Instagram: Ubermoon

Showing posts with label Korea Selatan. Show all posts
Showing posts with label Korea Selatan. Show all posts

Thursday, October 16, 2014

Transportasi di Korea Selatan

Saya dan teman saya, Silka, pernah berkelakar akan kesimpulan yang kami ambil bahwa: Orang yang sudah pernah atau biasa menumpang angkutan umum di Indonesia, seyogyanya akan bisa naik angkutan umum di negara mana pun juga. Hahaha.

Itu semata untuk menunjukkan bahwa fasilitas transportasi umum di Indonesia itu masih belum bisa diandalkan. Jadi kalau sampai bisa mencapai tujuan dengan menumpang angkutan umum di Indonesia, yang di negara lain sih bisa lah. Apalagi negara yang transportasi umumnya sudah terintegrasi dengan baik. :D Eh tapi commuter line Jabodetabek sekarang sudah lebih bisa diandalkan sih. Bangga saya bangga!! :')

Korea Selatan adalah negara dengan transportasi umum yang sangat bisa diandalkan. Saking bisa diandalkannya, kebanyakan orang membuat janjian di keluaran stasiun metro/subway, bukan di mall atau restoran. :D 

Busan
Ada metro di Busan. Metro ini mencakup area mulai dari bandara Gimhae hingga sedikit ke luar kota seperti Beomeosa. Hampir semua destinasi wisata yang diunggulkan Busan bisa dicapai dengan metro. Peta metro Busan ini bisa diminta secara gratis di Tourist Information Center (TIC) Bandara Gimhae. Petanya cukup lengkap dan langsung di rute metronya terlihat tempat-tempat apa yang bisa dikunjungi dan keluaran nomor berapa yang harus diambil serta kalau harus melanjutkan dengan bus, bus jenis apa dan nomor berapa yang harus ditumpangi.

Pembayaran metro dan bus sudah terintegrasi dan bisa menggunakan T-Money (kartu turis yang bisa dibeli dan diisi ulang di seluruh minimarket GS25). Harga tiket bervariasi tergantung jauh dekatnya jarak yang ditempuh. Ada diskon 10% kalau menyambung transportasi dalam waktu 30menit; jadi misalnya, naik subway lalu lanjut naik bus, nah kalau tap T-Money di busnya kurang dari 30menit, harga tiket busnya didiskon. Saya nggak cek lagi sih soal diskon-diskon ini, saya sih main tap-tap saja. Hahahaha.

Melihat okenya metro Busan, maka saran saya, dalam memilih penginapan, pilihlah yang dekat dengan entrance/exit stasiun metro. Entrance/exit dari sebuah stasiun berjumlah banyak. Kadang ada yang sampai 6. Posisinya sesungguhnya tidak berjauhan antar entrance/exit ini, tapi kalau sampai salah keluar, sudah pasti pusing. Saya dan Bujendral pernah salah keluar dan itu memutar jauh sekali. Huhuhu. Mana sudah malam pula, capek dan lelah pula, lapar pula. :'(

Penggunaan peta metro Busan sama kok dengan MRT Singapore atau LRT Malaysia. Misalnya penginapan ada di Jagalchi dan mau menuju ke Pantai Haeundae, maka rutenya adalah Jagalchi - Seomyeon (Line 1 - Jingga Tua), Seomyeon - Haeundae (Line 2 - Hijau). Di Jagalchi, karena Seomyeon adalah stasiun transit (terhitung stasiun besar), maka mudah cari tulisan arah Seomyeon. Kalau ternyata nggak ada, cari tulisan Nopo (stasiun terakhir dari rute Jagalchi yang melewati Seomyeon). Saat di Seomyeon, tidak usah keluar karena hanya akan transit. Alih-alih, cari tulisan 'Transfer to Line 2'. Tulisan biasanya dilatari warna hijau sesuai warna Line-nya. Tapi jangan sampai salah, di Busan, Entrance/Exit itu diwarnai hijau juga, tapi hijau kotak-kotak, bukan latar. Ribet? Enggak kok, ini kan karena belum dijalani saja, baru dibaca. Kalau sudah sampai sana, lama-lama juga terbiasa. :D

Setelah menemukan peron untuk Line 2, lanjut cari tulisan Haeundae. Kalau nggak ada, maka cari tulisan Jangsan. Karena apa? Yap benar, karena Jangsan adalah stasiun terakhir dari rute Seomyeon - Haeundae. :) Paham dong ya.. Bagaimana? Kalau belum, silakan tanya lagi di kolom komentar, nanti saya jelaskan. :)

Cetak layar dari sini. Klik untuk memperbesar.

Sokcho
Tidak ada metro atau subway di Sokcho, tapi ada bus dengan rute lengkap mencakup hampir seluruh pelosok kota. Seperti yang saya ceritakan di sini, bus di Sokcho sangat bisa diandalkan. Secara jadwal memang tidak seperti metro yang datang tiap beberapa menit, tapi menunggunya juga tidak lama kok. Jalan utamanya hanya satu dan dilewati banyak trayek bus.



Lihat foto bagian peta di atas, yang dipakai putar-putar ya paling hanya beberapa bus di bawah judul 'City Bus Route' itu. Hihihi. Untuk menuju Seoraksan National Park tinggal naik bus no 7 atau 7-1. Bus ini juga melewati pinggir Sokcho Beach di bagian mercusuar dan juga melewati Rodeo Street. Menuju Hotspring dan Seorak Waterpia, naik bus 3 atau 3-1. Selain bus, sepeda juga lazim digunakan di Sokcho, beberapa penginapan memberikan sewa gratis sepeda-sepeda ini.

