itu. Hihihi.

Demikianlah cerita singkat Duo Ginuk Menginap di Hotel Besar -nya. Ayo jalan-jalan! Sometimes, the more you overthink (about) the plan, the farther the chance of it to happen. So, just book and go! :D Jangan lupa senyum tertawa dan bersyukurnya. :D

Kesempurnaan adalah milik Tuhan, kesalahan memasukkan kartu ke dalam slot elevator adalah milik manusia. Sekian.

Senyum dulu ah.. :)

Thursday, September 4, 2014

[Review] Hotel Solo Paragon

Tulisan ini dibuat tanpa paksaan atau sogokan Momogi Coklat. Semua aspek yang ditulis dalam tulisan ini adalah berdasarkan pengalaman pribadi dan karenanya, sangat subjektif.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sudah lama saya dapat tawaran menginap gratis di hotel ini karena bujendral AKA mama saya punya bagian dari hotel ini jadi dapat free stay. Hehehe. Sekitar dua tahun mama berinvestasi di hotel ini dan selama itu, free stay justru dipakai oleh saudara dan bukan anak-anaknya. Hihihi. *maaf ya ma, salaman yuk* :D

Pas saya tawarkan ke anak-anak Kemping Cukstawww untuk main ke Solo dan menginap gratis di hotel ini, semua maju mundur gitu. Ih sebal! Pada akhirnya mundur-mundur terus rencana ke Solonya dan menguap hilang di udara. Lalu tibalah saat di mana salah satu dari kami mulai stress butuh hiburan; sebut saja Kakatete namanya; dia langsung nanya apa tawaran masih berlaku? Saya (yang juga butuh hiburan setelah putus cinta *EH*) langsung mengiyakan. Di hari yang sama, Kakatete langsung beli tiket kereta! Beberapa hari setelahnya, Kakatete membelikan saya tiket kereta. Oke, jadi benar ke Solo ya ni. Benar ya. Benar ya. YAY!

Pas kami tiba di depan hotel ini, kami melihat dengan terpana dan setelahnya cekikikan. Yampun, kami, pejalan ala-ala nan manis dan gaya ini akan menginap di hotel berbintang! Hahaha. Gaya amat! *langsung foto-foto* :P

Kakatete - My #DuoGinuk Partner


Lokasi
Walaupun pintu masuk hotel ada di jalan kecil dan bukan jalan utama, tapi secara keseluruhan, lokasinya cukup strategis. Tidak bisa jalan kaki ke mana-mana (kecuali ke Mall Solo Paragon yang tinggal bergulingan saja dari lobby hotel) tapi becak tersedia. Taksi juga ada rekanan dari hotelnya. Dari Stasiun Solo Balapan hanya sepuluh menit naik becak, dari Bandara Adi Sumarmo Boyolali (Boyolali ya ternyata, bukan Solo) hanya lima belas menit naik taksi.

Naik becak ke Pasar Gede hanya sepuluh sampai lima belas menit. Begitu juga ke Pura Mangkunegaran. Cukup dekat ke mana-mana. Mall Paragon Solo terhubung lewat lorong khusus dari lobby hotel. Di mall ini ada Carrefour, ada banyak restoran untuk makan, dan ya banyak toko-toko seperti halnya mall. Hihihi.

Kebersihan/Fasilitas
Saya kurang tahu pasti ini hotel bintang berapa, tapi secara fasilitas sudah lebih dari cukup untuk saya. Elevatornya bagus (ya maaf, sebagai pejalan ala-ala, saya dikasih elevator bagus saja sudah cinta..hihihi), ada pusat fitness, kolam renang, dan restoran. Di setiap kamar ada ruang keluarga dilengkapi sofa dan TV. Teko elektrik, kulkas, dan complimentary teh, kopi, air mineral tersedia. Safe deposit box juga ada.

Kamar Deluxe Double


Untuk kebersihan tidak perlu diragukan. Bersih semuanya! Bahkan sampai ke fasilitas umumnya juga bersih. :D Memang beda ya hotel melati sama hotel kamboja. *eh, yang mana yang hotel kamboja?!*

Kalau pesan tidak lewat free stay, pasti ada free breakfast. Tapi karena saya pakai free stay, jadi nggak dapat free breakfast. Hihihi. Tapi tak apa, makan pagi mudah didapat kok di sekeliling hotel. :D

Keamanan
Aman! Safe deposit box tersedia kalau mau meninggalkan barang penting di kamar. Kami pun meninggalkan tas terbuka saat jalan-jalan dan semua baik-baik saja. Di keseluruhan hotel banyak satpam, banyak staff, dan rasanya sangat aman. :D

Staff
RAMAH!

Saat saya datang, ada satu satpam yang bertanya, "Sudah check in?"; saya bingung jawabnya karena saya kan baru datang, jadi baru mau check in dong. Belum 'sudah' dong. Hihihi. Mungkin bapaknya bingung ya liat tamu masuk gendong ransel dan naik becak. :') Tapi bapaknya masih terhitung ramah dan sopan kok. Saya agak riwil soal pelayanan staff jadi kalau saya bilang ramah memang berarti orang-orangnya ramah. :)

Resepsionisnya juga baik dan sopan. Akomodatif juga ditanya macam-macam. Hanya pas sebelum hari terakhir, saya memesan taksi untuk ke bandara karena harus ke bandara pagi-pagi sekali. Dijawab 'Iya' oleh mbak-mbak resepsionisnya dan dia sempat menanyakan apa mau dilakukan morning call? Saya katakan 'Iya', tapi sepertinya mbaknya lupa memberitahu teman yang menggantikan shiftnya jadi morning call tidak dilakukan. Untungnya kami pejalan tangguh yang sudah sering bangun pagi buta sebelum ayam berkokok demi mengejar naik ojeg menuju Muara Angke hihihi, jadi ya nggak masalah lah soal si morning call ini. :D

Minusnya
Mempertimbangkan keadaan keseluruhan hotel yang ciamik, saya tertegun lumayan lama saat berada di toiletnya. Pintunya tidak terbuat dari kayu melainkan seperti teak block atau triplex. Apa yang saya sebut dengan 'pintu ringan' karena bagi saya pribadi, pintu yang keren dan mahal adalah pintu yang berat saat diayun untuk membuka dan menutup. Hehehe.

