Instagram: Ubermoon

Showing posts with label ID: Jawa Timur. Show all posts
Showing posts with label ID: Jawa Timur. Show all posts

Tuesday, October 29, 2013

Taman Nasional Baluran..

Mau bersafari di Indonesia? Bisa kok!
Indonesia punya pilihan tempat bersafari lain selain di Puncak ternyata! Hehehe.

Disebut sebagai Africa Van Java, Taman Nasional Baluran yang ada di Situbondo - Jawa Timur ini benar-benar membuktikan ia mampu menyandang predikat itu. Tapi ...., ada tapinya, hehehe. Tapinya adalah kalian bisa menikmati suasana Afrika itu kalau kalian datang saat musim kemarau. Kalau datangnya pas musim penghujan, suasananya sudah beda lagi. Lebih seperti Amazon mungkin. Hihihi.

Luas Baluran 25ribu hektar. Dari 25ribu hektar, yang 10ribunya adalah savannah. Savannah inilah yang menjadikan Baluran meraih nama Africa Van Java karena saat musim kemarau, beneran pemandangannya seperti di Afrika! *kata orang yang belum pernah ke savannah Afrika* Hihihi.




Ada dua zona besar di Baluran ini: Savannah Bekol dan Pantai Bama. Tapi selain savannah dan pantai, ada juga gunung dan zona Evergreen (yang walaupun musim kemarau, tetap hijau royoroyo). Jadi wisata di Baluran ini memang super lengkap!

Saya menginap di Wisma Kapidada di zona Pantai Bama. Di zona Savannah Bekol juga ada penginapan; jadi yang mau menginap ada dua pilihan lah. :D Wisma Kapidada berbentuk rumah biasa dengan dua kamar di dalamnya. Mengingat ini adalah taman nasional, keadaan bagian dalam Wisma Kapidada memang tidak bisa dibilang ciamik. Ya secukupnya aja. Bersih banget juga engga. Saya diberitahu teman untuk tetap bawa sleeping bag pas ke Baluran dan walaupun spreinya terlihat rapi dan bersih, saya keukeuh gelar sleeping bag di atasnya sebelum tidur. Hihihi. Yang lucu, di Baluran ini, sama seperti banyak tempat terpencil, waktu berjalan lambat. Jam9malam itu terasanya sudah malam banget karena sepi dan nggak ada kegiatan apa-apa yang bisa dilakukan selain ngobrol-ngobrol. Saya sudah kecapean karena perjalanan 8jam jadi memilih tidur. Bangun-bangun jam12malam dan baru saya buka mata sebentar, DHEP, lampu dan kipas angin mati. Huahahahaha. Gensetnya berhenti di jam12malam. Huahahaha. Jadi setelah genset mati, kipasnya pakai kipas manual! *ambil kertas ga kepake* Hihihi.


Kemarin ada yang bertanya "Emang penginapannya nggak berAC?" dan jawabannya adalah .... enggak. Hehehe. Bahkan kipas angin yang saya pakai itu sebenarnya bukan kipas angin untuk kamar saya. Itu kipas angin untuk ruang komunal tapi karena nggak ada orang, ditariklah itu kipas angin ke kamar. Hehehe. Ada satu penginapan di Bekol yang dilengkapi AC, tapi saya nggak tahu apa kalau genset mati, itu AC bisa tetap berfungsi atau mati juga atau gimana? Hehehe. Jadi untuk yang nggak tahan panas, yaaaa, siap-siap aja. Saya sudah kasih tahu lho ya. :P

Jam4pagi alarm saya bunyi. Pantai Bama adalah tempat yang tepat untuk melihat sunrise dan saya berencana menikmati momen itu. Saya bangun sebentar lalu .... matiin alaram dan tidur lagi. Huahahaha. Masih ngantuuuuk. Capek pulaaaaa. Kan abis genset mati, baru bisa tidur lagi jam dua atau setengah3 gituuu. Huhuhu.. *alasan* :p