Pembayaran bus di Sokcho tidak bisa dengan T-Money; hanya dengan uang tunai atau kartu kredit. Kalau pakai kartu kredit, di-tap dua kali saat naik dan saat turun. Untuk minta berhenti, ketuk-ketuk atap atau teriak 'Left, Sir!!' pencet tombol berhenti yang ada di dekat pintu keluar. Budaya tertib di Korea Selatan sudah bagus, jadi semua tertib naik dari pintu masuk di depan dan keluar dari pintu bus yang ada di tengah. :D

Seoul
Metronya Seoul adalah sistem metro tersibuk ketujuh di dunia dan saat saya lihat petanya, saya langsung pusing. Hahaha. 

Cetak layar dari Cyber Station. Klik untuk memperbesar.

Yang membuat pusing sebenarnya bukan sistem menumpangnya karena sistemnya sama seperti metro di Busan. Yang membuat pusing itu mencari nama satu stasiun di antara penuhnya rute yang ada. Hihihi. Jadi kalau mau janjian, misalnya diberitahu di Stasiun Heukseok exit 4; nah daripada bingung dan pusing mencari nama Heukseok di peta, langsung saja tanya Heukseok itu Line berapa. Saat diberitahu Line 9, nah tinggal dirunutkan satu-satu deh Line 9 itu untuk mencari Heukseok. Setelah menemukan, dikasih tanda ya di peta (dilingkari misalnya), karena saya pernah sudah menemukan satu stasiun lalu saya lagi mau merunut rute yang bisa ditempuh dari stasiun awal saya, eh stasiun yang tadi ditemukan hilang masaaaaaaaa. Pusing lagi mencarinya. Fiuh. *gigit-gigit T-Money*

Yang juga membingungkan, coba lihat Line 1, itu di tengah-tengah antara Sema - Seryu ada Stasiun Byeongjeom nah lalu ada jalur dari Byeongjeom ke Seodongtan. Jadi itu bagaimana? Kereta yang ditumpangi akan ke Seodongtan atau tidak? Atau lihat Line 5, kalau naik dari Bangi mau ke Achasan, nah sampai di Gangdong, bagaimana kita tahu itu kereta itu akan ke Sangildong atau ke Banghwa? Harus turun lagi? Ganti kereta? Nah sampai sekarang, saya juga nggak pasti tentang jawaban keraguan-keraguan di atas, maka baiknya, tanya saja saat di kereta apakah kereta itu menuju tujuan yang diinginkan. Hahahaha. Nggak membantu ya. :')

Metro di Seoul bisa dibayar dengan T-Money. Bus dan taksi juga bisa dibayar menggunakan T-Money tapi saya tidak coba menumpang bus dan taksi di Seoul. Metro sudah mencukupi kebutuhan jalan-jalan saya dan Bujendral. :D


Umum
Di terminal bus antar kota, hampir semua keterangan dan jadwal diberikan dalam tulisan Hangeul. Petugas loketnya juga kurang lancar berbahasa Inggris. Jadi bagaimana kalau mau beli tiket bus antarkota? Jangan khawatir, di setiap terminal bus antarkota ada Tourist Information Center. Setiap mau beli tiket, saya selalu ke sana dan bertanya tentang jadwal yang saya inginkan dan konfirmasi ulang harga dari yang saya dapat di situs ini. Nanti petugas TIC akan menuliskan rute dan tiket apa yang mau dibeli dalam tulisan Hangeul dan kertas itu tinggal diberikan ke petugas loket. Untuk itulah, jangan datang mepet waktu ke terminal. Kadang, TIC akan penuh dengan turis jadi harus tunggu giliran dilayani.

Catatan yang dibuat oleh petugas TIC dan tiket yang didapat! :D

Sedikit saran, pilihlah penginapan yang dekat dengan entrance/exit stasiun metro atau halte bus. Dari dan ke-nya bisa dicapai dengan berjalan kaki gitu. Setelah sudah tahu entrance/exit terdekat, di hari pertama, coba jelajahi pilihan entrance/exit yang ada untuk mencari yang mana yang ada eskalatornya. Hahaha. Ini penting karena seperti yang sudah saya ceritakan di sini, tangga naik dan turun di stasiun itu tinggi-tinggi, kadang sampai lapis tiga. Betis berkonde kalau naik tangga terus, maka carilah eskalator. Saya dan Bujendral lebih pilih agak memutar sedikit atau harus menyeberang jalan demi keluar di exit yang ada eskalatornya dibanding exit lebih dekat tapi naik tangga. Hihihi. Cek juga apakah benar stasiun terdekat adalah yang sesuai dengan nama daerahnya. Misalnya saya kemarin di Busan menginap di daerah Jagalchi tapi entrance/exit terdekat justru menyambung kami lebih cepat ke Stasiun Nampo-dong daripada Stasiun Jagalchi.

Jarang sekali ada petugas di stasiun atau terminal yang bisa berbahasa Inggris. Tapi mereka berusaha untuk mengerti dan membantu kok, jadi jangan panik atau takut. Di Seoul, banyak penduduk yang bisa berbahasa Inggris dan kalau kita menampakkan wajah bingung sedikit saja, langsung banyak yang ingin membantu. Kebalikannya terjadi di Busan. Hampir tidak ada orang yang bisa berbicara atau mengerti Bahasa Inggris jadi semua bergantung ke ketenangan dan keyakinan diri kita dalam menentukan rute secara mandiri. :)

Yang penting tenang.

Seperti kata Isya, saat saya menahan tubuhnya di dalam air, menunggu ia memakai goggles:

You know what can save you (in the water), Tante Bulan? You being calm!