Keadaan toiletnya pun agak njomplang dibanding keadaan kamar. Ruang pancuran, washtub, dan closetnya semua biasa saja. Terlalu standar dibanding desain ruang tidur dan ruang keluarganya. Lebih lanjut, kalau lampu toilet tidak dinyalakan terus menerus (yang berarti exhaust juga menyala), maka saat kita masuk, akan ada bebauan kurang sedap menyeruak. Jadi lampu harus dinyalakan terus.  :( Sebagai orang yang berusaha jadi eco-traveler kan sedih kalau lampu harus terus dinyalakan sementara toilet tidak dipakai. :(

Akhirnya..
Kamu rekomendasikan nggak, Lan?
Recommended! Khususnya untuk pejalan sekeluarga. Ruang kamarnya cukup luas dan fasilitasnya lengkap! Dekat dan mudah juga ke mana-mana. Oke lah ni hotel! :D

Senyum dulu ah.. :)

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Hotel Solo Paragon
Jl Dr. Soetomo, Solo
Jawa Tengah
Website: http://soloparagonhotel.com/v2/ atau www.soloparagonhotel.com

Kolam renang tersedia di lantai 1

Thursday, August 28, 2014

Pemandu Becak dan Sewa Mobil di Solo..

*pertanyaan penting pembuka post*

Kalau orang Jakarta disebut Jakartan,
Orang Palembang disebut Wong Kito Galo,
Orang Minang disebut Urang Awak,
Orang Solo disebut apa?

:D

Tapi, apapun sebutannya minumnya tetap Teh Botol Sosro, satu yang berkesan bagi saya saat ke Solo kemarin: sebagian besar orang Solo ramah-ramah ya. Ramahnya ramah tulus gitu. Saya bahagia. :)

Yang membuat kesan ramah dan tulus pertama kali adalah Pak Mul: pemandu becak kami selama di Solo. Saat pertama bertemu di pintu keluar Stasiun Balapan, kami tawar menawar untuk diantar ke Gudeg Ceker Margoyudan. Dari Margoyudan, kami lalu minta diantar langsung ke hotel. Pak Mul menyanggupi. Sampai di hotel, saya bertanya di mana mencari sewa sepeda? Kata Pak Mul, sewa sepeda jarang di Solo. Beliau menanyakan kami mau ke mana saja. Setelah diberitahu, Pak Mul bertanya (dengan sangat sopan) apa mau diantar olehnya. WAH! Boleh boleh! Huhuw!



Pak Mul datang sebelum pukul setengah sepuluh, perjanjian waktu kami. Dia menunggu di luar hotel dan tidak mau masuk padahal saya geregetan banget ingin bawa becaknya Pak Mul sampai depan lobby Hotel Solo Paragon. Hehehe. Kami pun berkeliling kota Solo sama Pak Mul. Orangnya sabar sekali dan sangat melayani. Bahkan saat kami tidak jadi ke Taman Sriwedari sedangkan Pak Mul sudah belok kanan dari depan gerbang masuk Pura Mangkunegaran, beliau tanpa mengeluh menggenjot becaknya lagi untuk putar balik dan mengantar kami ke Pura Mangkunegaran, sesuai yang (tiba-tiba) kami inginkan. Hihihi. Maaf ya Pak.

Pak Mul ini rumahnya di daerah Balapan, dekat stasiun. Usianya memang cukup tua namun masih kuat menggenjot becak ke rute kami Hotel (Solo Paragon) - Pasar Gede - Pura Mangkunegaran - Pasar Klewer - Kampung Batik Kauman - Hotel. Saat di Kampung Batik ada kejadian lucu, Pak Mul-nya posesif sama kami, takut kami kecapean jadi beliau ingin mengantar kami ke gang-gang kecil itu, padahal kaminya mau jalan kaki. Hahaha.

Saya masih menyimpan nomor HP Pak Mul. Kalau ada teman-teman yang akan ke Solo dan ingin berkeliling diantar becak oleh Pak Mul, drop a message on my Facebook or Twitter. I'll share. Tapi mintanya yang baik dan sopan ya. Pesan seperti 'Pernah baca kamu punya nomor telepon tukang becak di Solo, minta dong sekarang, perlu banget. Besok ke Solo!' TIDAK AKAN saya jawab. Saya lebay? Mungkin. Tapi beneran ada yang pernah kirim pesan ke Facebook saya seperti itu, menanyakan nomor telepon Pak Azmal, supir taksi langganan saya di Kuala Lumpur. -_____- d'uh! Situ ikrib sama saya?!

Oya, tolong sekali, kalau naik becak sama Pak Mul, maksimal 2 orang per becak ya. Atur rute sedemikian rupa biar nggak bolak-balik. Atau beritahu tempat mana saja yang mau dikunjungi dan minta Pak Mul yang atur rutenya. Kalau waktunya makan dan kalian sebagai penumpang akan makan, jangan lupa tawarkan (atau langsung pesankan) untuk Pak Mul juga. Nggak akan bikin kalian kekurangan, sungguh! Kemarin kami putar-putar selama lebih kurang 4.5jam itu memberikan Rp120.000 + makan siang ke Pak Mul. Dari awal, Pak Mul menolak menyebutkan berapa yang harus kami bayar. Saat diberi pun beliau tidak meminta lebih, bahkan tidak menghitung berapa rupiah yang kami berikan. Beliau penuh rasa syukur dan menerima dan kalau tahu Pak Mul dari saya, tolong jangan berikan harga di bawah itu untuk jalan-jalan selama periode waktu yang sama. Kalau mau menawar sampai murah sekali, silakan cari pemandu becak lain, jangan sama Pak Mul!! *penumpangposesif* Hehehe.

Hari kedua di Solo, kami berencana untuk sedikit ke luar kota Solo. Ke Karanganyar, mengunjungi Candi Cetho, Candi Sukuh, dan Air Terjun Jumog. Untuk ke sana, tentu tidak bisa dengan Pak Mul. Hihihi. Malam-malam jam 21.00 kami baru cari sewa mobil setelah mengetahui kalau sewa mobil di hotel harganya Rp620.000 untuk Avanza. HIDIW BABHAY!

Googling sebentar dan membuka satu website, menelpon, mendapatkan harga, menutup telpon sebentar untuk berkata ke Kakatete dan Ang, "Aku gagal deh kalau menghadapi orang ramah dan sopan. Bapak yang angkat telepon sopan banget. Harganya 450.000 sudah mobil supir BBM." Kakatete melihat saya sekilas, membaca air muka saya yang yakin, kemudian langsung mengiyakan. Tidak sampai dua menit kemudian, kami dapat mobil sewaan untuk keesokan harinya. Hehehe. Kaget ya kok tumben saya bisa jalan-jalan koboy begini tanpa persiapan matang? Iya, saya juga kaget. Hihihi.