Jam setengah5 saya bangun dan kaget lihat jam. Trus sedih gitu karena merasa udah kelewatan sunrisenya. Padahal ngapain sedih ya? Kan saya juga yang matiin alarm jam4 tadi. Hahaha. Akhirnya keluar wisma aja dan JRENG!! Kaget!! Itu monyet buanyak buanget di depan rumah!! Huaaaaaa.. Mana pula saya merasa ini kan taman nasional, ini habitatnya mereka dan saya yang numpang, jadi mereka pasti liar seliar-liarnya. Nggak bisa dianggap sama dengan monyet yang ada di seberang Mall Ambasador; yang bisa lari ngejar sepeda trus naik sepeda dan bawa keranjang kecil ceritanya pulang dari pasar. :')

percayalah..ini hanya sebagian keciiiiil sekali dari mereka.. :')

Saya keluar dan jalan pelan-pelan dengan (sok) yakin menuju bibir pantai. Bener aja, mereka seliweran bodo amat gitu di sekeliling saya, nggak mengenali saya yang artis ibukota ini. Pas kira-kira 15an langkah dan saya mau jalan, tiba-tiba ada satu monyet yang ambil posisi menyerang trus kasih saya GRRRHHHH, makjaaaaan, dengan kalem saya balik badan dan balik ke wisma dalam diam. Huahahahaha.

Nunggu 5menit di dalam wisma sambil lihat-lihat keadaan, akhirnya saya beranikan diri untuk ke luar lagi. Jalan terus jalan terus sampai pinggir pantai trus sedih lagi karena lihat di langit tinggal semburat jingga aja. Sunrisenya udah lewat. Huhuhu. Bengong gitu sayanya. Tiba-tiba, semburat jingga makin tebal menyeruak dan OMG OMG OMG mataharinya baru muncul!! Huaaaaaaaa.. Langsung terharu banget gitu. Itu beneran saya melihat matahari terbit dari baru semburat sampai sebulat-bulatnya matahari naik. Huhuhu. Terharu banget. Langsung ucap syukur dalam hati. Kali ini nggak pake acara nangis. Udah latihan sebelumnya. :')


Berdiri lama banget melihat momen luar biasa itu terus jalan nyusur pantai deh. Lalu siap-siap karena akan safari bareng Mas Riko, pemandu dari Baluran.

Untuk safari, ada trek sepanjang 6km yang sudah dibuat. Di sepanjang trek ini berdoalah supaya ada binatang yang menampakkan diri. Dan berdoalah juga yang menampakkan diri di depan mata bukan macan tutul. Hihihi. Pas saya jalan kemarin, sedang ada banyak sekali rusa. Lalu ada burung merak, lutung, dan yang tak disangka tak diduga: kerbau air. Huhuy! Puji Tuhan.. Lucunya, Mas Riko bilang "Itu ada kerbau air besar itu!!' terus saya langsung mengarahkan kamera ke arah yang ditunjuk. Saya masih menikmati itu kerbau gede mengkilat eh Mas Riko bilang, "Mbak ayo mbak cepet mbak jangan lama-lama nanti dia ke sini!!" HAH?? BUSET!! Ngibrit sambil ga berani lihat belakang. Beneran ya dia bisa datang ngejar? *yaiyalah Lan, namanya juga kerbau liar* Hihihi.




Di Baluran juga bisa snorkeling langsung dari pantainya. Tapi untuk lihat koral yang bagus, kata Mas Riko harus agak menjorok 100meter lebih ke arah tengah. Saya baru semangat mau snorkeling eh Mas Riko bilang "Tapi hati-hati ya mbak, banyak bulu babi." GLEK!! Auk ah mas.. Auk!! *melipir balik ke wisma, ga jadi snorkeling* *anaknya cemen, ditakut-takutin bulu babi langsung mundur* Hihihi.

Saya cuma 1hari 1malam di Baluran tapi sudah senang! Apalagi pemandu dan orang-orang di Balurannya semua baik-baik banget! Dari 25ribu hektar luas Baluran, yang mengurus hanya sejumlah 100orang PNS dan 25orang pegawai lepas. Kalau lagi ada kebakaran di hutan Baluran, Mas Riko dan teman-temannya harus membawa tabung besar berisi air di punggung dan jalan kaki menyusur hutan atau naik gunung menuju titik api. Gila ya dedikasinya. Hebat banget! Semoga semua pengurus Baluran bisa terus sehat dan diberkati Tuhan karena mereka sudah jaga alam dengan sangat luar biasa ya. :')

Senyum dulu ah.. :)

Monday, October 28, 2013

Perjalanan ke dan dari Baluran..