Saya setuju dan selalu ingat kata-kata itu, saya terapkan di keseharian saya. Semua bisa dicari solusinya dan semua akan baik-baik saja kalau saya tenang. :) Walaupun saat kata-kata itu keluar dari mulut anak berusia 8tahun itu, saya lagi bersusah payah menenangkan diri, menggerakkan kaki tak ber-fin saya, menendang-nendang air, demi menjaga kepala dia tidak masuk ke dalam air laut yang asin dan memerihkan mata. Hihihi.

Senyum dulu ah.. :)

Friday, October 10, 2014

Jangan ke Nami Island!!

"Ke Nami nggak, Lan?"
"Wah, asyik dong lama jalan-jalannya. Ke Nami juga kan, Bul."
"Kamu ke Nami Island kan, Lan?"

Pertanyaan dan saran ke Nami Island deras saya terima mendekati hari H keberangkatan ke Korea Selatan. Sesungguhnya perasaan saya dan Nami Island itu agak tidak klik. Nami Island bagus dikunjungi saat musim gugur (atau musim dingin) dan saat saya datang, musim gugur belum maksimal menyapa. Nami Island terkenal dalam hubungannya dengan drama Korea, Winter Sonata, nah, saya tahu film itu saja tidak. Hihihi. Jadi sesungguhnya saat saya ke sana, hati ini masih tertinggal dan kaki ini malas beranjak. Sudah begitu, cara menuju Nami Island ini, ternyata tidak bisa dicapai secepat itu.


Stasiun terdekat dengan penginapan adalah Hyehwa. Melihat peta Metro Seoul, saya harus cari rute yang walaupun jauh dan memutar tapi transitnya lebih sedikit. Dengan begitu, keharusan untuk naik turun tangga selama di stasiun transit tidak terlalu memberatkan. Jangan anggap enteng, di beberapa stasiun metro di Seoul memang tidak disediakan eskalator dan tangganya tinggi-tinggi. Elevator tersedia tapi tertulis jelas untuk lansia atau pengguna kursi roda; ya malu hati gitu kalau kita ikutan pakai elevator. Hihihi.

Akhirnya diputuskan rutenya adalah Hyehwa - Nowon, Nowon - Sangbong, dan Sangbong - Gapyeong. (Untuk bisa lihat peta Metro Seoul, silakan klik di sini.) Lalu setelah di Gapyeong sudah sampai? Oh belum!! Keluar dari Gapyeong ada dua pilihan. Bisa naik taksi atau naik bus. Info ini didapat dari pemandu wisata di pintu keluar Stasiun Gapyeong. Beliau justru mengisyaratkan untuk naik bus saja daripada naik taksi. Ya baiklah, akhirnya saya dan Bujendral naik bus. KEPUTUSAN YANG SALAH!

Seperti yang pernah saya tulis, supir bus di Korea Selatan tidak bisa berbahasa Inggris dan saya pikir, karena kami menunggu di halte yang tertulis Nami, dan bus berhenti tepat di depan halte tersebut, maka sudah pasti kami naik bus bertujuan ke dermaga di Nami. Bus jalan dan jalan hingga kemudian berhenti di terminal. Saya bengong. Harusnya kami ke tempat ferry menyeberang tapi terminal itu ada di darat dan di sekelilingnya tidak ada danau atau air yang bisa diseberangi dengan ferry. DUH!

Mana pula seluruh papan petunjuk hanya memakai Hangeul. Krik krik. Bertanya pada beberapa orang di jalan dan hampir semua mengacu kami untuk naik taksi hingga ke dermaga. WHAT?? Tahu begitu, dari keluar stasiun tadi saja langsung naik taksi! HIH! *bejek pemandu wisata di Gapyeong*

Sampai di Nami, hari sudah panas terik dan deretan mobil parkir sudah penuh, kami pun makan dulu. Sambil menunggu makanan datang, saya buka-buka brosur Nami Island yang tadi diberikan di depan Stasiun Gapyeong dan mata ini tertumbuk ke tulisan 'Shuttle'. 

Saya baca lagi pelan-pelan dan kemudian ingin rasanya membenturkan kepala ke dinding. Ternyata ada Shuttle Bus dari Insa-dong ke Nami Island! Dan itu direct shuttle bus!! Haaaa!! Kenapa tadi pakai naik turun dan ganti metro kalau ada bus langsung ke Nami??? KENAPAAAA??? Aaaaargh!! Benci saya benci!! Kalau tadi naik shuttle bus itu sudah pasti kami sampai di Nami lebih cepat, tidak pakai menyasar, dan tidak pakai capek! Ih saya benci deh kalau saya kurang teliti cari info. Huhuhu. Memang sih harga shuttle bus ini lebih mahal dibanding kalau naik metro, tapi sungguh sangat mending naik shuttle bus itu. Hemat waktu hemat tenaga.

Shuttle bus ke Nami Island ada dari dan ke Insa-dong dan Stasiun Metro Jamsil. Beroperasi setiap hari. Berikut jadwalnya:

     * Insa-dong - Nami Island: 09.30. Bus ada di samping Tapgol Park, dekat Gerbang Barat.
     * Stasiun Jamsil  Nami Island: 09.30. Bus ada di depan Lotte Mart, Stasiun Jamsil exit 4.
     ------------------------------------------------------------------------------------------------------------
     * Nami Island - Insa-dong/Jamsil: 16.00. Bus ada di belakang loket beli tiket.