Nama sewa mobil ini Tedda Rent Car. Silakan diklik tautannya untuk masuk ke websitenya. Supir kami kemarin namanya Pak Doni. Baik, ramah, dan rambutnya gaya mullet! Hihihi. You know tatanan mullet kan? Business at the front, holiday at the back! Hihihi. Nih seperti ini:

Ini bukan Pak Doni. Cuma gaya rambutnya saja.

Sayang saya nggak sempat foto Pak Doninya. Padahal sudah rencana. :( Mungkin nanti saya bisa minta Pak Anton (yang punya Tedda) untuk fotoin. Hihihi. Pak Doni sopan dan mengerti jalan. Menyetirnya pun halus dan tidak grasa-grusu. Sabar sekali melayani kami, tiga perempuan lucu nan imut jalan-jalan keliling candi, makan, tidur, ribut nyanyi, dan makan lagi. :p Pak Doni pun mau diminta memotret kami di tengah hujan sambil ikut ngetawain bareng warga sekitar (--____--) saat kami menjadi Power Ranger dadakan di Desa Jumog. Cerita Power Ranger ini nanti akan ada di post yang berbeda ya. Overall, sangat puas dengan pelayanan Tedda Rent Car dan Pak Doni.

Untuk menyewa mobil di Tedda, ternyata paling tidak harus memesan seminggu sebelumnya. Kami kemarin beruntung sekali masih bisa mendapatkan mobil di waktu yang mepet dan mobil yang kami pesan adalah mobil terakhir yang ada. Hehehe. Rejeki anak cantik kece nan baik dan rendah hati. :')

Selain Pak Mul, Pak Anton, dan Pak Doni; satpam di hotel juga ramah. Satpam di Mall Paragon juga ramah. Ibu Gudeg, Ibu Nasi Liwet, Bapak Parkir, semua ramah.

Eh tapi apa semua ramah? Tidak juga sih. Supir taksinya nggak ada yang ramah masa. Padahal taksi ini taksi resmi rekanan hotel. Taksinya tidak ada yang pakai argo dan supir taksinya semua sok tahu. Sok tahunya nyebelin banget. Saya sama Kakatete sampai tobat deh. Kalau nggak terpaksa, nggak mau naik taksi di Solo. Mending sama Pak Mul atau Pak Doni deh. Hehehe.

Mbak-mbak Dawet Telasih Bu Dermi di Pasar Gede juga nggak ramah. Nggak ada senyum-senyumnya acan. Mbaknya nggak bisa berlaku semanis dawet jualannya. Ihiks.

Tapi, jumlah orang yang ramah mengalahkan mereka yang tidak ramah kok. Solo kota yang menyenangkan. Orang-orangnya juga menyenangkan. Membuat betah. Cocok untuk tempat kita menghabiskan masa tua bersama, Mas. *gamit lengan Mas Joseph Gordon-Levitt dengan mafhum*

Senyum dulu ah. :)

Tuesday, August 26, 2014

Candi Sukuh dan Keperawanan Saya..

"Jadi Buy, konon katanya, kalau kita naik Candi Sukuh ini lalu pas turun kita berdarah, itu tandanya kita masih perawan!!" ujar Kakatete dengan mimik wajah super serius yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.

Saya membalas dengan tatapan bingung. Apa yang dia harapkan dari berkata demikian pada saya yang sepertinya sudah tidak perawan ini deh? >.<

Tapi baiklah, mari kita coba!

------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Candi Sukuh adalah candi ketiga yang kami kunjungi hari itu. Terletak di Karanganyar, candi ini lebih terkenal sebagai candi seksual atau candi porno. Kenapa begitu? Karena Lingga dan Yoni digambarkan secara terbuka di candi ini. You know Lingga and Yoni, aite? The image of penis and vagina. :D

Saat mobil sewaan kami memasuki parkir, Ang sempat mengucap 'Yah...Penuh banget!!', dan saya langsung lihat ke bagian atas candi yang ternyata sudah penuh orang nongkrong-nongkrong cuek. Kami pun berjalan santai masuk area candi setelah sebelumnya beli tiket masuk dulu Rp3000/orang. Saya jalan duluan sementara Ang dan Kakatete masih baca-baca penjelasan tentang candi ini. Saat saya naiki tangga kecil di halaman, saya ketemu satu bapak satpam yang duduk santai mengawasi. Saya tanya ada apa di atas kok penuh sekali? Dijawab katanya sedang ada ritual. Ooooo, pantesin penuh.

Saya pun keliling-keliling dulu menunggu pengunjung yang di atas turun untuk gantian dengan pengunjung yang di bawah. Tunggu punya tunggu, nggak turun-turun dong mereka. Hihihi. Betah ya Mas, Mbak. Melihat banyak pengunjung yang menunggu giliran naik, bapak satpam pun melaksanakan tugasnya dengan baik. Beliau mendekat ke candi lalu menganjurkan pengunjung yang di atas untuk turun dan memberi kesempatan pengunjung yang di bawah untuk naik juga. Anjuran disampaikan dalam Bahasa Jawa halus yang membuat saya bengong. KENAPA BAPAK ITU BISA BAHASA JAWA HALUS?? Saya kok nggak bisa? Kenapa coba kenapa? Jawab!!


Beberapa pengunjung pun turun setelah mendengar anjuran bapak satpam; beberapa lainnya, tetap keukeuh di atas. Ada satu pasangan yang tetap di atas dan kaki sang perempuan menjulur ke bawah. Mereka nggak ngobrol pun, ya cuma duduk saja di candi. Mungkin menurut mereka itu keren. Hehehe. :P

Menunggu beberapa saat, turun lah para nongkrongers itu dan kami pun naik ke atas. Sesampainya di atas, ada beberapa orang berbaju seperti petapa dengan rambut panjang dan tatapan wajah diam misterius (ala-ala Sudjiwo Tedjo gitu) sedang membereskan barang-barang yang habis dipakai untuk ritual. Saya melihat ke sekeliling. Komplek candi ini, walaupun kecil tapi sangat adem dan menyenangkan. Rumputnya hijau, banyak pohon rindang, suasananya adem. Pantas banyak yang pacaran di sini. 

Kami berfoto sebentar lalu turun untuk memberi giliran pengunjung lain yang akan naik. Sedikit cerita tambahan, pas di bawah, di halaman candi, ada sekelompok mas-mas gitu mengikuti kami dan tiba-tiba salah satu dari mereka bilang, "Mbak, teman saya mau foto bareng sama mbak. Boleh ya mbak?"