Saya sendiri yang bilang bahwa jalan menuju surga itu memang berat (ingat, Boracay?), eh kejadian lagi pas ke Baluran ini. Hahahaha. *jedotin pala*

Taman Nasional Baluran ada di Situbondo, Jawa Timur. Ramai dibicarakan sebagai Africa Van Java, saya sudah pasti geregetan banget pengen berkunjung langsung dong. Apalagi kalau kalian ketik 'Baluran' di Google ya, itu foto-foto yang keluar semuanya bikin menganga!! I...i....(ceritanya tergagap)...ini beneran di Indonesia? Tsah!! *udah cukup drama belom?*



Saya menuju Baluran via Surabaya. Karena apa? Karena emang tiket ke Surabayanya udah beli dari lama, buy one get one tukar sama poin Telkomsel gitu. Hihiy!! Ke Baluran dari Surabaya sebenarnya mudah, tapi memang perjalanannya lama. Dari bandara naik Damri dulu ke Terminal Bungurasih/Purbaya, dari situ jalan aja ke belakang cari Patas menuju Probolinggo. Nanti dari Terminal Banyuangga Probolinggo, naik bus lagi menuju Situbondo dan turun di depan pintu gerbang taman nasionalnya. Gampang kan? ENGGAK!! :)))))

Sebenarnya bukan nggak gampang, tapi memang perjalanannya panjang banget. Dari Surabaya ke Probolinggo masih nyaman karena busnya besar dan berAC. Nah dari Probolinggo ke Balurannya itu wihihihi lumayan bikin kering kerontang. Hahaha. Busnya nggak berAC, supirnya royal bunyiin klakson (ini beneran banget deh karena saya duduk di kursi depan dan beberapa kali supir ngambil jalur berlawanan sampe diludahin sama pengendara motor karena dia harus berhenti dan minggir banget kalau nggak mau ketabrak bus..wuhuhuuuu..sintiang!), dan perjalanannya puanjang buanget!! Sudah sampe Terminal di Situbondo dan tetap belum sampe. Semua orang turun dan saya masih aja ngendon. Hahaha. Perjalanan masih lanjut! Total sekitar 6-8jam perjalanan lah dari Surabaya. :))))

Tapi tenang, perjalanannya nggak semembosankan itu kok. Di bus Surabaya-Probolinggo, saya tidur. Dari Probolinggo ke Baluran saya kadang tidur, kadang bangun dan lihat-lihat. Pas udah mau sampe Baluran, pemandangannya dahsyat. Ada Jawa Power lalu laut membentang lalu gunung. Ciamik!! Kalau naik mobil sendiri mungkin enak, bisa berhenti dan lihat-lihat dan foto-foto dan tentu saja jam perjalanannya makin molor. Hihihi.




Yang lucu, di perjalanan ini nih hati dinaikturunin banget sama orang Jawa Timur. Pertamanya dibilang Surabaya-Probolinggo tu 2jam (yay!!), ternyata ..... teeettt ..... 3.5jam lah (krik krik..). Lalu Probolinggo - Baluran dibilangnya 2.5jam (dan hati udah seneng banget dong), ternyata ..... teeetttt .... 4jam lebih!! Hiks.. Bukan cinta saja yang sering memporakporandakan hati saya, perjalanan pun juga. Uhuhuhu.. *eh kok curhat?!*

Sampai di depan gerbang Taman Nasional Baluran, perjalanan pun ..... teeettt .... belum selesai. Hahaha. Bentar lagi saya ditoyor ni sama pembaca. Dari gerbang Taman Nasional Baluran, perjalanan masuk dilanjutkan dengan ojek. Kalau menginapnya di Bekol, perjalanan hanya 45-50menit lah. Kalau seperti saya, menginap di Bama, perjalanannya satu jam. Saya naik motor sama Mas Sularso yang asik cerita ini itu dan bilang 'Ini kita masuk Evergreen ya.. Di sini biasanya suka ada macan tutul melintas..' GULP!! Saya komentar 'Wah, kalau macan tutul melintas, kita diem aja ya mas? Gapapa ya mas?' dengan nada santai, tapi sesungguhnya di dalam hati saya berdoa kenceng tu macan nggak lagi pengen melintas jalan mana pun juga yang kami lewati. Hahaha.