Harga shuttle bus ini KRW15000 untuk pulang-pergi, dan KRW7500 untuk sekali jalan. Saya akhirnya beli tiket shuttle bus sekali jalan untuk pulangnya. Tapi itu berarti saya harus berada di dermaga lagi jam 16.00 dan naik ferry dari Nami jam 15.40. Saya menengok jam di tangan dan miris, hanya ada waktu 2 jam yang bisa saya habiskan di Nami Island. HAHAHAHA!! Sudah jauh, waktunya sedikit pula. HAHAHAHAPHAPHAP!! *ketawa ngakak sambil ngunyah tteobokki*

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------



Menginjakkan kaki di Nami Island, saya langsung ingin split mengangkang. Sungguh tempat ini overrated sekali. Hihihi. Mungkin untuk penggemar drama Korea, tempat ini keren karena punya beberapa momen dari serial yang ditonton. Pohon-pohon tinggi menjulang di kanan kiri jalan, ada rute jalan yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki ataupun naik sepeda. Ada kolam ikan, kolam renang, dan beberapa taman tematik. Di Nami Island juga tersedia sewa sepeda. Sepeda yang disewakan ada yang satuan atau tandem berdua. Kenapa ada yang tandem? Karena ternyata Nami Island ini memang adalah tempat tepat untuk menghabiskan waktu bersama .... pasangan. GLEK! Hihihi.

Aura penuh cinta tersebar di mana-mana. Banyak sekali pasangan memakai baju seragaman, menikmati satu es krim berdua, berpelukan di pinggir danau, bersepeda sambil bercanda, atau sekedar duduk di bale-bale. Belum pernah saya datang ke suatu tempat dan merasakan melimpahnya aura cinta selain di Nami Island ini. :)

Duduk peluk-peluk..

Jalan rangkulan..

Berangkulan memandang masa depan..

Mengobrol di pinggir danau..

Sepedaan..

Dengan waktu yang sedikit, saya dan Bujendral akhirnya naik Electric Tour Car keliling Nami Island. Dengan membeli tiket seharga KRW5000, kami diajak berkeliling selama 20-30menit. Electric Tour Car ini sudah ada pemandunya, wah lumayan lah jadi mengerti lebih dalam tentang Nami Island, pikir saya. Tur pun dimulai dan ....... jiahahaha, pemandunya menjelaskan segala sesuatu dalam Bahasa Korea! Oke BYE!!

Lucu mengingat Nami Island ini adalah tempat wisata yang terkenal bagi wisatawan mancanegara tapi kok pemandunya malah memberikan penjelasan hanya dalam Bahasa Korea. Hihihi.

Setelah berkeliling, Bujendral sudah kelelahan (hasil dari naik turun ganti kereta tadi) dan memutuskan menunggu saya yang jalan-jalan sendiri saja. Saya pun tidak bisa jalan terlalu jauh karena harus kembali ke dermaga untuk naik ferry jam 15.40. Berjalan-jalan sebentar, saya masih tidak menemukan apa spesialnya pulau ini. Semua terasa biasa saja. Tidak ada suasana yang menyenangkan dan membuat betah.

Di perjalanan ferry kembali ke dermaga awal, saya melihat Nami Island sekali lagi dan akhirnya tahu apa yang membuat pulau ini dinilai 'wajib kunjung' oleh banyak orang. Selain karena drama Korea itu, Nami Island dibentuk sebagai pulau pelesiran bagi para pecinta. Nami Island memberikan aura romantisme yang tidak ada habisnya. Nami Island cocok bagi pasangan yang ingin memperkuat hubungan dengan menghabiskan satu hari penuh hanya berkeliling di pulau ini saja.

Untuk itulah saya tuliskan..

JANGAN KE NAMI ISLAND.
JANGAN!
JANGAN KE NAMI ISLAND KALAU TIDAK DENGAN PASANGAN.

Aura cinta di pulau ini kuat sampai kadang menyesakkan. Kalau kita ke sana sendirian (atau bukan dengan pasangan), bersiaplah merasakan kekosongan hati yang mendalam dan kemudian terdiam.

Tidak ada yang spesial bagi saya di Nami Island. Pemandangan pun terhitung biasa saja. Tapi kekuatan aura cintanya memang tidak main-main adanya. It will suck you to your last drip of blood when you see all those couples. Yet, they are very cute you can't help but feeling happy for them! Hihihi.

Jadi saya ulang.

Jangan ke Nami Island.
Jangan.
Kalau tidak dengan pasangan.

Okay. 
I've warned you. Hihihi.

Senyum dulu ah.. :)





Tuesday, October 7, 2014

Sokcho - Kota Kecil yang Menggugah Hati..

Nama kota ini tidak terlalu terkenal dibanding Busan atau Seoul. Tapi, menghabiskan dua malam di kota kecil ini membuat saya segar kembali. Kota ini sudah menyentuh hati saya. Sokcho namanya.

Sokcho adalah kota kecil, lima jam dari Busan, dua jam dari Seoul. Merupakan kota gerbang masuk Seoraksan National Park, kebanyakan wisatawan datang ke Sokcho memang untuk mendaki gunung yang terkenal ini: Gunung Seorak!



Saat saya jadinya ke Korea Selatan bersama Bujendral, saya sempat berpikir ulang apakah akan ke Sokcho atau tidak; akan mendaki Gunung Seorak atau tidak. Setelah melalui pemikiran yang lumayan lama, akhirnya saya memutuskan akan tetap ke Sokcho! Keputusan ini tidak salah. :)

Kami sampai di Sokcho siang menuju sore. Pertama memasuki kota ini dengan bus, saya langsung suka! Ada rasa 'homey' terasa. Jalan utamanya besar namun tidak terlihat sibuk, justru cenderung lengang. Udaranya menyegarkan dan orang-orangnya banyak senyum. Dengan santai kami jalan menggeret koper dari terminal menuju penginapan.