YAMPUN AKUH DIKIRA RAISA!!

























Okeskip!
















*ya sedikit selfie saja deh ya nggak papa*



*peace*

Selesai dari Candi Sukuh, kami menuju ke Air Terjun Jumog. Selesai dari sana baru kami pulang dan hasil tes pun keluar. Hasil ini cukup mengagetkan karena .... Kakatete tidak merasakan apa-apa sedangkan saya ..............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

Menstruasi.
Darah.

Berarti ............................


















SAYA PERAWAN!!

OMG!!
*pingsan*










Sekian.
Post selesai.
Hihihi.

Senyum dulu ah.. :)

Wednesday, November 13, 2013

Kabut tebal di Gunung Prau..

Disclaimer: Karena banyak yang mengeluh nama Kareza diulang berkali-kali di post ini (mungkin mereka lelah) jadi saya edit ya, nama Kareza saya ganti jadi Ujang ya. Sip!

Perjalanan ini sudah direncanakan jauh bulan. Membuat saya kembang kempis tak sabar untuk mencapai tanggal 2 November, tanggal keberangkatan. Destinasi utama kami: Gunung Prau! Dari 1 November, perut saya mulas tanda stress. Rasanya sama ketika dulu mau nanjak Gunung Gede. Mulas karena stress takut nggak kuat mendaki. Nggak kuat tapi geregetan pengen coba dan ikut. :))) Begitulah. Gunung memang selalu membuat saya ketar ketir gewegetan. *kemudian nyanyi* Geregetaaan jadinya geregetaaan.. Apa yang harus kulakukaaaan.. ~ *pake bedak Maybelline*

Mencapai Gunung Prau di dataran tinggi Dieng harus melewati beberapa kota. Dari Jakarta, kami menuju ke Purwokerto dulu dengan kereta. Lalu dilanjut dengan naik mobil ke Dieng. Nah dari Dieng mendakilah ke Gunung Prau itu melewati tanjakan, sekolahan, dan kuburan. Eh yang saya strip di sebelah itu memang benar kami melewati itu semua, cuma saya nggak mau nakut-nakutin kalian aja sih makanya saya strip.

Gunung Prau berdiri tegak 2565 meter di atas permukaan laut. Mendakinya, seyogyanya hanya butuh waktu 3jam. Tapi seperti biasa, saya hipster, jadi saya menghabiskan 4jam mendakinya *antara hipster sama keberatan bokong emang beda tipis sih Lan* dan menyeret Ujang dan Mbak Astrid bersama saya di grup paling belakang. Hihihi. Ada dua jalur yang bisa dipakai sebagai awal mendaki; jalur Dieng dan jalur Darawati. Jalur Dieng lebih landai dan jalur Darawati lebih ekstrem.


Kami mulai mendaki di malam hari, jam setengah8 berangkat. Perjalanan awal melewati kebun kentang warga dengan wangi semerbak pupuk kandang. Sudah pernah cium aroma pupuk kandang? Wanginya kayak campuran mpup kuda dan aroma terasi dari dapur! Yummy!! Suka!!

Setelah melewati sawah lalu lanjut dengan hutan dengan banyak bunga aster di sekelilingnya. Sayang saat itu sudah gelap sekali jadi nggak bisa menikmati bunga aster yang mekar menyeruak. Di sisi lain, mendaki malam juga enak karena nggak panas dan kalau menengadah bakalan terpukau maksimal! Langit penuh taburan bintang dan beberapa kali saya lihat bintang jatuh! Melesat cepat dengan binar cahaya yang membuat saya menganga. GILA!! Baru kali ini ada tempat romantis menggantikan Planetarium Jakarta. :') *cemen abis gitu bandingannya* Katanya, kalau lihat bintang jatuh, make a wish and it shall be granted. Faktanya adalah, saat lihat bintang jatuh, saya nggak kepikir mau make wish apa-apa saking terpananya! Hahaha. Akhirnya cuma bisa minta perjalanan dilancarkan aja sampai kembali. And yes, it was granted. :)

Ada empat titik tanjakan pas mendaki Prau ini. Selebihnya, jalanan terhitung landai. Di tanjakan satu, saya masih kece. Tanjakan kedua, kadang-kadang mulai pegangan sama Ujang. Tanjakan ketiga, napas udah tersengal. Tanjakan keempat, secara harafiah Ujang harus menarik saya karena saya udah memble. Hahaha. Dan tanjakan keempat itu kampret sangat memang karena tanah licin habis hujan, posisinya miring banget, dan jalurnya super sempit, pinggirnya jurang. HOKESIP! Mas-mas sweeper berkali-kali bilang "Fokus tengah ya. Fokus tengah. Jangan lihat kiri kanan. Fokus tengah.". Tapi setelah melewati tanjakan keempat itu rasanya yolo-yolo banget! Kayak habis melahirkan gitu! Ya walaupun saya belum pernah melahirkan sih. -_____-

Kalau pas nggak kuat jalan gini saya selalu ingat kata-kata Thariq deh. Thariq, teman saya yang kemarin habis ikut maraton 42km (GILAK!) itu pernah bilang, "Saat fisik udah nggak kuat (lari), yang main tu pikiran aja, Bul. Pikiran harus sampe harus sampe, gitu. Karena kalau ngandalin fisik beneran nggak bisa deh." Uwayoooo.. Harus sampe harus sampe!! *sugesti diri*

Suhu saat saya sampai di atas sekitar 5-6derajat dan kabut tebal sekali. Selesai makan malam dengan ayam bakar uenak, ngobrol-ngobrol sebentar lalu gelar sleeping bag dan tidur. :D

Jam setengah5, ada yang ramai teriak di luar tenda 'Sunrise sunrise!! Sunrise sunrise!!", siap-siap lah tu saya untuk ke luar. Nggak sabar merasakan hangatnya sinar matahari. :p Di Jakarta malas banget kena sinar matahari, di gunung cari-cari sinar matahari. Hihihi. People are funny. Or it was just me? :p

Saya bangunin Ujang dan dia nyiapin tripod dan lensa-lensa kameranya sementara saya pakai sepatu. Kemudian pas kami sama-sama nyibak pintu tenda, kami liat-liatan dan ketawa ngakak!! Hahahaha. Ya gimana nggak ngakak kalau di luar tampilannya begini:



MANA MATAHARINYA??? MANA SUNRISENYA??? MANAAA???
Huahahahahaha.