Satu jam perjalanan dan sampai deh di Bama. Ihiy! Akhirnyaaaa!! Total perjalanan Surabaya - Baluran lebih kurang 8jam. Yeah!! *pijetpijetbetis*

PS: Pilihan lain ke Baluran adalah lewat Bali. Ini lebih gampang dan cepat. Dari Bali nyebrang ke Banyuwangi. Dari Banyuwangi naik bus dan sampe deh di depan gerbang Baluran. Jarak tempuhnya tentu lebih cepat. Tapi soal itungan keuangannya nggak yakin lebih murah sih. Hihihi.

Selesai dari Baluran, lanjut ke Malang. Perjalanannya jadi Baluran - Probolinggo dan Probolinggo Malang kemudian Malang - Batu (karena menginapnya di Batu). Baluran-Probolinggo kami naik bus berAC dan baru berpikir, kok ini ada yang AC? Kemarin dari Probolinggo-Baluran kenapa nggak naik yang AC deh?! -_____- Walaupun perjalanannya panjang dan lama, tapi cukup nyaman karena berAC itu tadi. Hihihi. Dari Probolinggo-Malang busnya justru nggak berAC dan kursinya nggak nempel dengan baik dong. Jadi kalau Caesar duduk, saya kayak diungkit dan naik gitu. Tapi kalau saya yang duduk, Caesar sepertinya baik-baik saja, tak berubah sedikit pun posisinya. -_____-

Pas sudah sampai Malang, ada sedikit kejutan yaitu .... busnya mogok. Hihihi. Yanacip! Jadilah kami harus jalan sedikit dan numpang Elf sampai terminal. Untung dari sana udah gampang tinggal naik taksi. Di taksi beneran santai-santai deh. Kecapean di jalan. Hihihi.

Jawa Timur 4hari3malam dan ini baru perjalanannya saja udah ada cerita. Hahaha. Menyenangkan!


Senyum dulu ah.. :)

Tuesday, May 8, 2012

Nanjak Maksimal di Bromo..

Ada beberapa saat dalam perjalanan yang saya lakukan yang membuat saya bersyukur saya melakukannya sekarang saat masih berumur 20an (oke, 26 itu 20an kan? Hihihi) dan di sisi lain sedikit menyesal kenapa tidak melakukannya lebih cepat. Saat saat itu adalah ketika saya harus berjalan kaki menanjak dan kemudian merasakan kesusahan. Sampun sepuuuuh. Hahahaha.

Sesudah dari Bromo, kami, masih dengan jeep, menuju ke kawahnya. Jeep parkir di sebuah lapangan besar dan kemudian kami harus berjalan kaki di atas lautan pasir (dan setelahnya naik tangga..jreng!!). Berjalan kaki dengan posisi horizontal biasa sih masih santaaaai. Jalan lama juga saya tahan. Nah lalu jalan mulai menanjak tuuu, saya masih sedikit santai walaupun sudah agak menggeh-menggeh. Dan Philipp ngajak ngobrol terus. Jadi berjalan sambil ngobrol. Menggeh-menggeh makin menjadi. Saya melihat ke arah depan, perjuangan masih panjang Bulaaaan!!! Ayo semangaaaat!!!!

"Mbak kuda mbak, 20ribu saja tinggal lanjut naik tangga."
Oke saya naik kuda aja.

Hahahaha..

Kudanya, Blacky, adalah pejantan tangguh yang pemalu. Sabaaar banget gendong saya yang berat (nya naik 2kg selama di Jogja - diucapkan dengan cepat). :))



Blacky cuma bisa antar saya sampai di ujung parkiran kuda. Setelahnya sudah tidak bisa dimasuki kuda karena tanahnya sakral - kata Pak Subur, sang empunya Blacky. Maka saya harus berjalan kaki kemudian menaiki tangga.