Memasuki penginapan, rasa hangat terasa. Host kami yang lancar berbahasa Inggris memberitahu kami beberapa tempat di Sokcho yang bisa dikunjungi. Tidak hanya Taman Nasional Seoraksan, di Sokcho ini juga ada danau, perkampungan nelayan (yang menjadi tempat syuting salah satu K-Drama.. oh, jangan tanya saya judulnya.. hahaha), pusat spa alam, laut, satu jalan terkenal sebagai pusat perbelanjaan, dan pasar ikan! Kecil tapi ternyata banyak yang bisa dijelajahi. :D

Untuk transportasi, di Sokcho tidak ada metro/subway, hanya ada bus dan taksi. Bus dan taksinya tidak bisa dibayar dengan T-Money, cash atau pakai kartu kredit saja. Tidak tahu sih kartu kredit dari Indonesia bisa dipakai atau tidak karena saya nggak coba. Hihihi. Saya juga tidak coba naik taksi di sana karena bus sudah memenuhi banyak rute dan terhitung sangat nyaman. Yang penting ada uang pecahan kecil untuk bayar. :D Transportasi lain: sepeda! Di penginapan saya ada sepeda yang bebas dipakai keliling, cuma sayangnya saat saya dan Bujendral mau sepedaan, sepedanya lagi habis dipakai semua. :(



Senangnya lagi, setelah satu hari satu malam di Sokcho, saya dan Bujendral sama-sama menyadari bahwa supir bus di Sokcho amat sangat 'melayani' dan menjaga penumpangnya. Bus hanya akan berhenti dan mengangkut penumpang di halte. Itu sudah biasa? Iya! Nilai plusnya adalah, karena kebanyakan yang naik adalah orang tua, bus tidak akan jalan sebelum supir melihat orang tua itu duduk (atau mendapat pegangan - kalau kursi bus sudah terisi penuh) dari spion tengahnya yang besar. Jadi semua penumpang sehat selamat bahagia tenang tentrem. :)

Karena kota kecil, di Sokcho juga kami mengalami keramahan tak terkira. Mulai dari host penginapan kami yang mengantar kami keluar dan menunggu hingga kami berbelok sambil terus menunduk-nunduk hormat, sampai seorang ibu-ibu yang menyapa kami di terminal bus dan berbicara dalam bahasa Korea dengan cepat, tak berhenti, walaupun beliau tahu kami tidak mengerti satu kata pun yang diucapkan. :))



Di hari kedua kami di Sokcho, Bujendral bertanya apa bisa kami tinggal lebih lama di kota ini dan mengurangi jatah bermalam kami di Seoul (kota selanjutnya yang akan kami kunjungi setelah dari Sokcho ini). Sebegitu menancapnya Sokcho di hati kami.

Sokcho.

Kota yang ramah dan menyenangkan. Kota yang akan sangat nyaman untuk ditinggali (dan dikunjungi lagi) di masa tua. Kota dengan aura damai dan hangat. Kota yang menggugah hati. :) Menawarkan banyak tempat dan pengalaman lebih dari hanya sekedar kemasakinian.


Senyum dulu ah.. :)

Wednesday, October 1, 2014

Galau di Haeundae Beach, Busan

Jalan sama teman itu menyenangkan. Jalan sendiri juga bebas. Jalan sama orangtua juga pasti asyik. Nah, jalan sama pacar?

Katanya, kalau mau tahu tentang seseorang secara lebih mendalam, ajak jalan bersama. Nanti akan kelihatan aslinya seperti apa. Saya setuju dengan pernyataan tersebut; sayangnya, saya kurang beruntung dalam hal itu. Hihihi. Dari beberapa kali rencana jalan dengan kekasih, pada akhirnya kami putus mendekati hari H keberangkatan. Bagaimana coba aku bisa lebih mengerti dirimu mas jika belum berangkat pun kita sudah melambaikan tangan tanda perpisahan dan mengibarkan bendera putih? Ihiks. *peluk pilar bandara* :p

Kalau sudah putus lalu nggak jadi jalan, Lan?
IH ENAK SAJA!
Saya bayar tiket saya sendiri dan tidak ada yang bisa menghentikan saya dari tetap pelesiran kecuali jumlah sisa cuti yang mencekik dan tatapan mata cici HRD yang menusuk. I'm always good to go! Sendiri juga nggak apa. Hehehe.

Tapi ternyata, walaupun jalan-jalannya tetap terasa asyik, ada beberapa tempat yang menimbulkan aura romantisme dan ada beberapa momen yang membuat saya galau. Tempat dan momen itu salah satunya terjadi di Haeundae Beach.

Haeundae Beach ada di distrik Haeundae - Busan. Untuk mencapai pantai ini terhitung mudah, naik subway line 2 sampai Haeundae, lalu keluar di exit 3 atau 5 . Setelah keluar, tinggal jalan kaki saja lurus, menyeberang jalan, sampai deh. :D


Saat musim panas, pantai ini akan dipenuhi pengunjung dan payung-payung besar berwarna-warni yang bisa disewa. Untungnya saat kemarin saya datang sedang musim peralihan dari musim panas ke musim gugur. Udaranya sejuk dengan angin dingin beberapa kali berhembus. Airnya, diluar bayangan, ternyata dingin! Tidak ada payung-payung besar yang menghalangi pandangan. Hanya ada pasir coklat muda (warna pasirnya lucu lho, bukan coklat bukan kuning, diantaranya lah. :D) dan beberapa pengunjung duduk menikmati waktu dan semilirnya angin. Saya membuka sepatu dan merasakan halusnya pasir menyentuh kaki dan kemudian perasaan itu hadir.