Kabut tebal menggantung penuh, memotong jarak pandang. Matahari tidak sedikit pun nampak. Saya cekikikan sama Ujang lalu memutuskan masuk tenda lagi karena dingin. Ujang tetap keukeuh nyoba motret di luar. Beberapa saat kemudian terdengar suara 'Yeaaaaah!!!' tanda kabut bertolak menjauh. Harapan melihat matahari terbit pun muncul lagi. Tapi nggak berapa lama terdengar lagi teriakan 'Yaaaaahh...' tanda kabut datang lagi. Huahaha. Labil abis! :))

Saya bertahan di dalam tenda, selimutan sleeping bag, sampai kemudian dipanggil ke luar. Ke luarnya juga cuma di depan tenda, panas-panasin mantau dan bikin minum anget. Hihihi.

Sampai kami pulang, kabut masih menggantung. Pas turun, aster-aster yang mekar terlihat jelas. Cantik sekali. Penuh menghampar. Bikin pengen luncat!



Turun gunung biasanya hanya butuh waktu 2jam. Saya? Oh well, ya saya hanya ingin keseimbangan hidup aja jadi saya 4jam juga turunnya. Hihihi. Grup turun belakangan berisi saya, Uni Deedee, Mbak Astrid, Ujang dan beberapa mas pemandu. Jalan santai 4jam udah plus pindah jalur turun lewat Darawati. Itu handy talky (eh apa telepon satelit ya?) sampai bunyi berkali-kali menanyakan kami di mana karena kok belum sampai-sampai. Hihihi. Sepertiga jalan turun, air minum habis donk. Nggak ada sungai atau aliran air apapun yang bisa kami minum airnya walaupun saya mendengar jelas suara air terjun. Jadi kami makan cemilan yang masih ada di ransel saya dan di tengah jalan nemu buah-buahan kecil nan lucu. Hihihi. Makan deh.

Turun lewat Darawati memang lebih cepat tapi juga lebih ekstrem. Kalau turunan, turunannya tajam sekali. Kalau tanjakan (cuma sedikit sih), tanjakannya juga lumayan ekstrem. Mbak Astrid sampai ngesot donk saking capek naik turunnya itu jalan. Hihihi. Tapi turun lewat jalur ini ada wownya. Pemandangannya itu wow bingit!! Walaupun beberapa kali tertutup kabut tapi tetap wow!




Sampai di bawah sudah jam makan siang dan kami tetap harus mendaki. Mendaki tangga dari lantai 1 ke lantai 2 karena makannya di lantai 2. Hihihi. Istirahat sebentar trus balik ke penginapan deh.

Saya berhasil lagi oh may Gawt!! Berhasil mendaki dan turun dengan selamat!! Alhamdulillah. :')

Pas turun itu saya baru sadar sesuatu. Mendaki gunung itu lucu ya. Pas naik, saya nggak menikmati banget deh. Adanya capek dan capek aja tapi terus mendorong diri sendiri untuk bisa nyampe ke puncak. Pas turun ngomong sendiri capek capek dan ga mau naik gunung lagi. Tapi pas sampe bawah, baru beberapa menit udah mikir mau naik gunung lagi. Huahahaha.

Jadi apakah akan ada cerita naik gunung lagi? Oh yasuda pastiii. Hihihi. Udah beli sepatu trekkingnya pun. Wikikik. Eh btw, sepatu trekking saya baru pakai sekali (ke Prau ini) kayaknya mau saya jual karena sebenarnya kegedean. Ini size 39, saya biasanya size 37/38 dan pas banget ada mas-mas yang mendapatkan sepatu sesuai size saya. Ihiy. Hihihi. Kalau ada yang mau beli ini, kasitauin ya. :D


Senyum dulu ah.. :)

Wednesday, July 4, 2012

Panasnya Semarang..

Pertama dengar kata Semarang, what's on your mind? Saya: PANAS!!

Tapi pas datang ke Semarang kemarin ini kan saya langsung meluncur ke Umbul Sidomukti, daerah gunung gitu, jadi dingin, jadi tak berasa lah panasnya Semarang. Ketika saya kemudian kembali ke Semarang, baru lah ituuuu jeng jeng jeng jeeeeng!!!

Rencana hari itu kami akan mutar ke Panorama - Gombel Viewing Post, lalu ke Museum Jamu Nyonya Meneer, Kelenteng Sam Poo Kong, Kota Lama, dan kemudian Lawang Sewu. Tapi kemudian dengan hitsnya Museum Jamunya tutup. -____-. Piye tho.. Museum biasanya tutup di hari Senin, ini Sabtu kok malah tutup. :( Nah lalu ke Sam Poo Kong lah kami. Sampai di Sam Poo Kong itu panasnya mengkhila!! Tapi saya masih tahan. Cuma auuuuus aja terus rasanya. Secara saya onta ya, jadi ya merasa itu wajar saja. Bergerak lah kami ke Kota Lama. Sampai di Kota Lama itu rasanya badan udah lemeeees banget dan pusing nyut-nyutan. :( Oh em jih, saya kena heat stroke. Hiks. Itu panasnya yasalaaaaam, nyengat terik silau, you name it lah.. :( Padahal penginapan berAC, keluar penginapan dan jalan-jalan masuk mobil yang berAC juga. Jalan paling banter ke Paragon sama refleksiologi ke gedung sebelah. -____-"

Akhirnya balik ke penginapan dulu lah itu hari dan baru lanjut ke Lawang Sewu sore harinya. Indeed ya, (kota) Semarang panaaaasss.. :( Kalau ke Semarang lagi mau lama di Bandungan ajah. Adeeeem. Hihihi..

Udahan ya post Semarangnyaaaa.. Mau siap-siap, besok nginep apartemen Bujendral dan tanggal 6 cuss ke Thailand. Hehehe. *uget-uget ke tempat tidur*



Senyum dulu ah. :)

Makanan Enak dan Enak Banget di Semarang..