Sebelum menaiki tangga, saya melihat ke atas. Oke, I did not drink vodka in the morning so it should be just fine (remember Batu Cave, Malaysia?? :)) ). Hap, naik satu dua tiga empat lima enam tujuh - huh huh - delapan sembilan sepuluh sebelas - huh huh - duabelas tigabelas empatbelas limabelas enambelas - huh huh - tujuhbelas delapanbelas sembilanbelas duapul - oke mari istirahat dulu. Hahaha. Menggeh menggeh makjaaaaan. Sampun sepuuuuh. Pijakannya tinggi-tinggi jadi saya yang kecil ini *uhuk*, perlu tenaga ekstra menaikinya. Istirahat beberapa detik kemudian lanjut lagi. Ga usah dijelaskan ya berapa lama akhirnya saya bisa mencapai kawah Bromo. Ntar makin keliatan sampun sepuhnya. Hahaha.

Sampai di atas, oooooh ini toh Kawah Bromo - sambil melihat ke bawah, kawah dengan asap keluar dari tengahnya. Pijakan di atas untuk mengelilingi kawah cuma selebar 1.5-2 meter, saya ndhredeg jalannya. Haha. Ahirnya pegangan sama Philipp. Takuuuut. Itu gada pembatasnya looooh. Gilole deh. Jadi kalau salah langkah dan merosot ya udah dada bye bye aja. Di beberapa bagian, tersisa pembatas yang sudah rusak, itu pun pembatasnya bersenjang besar jadi ketika melorot, badan orang gendut pun masih bisa lolos dari pembatas itu . Hihihi.


Kami ngga lama di kawah itu, nah sekarang turun tangga. It should be easier, no?

NO!!!

Tangganya itu dengan kemiringan lebihkurang 45derajat dan di beberapa pijakannya tertutup pasir tebal. Beberapa pijakan malah sudah hilang sama sekali, cuma ada pasir saja. Nah orang itu kan semakin tua semakin takut melangkah ya, itulah yang saya rasakan. Saya takut saat saya salah ambil pijakan nanti melorot pasirnya. Slippery. Jadilah saya pelan-pelan. Kayak nenek-nenek gitu deh. Hahaha.

Saking lamanya saya turun, sampai bawah sudah ditunggu Philipp, Mike, dan Yuki yang kemudian teriak-teriak "Yeaaaah, yeaaaah, you did it Indiiii!! Yeaaah!! Woohoo!!"

Jreng, athu mayuuu... *tersapu-sapu*

Nah balik ke parkiran jeep sebenarnya saya pengennya jalan, ga naik kuda. Cuma karena tadi Pak Subur ga ada kembalian, jadilah saya sama Blacky lagi turunnya. Dan naik Blacky untuk turun gunung itu lebih susah daripada naik gunung, karena badan dan kaki harus menahan tarikan gravitasi. *dadah-dadah ala Miss Universe dari atas Blacky*

Sampai di ujung, kasi uang ke Pak Subur, menunggu Mike Philipp dan Yuki sampai, lalu naik jeep, balik lagi ke penginapan.

"It's definitely the highlight of my trip!!"  kata Yuki. Dan kami semua menyetujuinya. Keindahan Bromo, kesegaran udaranya, pengalaman barunya, pertemanannya, cerita-cerita kecil yang membuat tawa. Bromo has surely be the highlight of my trip also. Ah jadi mellow. Hihihi. I'm missing them now. :')


Senyum dulu ah.. :)



Negeri di atas awan Bromo..

Itu hal pertama yang ada di  pikiran saya ketika akhirnya melihat keindahan tak terkatakan dari Bromo. Negeri di atas awan.

Ketika saya pertama kali lihat foto Bromo beberapa tahun lalu, saya terpikir yang bisa mendapatkan foto bagus begitu pasti pakai lensa yang keren dan kamera yang mumpuni, tetapi ketika kemudian saya datang sendiri, tadaaaaaa, kamera standar Nikon D40 Lensa 18-55 sudah bisa menangkapnya. It was breath-taking.

Dari hotel, kami dijemput dengan jeep untuk menuju Pananjakan Viewpoint. Kami (saya, Yuki, Philipp, dan Mike) memilih Pananjakan 1 karena lebih tinggi. Jeep menderu membawa kami dalam obrolan seru. It was pitch dark outside.

Sekitar 20 menit kemudian akhirnya jeep berhenti, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Dan saya baru sadar, adalah susah berjalan kaki dengan posisi menanjak, tekanan udara tinggi, dan saya baru bangun tidur (alasan macam apa ini?? :))) ). Langkah tu rasanya berat banget. Mau nyerah dan minta gendong juga saya malu. Selain itu, ya siapa juga yang mau nggendong gitu? Hihihi.