Perasaan .....



galau.
:'(

Saya berusaha memandang jauh ke depan, berusaha menikmati sekeliling dengan senyum mengembang, berusaha menepis ingatan akan dia. Yang tak boleh disebut namanya. Hihihi. Boleh deng, Costa jelek Costa jelek Costa jelek. Sudah tuh disebut. :p

Ada satu pasangan yang berada tidak jauh dari tempat saya dan Bujendral duduk. Tidur di atas handuk, masing-masing sibuk membaca buku, tapi tangan sang lelaki mengait di pinggang sang perempuan. Momen yang selalu saya impikan. Diam dalam nyaman.

Hati saya berdesir. Seperti ada yang meluruh dari dada. Mungkin ini yang namanya pedih. Mungkin harusnya saya tidak perlu melihat mereka.

Saya cepat mengalihkan pandangan. Yang sayangnya, terbentur dengan pemandangan lain: pasangan yang sedang tertawa bersama sambil berangkulan.

*korek-korek pasir*
*jorogin pasangan-pasangan itu ke air*

Harusnya saya ada di sana bersama dia, menikmati waktu seperti pasangan-pasangan itu.

Saya terdiam.
Cukup lama.
Berusaha mengumpulkan pecahan hati yang tersebar hingga dua meter ke depan.
Pendek ya.
Iya.
Kan saya kuntet.

Beruntung saya ada di sana bersama Bujendral, yang walaupun diam dan tidur, tapi 'ada' untuk saya. Beruntung juga karena ada beberapa pengunjung anak-anak belasan tahun yang sibuk mengambil foto loncat atau selfie dengan riang cenderung berisik. Dan beruntung ada empat orang laki-laki yang lumayan bening tiba-tiba datang sambil becandaan di dekat saya. Hihihi. Haloh adek-adek unyu, sama kakak sini yuk sini.. *tepuk-tepuk pasir*


Pecahan hati itu sudah mulai tersusun ketika saya memutuskan untuk merebahkan tubuh di samping Bujendral. Mencoba menikmati semilirnya angin. Bersyukur sudah diberikan kesempatan menikmati satu lagi berkat Tuhan. Dan bersyukur karena ternyata saya masih punya hati (yang bisa pecah dan remuk). Seenggaknya, itu berarti, saya masih hidup. :)

Sambil melihat langit yang cerah menggantung sore itu, saya tersenyum.
Seraya berujar di dalam hati.
'I forgive you.'

I do.

Seperti sakit dari Caesar yang saya tinggalkan di Maya Beach - Thailand, kali ini saya meninggalkan sakit dari Costa di Haeundae Beach - Korea Selatan.

Saya beruntung ya. Meninggalkan sakit hati saja bisa sampai jauh-jauh begitu. Hihihi. Semoga nggak jadi kebiasaan. Nanti susah. Setiap sakit hati harus pelesiran jauh untuk meninggalkan sakitnya dan memberikan maaf. Hati bahagia, dompet merana. Hihihi.

Senyum dulu ah.. :)

Thursday, September 25, 2014

Hambatan Bahasa di Busan

Saya orang yang selalu berpikir saya bisa ke mana saja dan mudah mendapatkan informasi di luar negeri karena memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang lumayan. Tidak pernah terpikirkan oleh saya bahwa ternyata kemampuan Bahasa Inggris saya tidak banyak membantu ketika kaki ini menapak tanah Korea Selatan untuk pertama kalinya di Busan.

Busan adalah kota metropolitan kedua di Korea Selatan. Tuan rumah untuk Asian Games 2002 dan APEC 2005 serta salah satu tuan rumah FIFA World Cup 2002. Bulan hebat ya bisa tahu semuanya. Iya, soalnya ada di Wikipedia. Hahaha. Dengan segala predikat 'tuan rumah' tersebut, tentunya, pikir saya, Bahasa Inggris adalah bahasa yang cukup sering digunakan di Busan. Maka sudah pasti tidak akan terjadi gegar budaya dalam bentuk hambatan bahasa.

Tadaaa...

Saya salah.

:(

Sulit sekali berkomunikasi dengan Bahasa Inggris di Busan. Hampir semua tulisan di toko-toko yang ada di Busan hanya memakai Hangeul tanpa ada sedikit pun terjemahan ke Bahasa Inggris. Ini termasuk ke restorannya juga. Sedikit sekali restoran yang menerjemahkan atau menjelaskan menunya dalam Bahasa Inggris. Dan hampir setiap orang yang saya temui tidak bisa berbahasa Inggris. Bahkan orang di hostel kami pun tidak bisa berbahasa Inggris.



Hari pertama di Busan, hambatan bahasa ini membuat energi saya terkuras. Bertanya tentang arah jalan, tidak ada yang mengerti. Bertanya tentang makanan yang mau kami makan, tidak ada juga yang mengerti. Pada akhirnya saya malas bertanya pada orang lain dan memilih untuk mencari solusi sendiri untuk semua hal yang terjadi di perjalanan. Hihihi.

Tapi apa hambatan bahasa ini mencegah saya dan Bujendral untuk menjelajah Busan? Oh tentu tidak. Busan terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja. Berbekal peta yang saya minta di bandara, kami jalan mandiri. Dan karena jalan-jalan ini, ternyata ada beberapa area di Busan yang orang-orangnya cukup mengerti Bahasa Inggris. Yay! Berikut beberapa pengalaman saya dengan hambatan bahasa ini selama di Busan.

* Kasir di Restoran Cepat Saji Lotteria dan McDonald bisa berbahasa Inggris. Walaupun minim tapi cukup untuk bisa berkomunikasi.

* Banyak orang Busan yang terkesan cuek dengan orang yang mencoba bertanya jalan. (Mungkin) seperti orang Jepang, mereka bukan cuek melainkan pemalu dan tidak enak hati karena tidak bisa bantu jawab pertanyaan dalam Bahasa Inggris.