Ada beberapa orang yang kategori makanan yang dimakannya enak dan enak banget. Nah saya sebenarnya bukan tipe yang itu, tapi kemarin di Semarang?? Alamakjan ini lidah dimanjakaaaaan!! *goyang lidah*

Saya masih ingat pertanyaan pertama saya ke Mas Eca adalah "Mas, list makanan enak di Semarang yaaaaa..". Dobleh banget deh, orang mah nanya tempat wisata yang patut dikunjungi dulu, ini kok ya malah makanan. Hahaha. Akhirnya Mas Eca ngasi list ini:

Semarang

Nasi Ayam - Simpang Lima, depan Horison agak ke kiri (10-10.30malam)

Pecel Mbok Sador - Simpang Lima, sbrg Ace Hardware

Tahu Petis Prasojo - Simpang Lima

Tahu Pong - Jl Gajah Mada

Kucingan Pak Gik - Jl Gajah Mada (buka jam 11 malam)

Bakmi Jowo - Dekat SMA 5, Jl Pemuda

Toko Oen - Jl Pemuda dpn Pasaraya Sri Ratu (sticklidah+poffertjes)

Pisang Plenet - Dpn CIMB Niaga Jl Pemuda/Semawis

Lumpia Mbak Lin - Jl Pemuda dpn Pasaraya Sri Ratu

Bakmi Jowo Pak Bagong - Daerah Pecinan arah Hotel Quest

Sate Babi - Semawis (cm malam, JumatSabtuMinggu)

Sate Kambing 29 - Dpn Gereja Blenduk

Soto Bangkong - Perempatan Bangkong

Sate Sapi Suruh - Jl Sriwijaya

Mi Kopyok - Jl Tanjung

Sop Kepala Kakap Pak Oeban - Jl Pamularsih

Swikee - Jl Purwosari Raya

Tahu Gimbal - Taman KB

Gudeg Mbak Tum - Peterongan

Lumpia - Gang Lombok

Es Puter Cong Lik - Depan RS Telogorejo

Nasi Gandul - Depan RS Telogorejo

Soto Neon - Blkg SMP 3


Bandungan

Tahu+Susu Kedelai - Serasi Bandungan

Nah dari list ini, finally saya memang mencoba beberapa. Beberapa lainnya tidak saya coba sama persis di tempat yang direkomendasikan Mas Eca, tapi rasanya tetep maknyuuusss!! Enyaaaak!! Favorit saya, nasi ayam sama pisang plenet!! Yasalam itu sampe muter lagi demi beli pisang plenet lagi. Hahahaha. *tepokjidatBulan* -- dan sekarang saya pengen lagi.. -____-

Nasi Ayamnya saya makan yang di seberang Paragon persis. Itu enak banget!! Saya makan sampe dua piring. *tepokjidatlagi*. Lumpia saya beli Dyriana di Jl Pandanaran (satu toko sama Bandeng Juwana), sekalian beli oleh2 soalnya. Hehehe. Sate Kambing 29 saya ga makan, eh makan denk, dua bijik. Lumejen, masuk dan tidak muntah. Hehehe. Di Sate Kambing 29 itu saya pesan Sop Olor (olor is isi sumsum..hehehe). Nyam!! Ada yang bilang sayang saya ga coba Mie Cool atau Mie Dingin. Ya pas di Semawis emang ngeliat banyak yang konsumsi itu si, cuma saya ga berani. Tenggorokannya lagi sangat sensitif, kena es atau dingin dikit langsung radang.

Oya, saya juga makan Sate Kelinci lagi (oh forgive me dear mistewebbit). Enak juga tu kayak sate ayam. Hehehe.

All in all. Semarang baru mematahkan pemikiran saya di awal. Ternyata emang ada ya makanan yang kategorinya hanya enak dan enak banget. Hahaha. Semarang guarantees a happy tummy, and whaaaat?? HAPPY TUMMY, HAPPY ME!!! :))))



Senyum dulu ah.. :)

Tuesday, July 3, 2012

Lawang Sewu Semarang..

Jika ada daftar tempat yang cukup sekali saya kunjungi dan tidak akan mau saya kunjungi lagi walaupun dibayari, Lawang Sewu akan masuk ke dalam daftar itu. Cukup lah. Cukup sekali..

"Cukup sekali.. Aku merasaaaa.. Kegagalan cintaaa.." *nyanyi sambil jogetan*

Oke fokus!!

Beneran, cukup sekali aja saya kesana. Ga mau lagi! Kalau kata Cherrybelle "Ga ga ga kuat.. Ga ga ga kuat.." *fokus Bulan, fokus!!* <-- *disalahin Celly.. Ternyata yang nyanyi 'ga ga ga kuat' itu 7icons. GULP. Maap yaaaaa. *salim*. Jadi kalau Cherrybelle yang 'neve neve want to, really really love u' -- itu ya? *dibahas*
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Lawang Sewu memang adalah tujuan wisata yang paling terkenal di Semarang. Dan karena selain saya kece, saya juga gaul, maka datanglah saya kemarin ke Lawang Sewu itu. *abaikan*

Pas masuk, langsung ada pemandu yang menyambut dan mengantar ke meja pembelian tiket. Di atas meja sudah ada kertas yang dilaminating, tulisannya:


Okesip, I don't mind having to have a guide here. Bahkan kalau perlu digabung sama kelompok pengunjung lain aja biar rame-rame gimana? Aura gedung ini beda. Itu saya dapat pas sejak saya masuk ke dalam kompleknya. *dan sekarang merinding lagi* *buka pintu kamar*.

Masuk ruangan pertama, lampunya nyala mati nyala mati. Aaaaah, gw tau banget niiii!! Aaaaah!!! *usep2rambut*. Dulu pas masih ngajar di Regina Pacis Bogor (yang adalah gedung tua bikinan Belanda juga ya tuan dan nyonya), saya sudah pernah dikasihtahu tentang adanya lampu tertentu yang harus terus dinyalakan (atau dimatikan) due to 'mbak2 dan mas2' di sana belum mau dipindahkan dari situ. Saya ngajar di sana dua tahun sih Puji Tuhan gada kejadian apa-apa. Dan auranya masih tenang-tenang aja. Jalan di RP pas sore/malam juga waktu itu gapapa. But Lawang Sewu? GOSH!! Auranya beda banget!! Kenceng banget!!!

Sudah coba 3kali foto. Tiga-tiganya blur..