* Paris Baguette Bakery, walaupun namanya Paris tapi kasir dan pelayannya sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris (apalagi Prancis..huikikikik). Nggak nyambung ya. Iya. :p

* Area Hauendae Beach adalah daerah wisata dan cukup banyak yang bisa berbahasa Inggris walaupun patah-patah.

* Jagalchi Fish Market, walaupun adalah pasar ikan terbesar, tapi tidak banyak (kalau tidak mau dikatakan 'tidak ada') yang bisa berbahasa Inggris. Menu pun tidak ada dalam Bahasa Inggris.

* Area Gwangali Beach (Gwangan Bridge) ada yang bisa berbahasa Inggris. Paling tidak di satu restoran, ada satu yang cukup lancar Bahasa Inggrisnya.

* Area Beomeosa, jarang sekali ada yang bisa berbahasa Inggris. Tapi orang-orang di area ini sangat ramah dan hangat ke wisatawan dan niat sekali membantu.

Ada satu kejadian lucu saat di Beomeosa. Pulang dari Beomeosa Temple, saya dan Bujendral ingin cari makan. Kami pun masuk ke salah satu restoran yang terlihat cukup penuh. Saat melihat kami datang, tante di restoran tersebut langsung menambahkan ucapan 'Welcome' setelah mengucap Anyonghaseyo. Oh, tanda baik, seenggaknya tante ini ada niat untuk berbicara Bahasa Inggris pada kami. :D



Dengan Bahasa Korea, tante ini dengan semangat menjelaskan semua menu sambil menunjuk gambar-gambar yang ada di dinding. Berarti begitu cara pesannya, tunjuk saja gambarnya. Hihihi. Lalu saat kami sudah yakin mau memesan apa, saya memberikan angka 1 dengan jari dan menunjuk salah satu gambar, kemudian memberikan angka 1 lagi dan menunjuk gambar lainnya sambil berbicara dalam Bahasa Inggris. Sepertinya tante itu mengerti. :D Tapi kemudian ada satu pasal lagi, Bujendral tidak makan daging babi. Hmmm, bagaimana menanyakannya ya?

Saya: Is it pork?

Tante: ... (bingung)

Saya: Pig?

Tante: Piiiikkkiii?? (dengan tatapan makin bingung)

Akhirnya dengan sedikit malu, saya mengangkat hidung saya biar jadi hidung babi lalu mengucap "Oink.. oink..?"

Tante itu mengucap "Aaaaah..." panjang tanda dia (sepertinya) mengerti maksud saya kemudian dia menundukkan kepalanya seperti ingin berbisik. Saya dan Bujendral jadi mendekat juga ke wajahnya. Setelah dekat, dari bibir tante itu keluarlah suara, "Moooo..."

Buahahahahahaha!! Jadi ini daging sapi, bukan babi. Hihihi. Begitulah cara komunikasi efektif. Ala Tarzan! :D

Di Busan pun kami tidak hanya menggunakan subway untuk jalan-jalan, tapi juga harus menggunakan bus. Nah supir bus SAMA SEKALI tidak menguasai Bahasa Inggris. Jadi bertanya ke supir bus dalam Bahasa Inggris adalah kesia-siaan. Maka saya mending nggak nanya. Hihihi.

Saat saya dan bujendral mau ke Dongnaeeupsong Fortress, di peta, benteng ini disandingkan dengan Bukcheon Museum. Menuju ke sana adalah dengan naik subway sampai Dongnae lalu keluar di pintu 4 dan lanjut bus no 6 atau 6-1. Tapi saat kami keluar di pintu 4, bus no 6 tidak ada di dalam daftar. Krik krik.

Ada bus no 5 sedang berhenti tapi seperti yang saya tuliskan di atas, bertanya pada supir bus dalam Bahasa Inggris adalah kesia-siaan. Hihihi. Setelah jalan kesana kemari tak tentu arah dan bertanya pada dua orang yang (juga) tidak mengerti apa yang saya katakan (hiks), saya memberanikan diri menunjuk nama tempat yang ingin kami datangi ke seorang perempuan dengan rambut ala Dora. Dia lalu mengulang nama itu dan memberikan tanda dengan tangan supaya kami mengikutinya. Kami jalan jauh sekali tanpa tahu mau dibawa kemana hubungan kita bila kau terus menunda-nunda dan tak pernah nyatakan cinta.

Saya berusaha bertanya lagi dengan Bahasa Inggris yang saya lambatkan, perempuan itu mengucapkan "Dae..Dae.." kemudian jalan lagi. Sudahlah, ikuti saja. Hihihi.

Hingga kemudian kami tiba di satu sudut dan dia berkata dengan terbata-bata dan cadel, "Here. Six only. Here."

Ya ampun, kami benar diantar ke halte bus-nya lho. Dan halte bus ini jauh dari titik awal kami jalan tadi. Dan itu berarti perempuan dengan rambut Dora itu harus jalan kembali ke titik awal tadi setelah mengantar kami. Terharu. Semoga mbaknya diberikan kesehatan dan waktu untuk menikmati berkat Tuhan seperti kami. Amin.

Jadi, memang komunikasi terhambat sekali di Busan. Tapi pun dengan hambatan bahasa, kami tetap bisa menikmati Busan. Kaget? Iya. Tapi justru menambah khasanah pengalaman saya. Seenggaknya sampai saat ini, hanya di Busan lah saya bisa memeragakan hidung babi ke seorang tante-tante sambil mengucap 'Oink.. Oink..'. Hihihi..

Oink oink!!

Senyum dulu ah.. :)

Wednesday, September 24, 2014

Mengurus Visa Korea Selatan

Mengacu ke post Negara Bebas Visa atau Bisa VOA ini, terlihat dong kalau kita, penduduk Indonesia nan kece dan caem, memerlukan visa untuk masuk Korea Selatan. Jadi bagaimana mendapatkan visa ini?

Cara pertama adalah tentunya mendaftar sendiri. Cara kedua untuk yang nggak mau ribet adalah dengan meminta bantuan agen travel. Saya sebagai orang yang selalu mengusahakan untuk mengurus segala sesuatu sendiri (baca: nggak mau bayar mahal agen travel..hehehe) memutuskan memakai cara pertama. Apa saja yang diperlukan dan bagaimana prosedur permohonan visanya bisa dilihat di post Mbak Riyanti di sini. Itu post yang sangat membantu saya karena penjelasannya terperinci. Tapi supaya post ini juga ada isinya, saya mempersingkat apa-apa saja yang diperlukan ya. Hihihi.

Syarat Pembuatan Visa:
1. Form aplikasi yang sudah dicetak dan diisi. Klik di sini untuk form-nya.
2. Paspor asli dan fotokopi
3. Foto berwarna terbaru 1 lembar (3.5 x 4.5cm)
4. Fotokopi KTP, Kartu Keluarga, dan Akte Kelahiran
5. Surat Keterangan Kerja dalam Bahasa Inggris
6. Fotokopi Rekening Koran 3 bulan terakhir
7. Surat Referensi dari bank tempat kita menabung
8. Fotokopi Tiket Pesawat
9. Fotokopi semua voucher penginapan
10. Rencana Perjalanan
11. Membayar biaya visa Rp480.000 untuk single entry

Semua persyaratan (kecuali No 11) dimasukkan ke dalam map. Biar rapi saja sih, tapi nanti di sana diminta keluarkan dari map dan mapnya nggak dipakai. Hihihi. Jangan dibuang ya, sayang, bisa dipake lagi untuk hal lainnya kan. :D

Selama pengurusan permohonan visa, paspor akan ditinggal di konsuler, jadi kalau yang mau ke Korea Selatan lalu lanjut ke negara lain yang juga membutuhkan visa, perhatikan waktu pengurusan visanya. Saya mengurus visa kira-kira 3 minggu sebelum rencana tanggal keberangkatan. Itupun harus dua kali balik karena pas pertama, saya nggak bawa Fotokopi Rekening Koran, cuma bawa Surat Referensi Bank saja. Hihihi. *pentung diri sendiri*

Asalkan lengkap, proses permohonannya tidak sulit dan lama kok. Saya sampai Konsuler jam 8, menunggu Konsuler buka jam 9; pas masuk, dapat antrian No 2. Saat dipanggil, menyerahkan semua persyaratan ke mbak/mas di balik loket kemudian membayar biaya visa lalu sudah. Hihihi. Semua persyaratan itu akan digantikan selembar kertas dengan No Aplikasi tertera.



Pas mau mengurus visa ini saya agak spanneng. Maklum, disetujui atau tidaknya permohonan visa itu tidak bisa diprediksi. Pun kalau tidak disetujui, pemohon tidak diberitahu alasan ditolaknya jadi nggak tahu apa yang salah. Tapi setelah menyerahkan seluruh persyaratan dan mas di balik loket meminta saya membayar biaya permohonan serta memberikan kertas tanda aplikasi, entah kenapa, saya tenang. Hihihi. Toh niat ke Korea Selatan memang untuk jalan-jalan dan tidak ada niat buruk ya, jadi bersikap dan berpikir positif saja. :)

Seminggu kemudian (jatuh pada hari Selasa), sesungguhnya, saya lupa dengan permohonan visa ini. Hahahaha. Apalagi Seninnya saya lagi super bahagia habis kembali dari Solo bersama #DuoGinuk dan malamnya dapat tiket promo ke Nepal untuk tahun depan. Lalalala. *Contohlah saya, jangan dipikirin terus permohonan visanya, berdoa dan berpikir positif saja kemudian sibukkan diri dengan jalan-jalan yang menyegarkan pikiran, tahu-tahu pas balik sudah waktunya menelpon Konsuler menanyakan visa. Hehehe.*

Siang hari saat bujendral menelpon, saya baru ingat saya harus menelpon Konsuler.

Pukul 10 saya telpon, dikatakan prosesnya belum selesai dan diminta menelpon lagi jam setengah 12.

Pukul setengah 12 saya menelpon lagi dan prosesnya belum selesai juga. Diminta telpon lagi nanti.

Krik krik krik..

...

Saya tadinya berpikir mau telpon jam 13 tapi takut dibilang belum selesai lagi prosesnya maka saya telpon jam 14 saja. Hihihi.

Dan suara merdu itupun terdengar. Visa saya disetujui! Puji Tuhan...

Langsung minta Mr. Jajat untuk mengambil paspor dari konsuler. Di salah satu halamannya tertera lah visa yang membuat tersenyum ini. Ihiy!



Sempat bengong sebentar kok visanya nggak ada fotonya. Padahal tumben banget pasfoto saya untuk permohonan visa ini cantik. Biasanya ancur. Daripada mubazir, apa post di sini ya fotonya? Hihihi. Setuju?

Demikianlah, Puji Tuhan satu negara lagi bisa saya kunjungi. Mengurus visanya pun terhitung tidak susah. Satu yang saya pelajari dari mengurus ini, saya harus berani memilih energi apa yang akan saya biarkan melingkupi saya. Shoo shoo untuk (orang-orang dengan) energi negatif dan buka tangan lebar-lebar untuk semua energi positif. Yeah! Sudah terdengar super belum saya? :D

Senyum dulu ah.. :)