Pas saya (dan Sam dan Mas Waluyo the tour guide) masuk, lampu yang tadi nyala mati nyala mati mendadak nyala full. Terimakasih, kami diterima. Tapi tangan saya ga bisa lepas dari mencengkeram lengan Sam (ya masa lengan Mas Waluyo?!), pokoknya itu aura kuat banget nariknya. Horornya berasa beuneuuurrr.. :( *puk2 Sam yang lengannya mungkin sakit saya cengkeram terus2an*

Setelah dari ruangan itu, kami menyusur lorong (yang gelap, lampu mati semua) dengan melipir di sebelah kiri. Saya tahu Mas Waluyo baca bacaan tertentu sebelum masuk tiap ruangan baru dan kemudian jalannya melipir mepet ke salah satu tembok. AAAAAHHH!! Saya tahu banget niii!!! Badan saya mendadak panas dan pusing. Gerah, pengen cepat keluar melihat sinar matahari dan orang-orang. Makhluk hidup yang nyata ajah, ga pake makhluk-makhluk lainnya kali ini Ya Tuhan. Selesai dari lorong, Mas Waluyo ngajak melihat ruangan bawah tanah. Dengan jujur saya katakan saya ga kuat. Saya memilih berpisah, jalan cepat ke arah luar, berkumpul dengan banyak orang yang lagi siap-siap untuk pameran di sana. Cuma Sam yang ikut ke ruang bawah tanah. Eh FYI, Samuel itu indigo. Jadi dia bisa melihat (dan mungkin bisa komunikasi kalau dia mau...tapi awas aja kalau dia pake mau..). Dodolnya, pas keluar dari ruang bawah tanah dan hampirin saya, dia pake bilang "Ga bisa difoto. Ga mau difoto yang di dalam. Udah coba pake kamera ga mau ngeklik, pake kamera hape juga ga mau. Belum mau difoto isinya." EKAMPREEEETTT!!! NGAPAIN LOE PAKE CERITA NYOOONG!!! *graut2 muka Sam*

Selesai dari sana, kami menuju lantai dua. Auranya sedikit lebih tenang walaupun griming-griming masih membayangi tengkuk saya. Dan di tengah ketenangan itu, tiba-tiba Mas Waluyo bilang "Ini ada yang bilang sering liat noni Belanda di ruangan ini..". HUANJIIIRRR!!!! Saya langsung panik dan uda pengen nangis aja. Sam sampe marah dan sedikit membentak Mas Waluyo, "Kenapa mas?? Mas tadi bilang apa??!!" karena pas kejadian, dia masih jalan di belakang saya agak jauh jadi ga dengar apa yang dikatakan Mas Waluyo. Kami langsung cepat ke luar ruangan, cari sinar matahari. Hehehe. Setelah itu jalan santai dan Mas Waluyo (dengan kekampretannya) menunjuk sebuah ruangan gelap di ujung dan bilang, "Itu toiletnya, mau masuk?". Saya kasih tatapan bengis ke dia. Sam dengan senyum cuma bilang "Ngga usah mas, sudah lihat dari sini. Sudah cukup." Saya tahu dia melihat sesuatu. Cuma berharap dia ga bilang apa yang dia lihat saat itu aja. Huhuhu.

Lalu Mas Waluyo ngajak ke loteng. Saya menyerah. Tapi kalau pun saya ga mau ikut, saya juga sebenarnya bingung mau kemana. Menunggu di lorong itu jelas bukan pilihan asoy. Mau ke ruangan lain berarti saya harus melewati ruangan noni tadi. Dan siapa yang tahu berapa lama mereka akan berada di loteng?? GRRRR!!!

Untung Sam menolak ke atas (saya juga tahu dia pasti sudah melihat sesuatu) dan akhirnya kami turun. Turunnya harus melewati lorong super gelap!! Saya jalan turun tangga mepet ke sebelah kanan sambil menguatkan diri sendiri. Sampai di luar, saya sudah agak tenangan walaupun aura gedung ini masih membayangi. Di beberapa kesempatan saya goyang-goyangkan kaki karena merasa ada yang gremeng2i. Hiiiiii. TSUKUP LAH... TSUKUP!! Ga mau lagi balik ke sana. :(


Btw, Mas Waluyo cerita, dulu Tommy Soeharto berencana mengubah Lawang Sewu menjadi sebuah hotel. OKESIP!! Mo jadi apa coba yang tinggal di situ ha??? Lalu, another fact, Lawang Sewu (seribu pintu) sesungguhnya tidak memiliki seribu pintu. Pintunya 850 saja sodara-sodara. :) Lawang Sewu adalah gedung milik PT. KAI. Dulunya pernah jadi tempat kediaman Belanda (pintunya lapis tiga untuk keamanan; pintu kisi-kisi, swing door, dan kemudian sliding door) sebelum kemudian jadi tempat tahanan/penjara.  Lawang Sewu yang sekarang sudah menyempit dari komplek bangunan aslinya karena diambil untuk jalan raya (JL Pemuda) di depannya. Di Lawang Sewu pohonnya adalah kamboja. Sebagai pohon khas pemakaman, pohon kamboja ditanam untuk maksud menjaga 'isi' Lawang Sewu supaya tetap berada di dalam komplek gedung, tidak keluar-keluar. Karena dulunya, 'mereka' sering keluar dan akhirnya memecah konsentrasi pengendara di jalan raya depannya sehingga sering terjadi kecelakaan. Di Lawang Sewu juga setiap saat harus diberikan bunga sedap malam segar. Kalau lalai menyediakan itu, 'isi'nya bisa keluar dari gedung tempat mereka bersemayam sekarang. Jam buka Lawang Sewu dulu sampai malam, bahkan pagi, sekarang jam delapan malam (paling telat jam sembilan) sudah ditutup. Dulu, anggota raker salah satu partai pernah tinggal di sana, dan ya, banyak yang 'dipindahkan', kesurupan, dan bahkan ada yang meninggal. Juru kunci Lawang Sewu yang dulu adalah mantan tentara Belanda (*diralat Sam* Jepang yaaa, bukan Belanda). Yang sekarang adalah mantan tentara Indonesia yang pernah tinggal dan ditugaskan di gedung ini di jaman perjuangan.


Lawang Sewu sekarang dalam masa transisi. Katanya akan dibuat cafe dan bla bla bla di sana. Tapi dengan segala auranya (saya ga bilang angker ya, this is beyond angker, auranya memang sudah beda), harus ada orang hebat yang bisa memindahkan 'mereka' dari sana. Atau jika tidak memindahkan, maka mungkin ada cara lain? But me personally, cukup sekali ke sana. One is enough. :)

Saya ragu ni, saya kasitau ga ya apa saja yang Sam lihat di sana? Mmmm.. Skrg aja saya uda merinding. Mmmm. Besok-besok deh ya. Takut ga kuat. :)



Senyum dulu ah.. :)

Monday, July 2, 2012

Umbul Sidomukti Semarang..

Pas lihat foto Umbul Sidomukti di internet, saya langsung yakin saya akan keukeuh marareukeuh mempertahankan keinginan untuk ke sana. Hihihi. Agak ga ingin dapat panasnya pantai, jadi dinginnya gunung adalah sebuah pilihan yang tepat sekali.. *ala mbak2 Pizza Hut, sambil nempelin jempol ke idung sendiri*

Umbul Sidomukti ada di Bandungan, 45menit - 1jam dari Kota Semarang, lewat toll yang berasa toll Cipularang + JORR. Sampai di sana, saya tahu saya langsung jatuhcinta dengan tempat ini. Perpaduan udara dingin gunung, panorama ciamik, dan pilihan aktifitas adrenalin yang menyenangkan. Tidak ada yang bisa salah dari itu semua. :)


Saya bukan tipikal pemburu sunrise, saya lebih ke pemburu sunset. Bukan karena sunset lebih romantis dan membawa sendu, tapi karena saya malas bangun pagi buta lalu setelah liat sunrise kemudian bengong mau ngapain. Hahaha. *oh so shallow, sue me.. :p* Di Bromo saya niat banget kan ngejar sunrise, tapi sunrisenya tertutup awan, jadi saya ga gitu menikmati prosesnya. Tapi di Umbul Sidomukti, saya dipertemukan dengan cinta yang baru. Cinta pada perpaduan udara dingin merekap dan binar jingga di ujung timur, sempurna ketika kemudian matahari setengah lingkaran menyembul di antara awan dan naik sampai membulat penuh. GOSH!! That was great!! Saya kayak anak kecil dapet lolipop bunder gede, lari-lari kecil ke ujung batas komplek penginapan untuk bisa melihat momentum yang sangat indah itu. Mengejar matahari. Sampai di ujung, diam dan terhenyak, dan kemudian senyam senyum lebar banget. Centil banget kayak ketemu pacar baru!! Cengangas cengenges cengangas cengenges. 

Ternyata momen sunrise itu indah ya. Hahahaha.. :))))))




Jaket masih saya dekap erat, saya bertahan hingga kemudian sinar matahari penuh menyinari. Sok makan pagi di dek depan penginapan sambil sesekali melihat ke arah matahari terus senyum-senyum lagi. Kampungan sangat! Hahahaha. Selesai makan baru kemudian saya kembali masuk, bersiap mandi, melihat wajah, dan cengengesan lagi. Kali ini bukan karena matahari terbit di Umbul Sidomukti, tapi karena sunburn merah di pipi kiri. Hahaha.

Kelamaan (sok) berjemur siiiii.. :))) *getok2palaBulan*



Senyum dulu ah.. :)

Wednesday, May 9, 2012

Vesak Hitam dan Lampion Terbang

Ini adalah alasan utama saya ke Jogja kali ini. Untuk ikut dalam hening raya Waisak - hari suci bagi umat Buddha. Tetapi seperti yang sudah sudah, saya kesulitan mendapatkan informasi tentang perayaan ini. Seperti halnya sampai sekarang saya belum menemukan tempat atau orang yang bisa mengajarkan saya tentang ajaran Buddha. Tapi saya berpikiran positif saja, nanti pasti ada informasinya.

Di pagi hari satu hari sebelumnya, akhirnya saya dapat yang saya cari. Rundown kasar dari acara. Hehehe. Saya sebarkan di Twitter untuk teman Waisakkan saya yaitu KaMadja, Mas Eca, dan Mas Edi. Dari rundown itu, karena hari Minggu itu hari saya ketemu Mas Eca dan Mas Edi dan mereka hanya di Jogja sehari, maka saya hanya akan mengikuti prosesi sore. Pagi dan siangnya, kami akan berjalan-jalan di seputaran Jogja dulu.

Daaaan, karena jalan sama dua cowok riwil, yang ada waktu kami ke Borobudur jadi molor. Itu pun sudah dengan mandi bebek di hotel. Saya dan KaMadja sudah selesai mandi, tu cowok dua belom balik hotel, belum selesai belanja.. Yasalam.. *lempar menyan ke Mas Edi n Mas Eca*

Akhirnya kami berangkat malam sekitar jam delapan. Deg-degan sepanjang jalan takut jalan ditutup seperti yang diberitakan secara heboh melalui Twitter dan deg-degan kelewatan momennya. Hihihi. *tung!!*



Kami sampai di Borobudur jam setengah sembilan. Jalan, Puji Tuhan, ga ditutup. Mobil parkir di luar, kami lalu jalan kaki masuk. Ini kali pertama Mas Edi ke Borobudur, jadi sepanjang jalan dia deg-deg-plas gitu. I could feel his excitement. Just like me kalau melihat foto gereja di dataran Eropah, deilah deg-degannya uda dari Indonesia. Hahaha.

Ketika kami datang, semua masih dalam perenungan. Tak berapa lama ada pemberian pesan kehidupan. Intinya tentang kasih - Meta dan Karuna. Kemudian Pradaksina - mengelilingi pelataran Borobudur 3kali dan pelepasan lentera. Pas Pradaksina, antrian penuh sekali dan kami tidak membawa lilin, jadilah kami dimundurkan. Hihihi. Akhirnya karena ga jelas juga bisa ikut Pradaksina atau engga, saya ajak Mas Eca dan Mas Edi untuk balik ke depan panggung dan menunggu pelepasan lentera aja di sana. Tak berapa lama, rombongan Pradaksina sudah kembali dan lentera-lentera mulai dinyalakan.

Kemudian lentera pertama dilepaskan dari arah panggung. Semua ber'whoaaa...whoooaaa..'. Lalu lentera kedua dan ketiga dan seterusnya. I have to admit, lentera warna bias kuning jingga yang terbang kontras dengan hitam pekatnya malam dan supermoon di ujung sana menerbitkan perasaan yang aaaahh romantis. Saya, Mas Eca, dan Mas Edi tidak ada yang berbicara walaupun berdekatan. Semua hanyut dalam diam menikmati malam dan lentera terbang. That was the most romantic holy day celebration I've ever attended. Indah.




Selesai acara, kami berpegangan tangan berdua-dua dan berjalan. Takut tersirap penuhnya jalan oleh manusia yang ingin keluar dari Borobudur. Tahun depan mau datang lagi? Kalau ada berkat, mauuuuu. Moga-moga tahun depan juga pelaksanaan perayaan Tri Suci Waisaknya lebih teratur lagi (dan ngga hujan). Hehehe. Sadhu sadhu sadhu.



Senyum dulu ah.. :)