Sampai di atas, keadaan sudah agak ramai tetapi masih ada beberapa spot kosong. Kami mulai memanjat dan bersiap. Udara?? Beeeeuh, dinginnya.  Saya pake t-shirt, scarf tebal, jaket, dan jaket bulu tambahan - nyewa sepuwuh wibu sajaaaa, works well. ;). Dinginnya menusuk tapi tidak sampai membuat saya menggigil. Dingin-dingin asyik lah.

Suasana masih gelap, tidak terlihat apa-apa. Tetapi tidak berapa lama, sambil ngobrol, kami melihat kabut berjalan dengan cepat ke arah kanan meninggalkan kami sebuah pemandangan menakjubkan yang membuat saya menganga dan langsung berucap syukur. Di sana, di ujung sana, menyembul sebuah ujung gunung kemudian di tengahnya masih ditutup awan dan di bawahnya terlihat lanjutan ujung gunung tadi. Ya mungkin kata-kata tidak mampu menjelaskan betapa luarbiasanya pemandangan yang ada di depan saya kala itu. It's just aaaaahhh. Saya stunned. Negeri di atas awan.


Auranya romantis dan menakjubkan. Kalau kalian akan menikmati hal yang sama dengan apa yang saya nikmati, coba untuk diam ketika puncak Bromo terbuka. Diam dan nikmati. Foto-fotonya sekali dua kali saja tapi lalu langsung diam dan nikmati. Rasanya aaaaah, indah. Berkali-kali saya ucap syukur diperbolehkan melihat berkat Tuhan itu. Iiiiih, ini saya ngetik aja masih merinding.

Di depan kami ada pemandangan yang menakjubkan tadi, di sebelah kiri, orang-orang dimanjakan pemandangan lazuardi dengan semburat jingga terang memanjang. Saya sempat minta-minta permisi untuk nelusup mengambil foto. 'One minute, one minute.' kata saya. Yang sebenarnya tidak akan menjadi masalah untuk mereka, karena badan saya kecil *uhuk* untuk ukuran mereka (mereka di sini adalah bule yaaaa..) sehingga saya nelusup juga kayaknya ga ngaruh banyak sama perubahan posisi berdirinya. Hihihi. Abis mereka kayak cuma mundur gada lima belas senti gitu untuk kasi saya jalan masuk.  -___-"


Kami bertahan di Pananjakan sampai pukul 6.15 kemudian berjalan turun menuju jeep yang menunggu di bawah. Meninggalkan Bromo dengan puncak, awan, lazuardi, dan matahari terbit yang tertinggal membekas di hati. It was truly amazing. Puji Tuhan saya dikasih kesempatan melihatnya. Aaaaaa.. Pengen balik lagiiiii.. :')



Senyum dulu ah.. :)

Saturday, May 5, 2012

Perjalanan dari dan ke Bromo..

Jadi dua hari lalu akhirnya saya ke Bromo. Ahahaha. Kenapa saya ga dari dulu ke Bromo padahal saya sering ke Jogja adalah karena biasanya saya ke Jogja untuk santai-santai. Jadi emang cuma pengen leyeh-leyeh aja. Atau giliran uda mau ikutan tur ke Bromo, eh waktunya ga pas. Ya begitulah. Hehehe. Tapi kali ini saya berniat, saya akan ke BROMO!! HAK!! Semangaaaat!!! *koprol bolakbalik*

Sampai di Jogja tanggal dua, saya langsung daftar tur ke Bromo untuk keesokan harinya. Dilihat-lihat, tadinya saya mau 3hari2malam, tapi ternyata saya baru akan kembali ke Jogja Minggu paginya sedangkan Minggu itu saya mau ke Borobudur dan kasian teman dari #PasukanNgepet kalau mereka sampai di Jogja saya ga ada (yang kemudian bikin kepala saya mendidih karena ternyata yang satu ga jadi datang karena ketinggalan pesawat. Dan kedatangan mereka ga jelas dari awal. Ga usa ditanya ya yang ini, speechless lah saya pokoknya.).

Saya berangkat jalan kaki ke tur tempat saya daftar kemarin, hebat ya, jalan kaki. Lha iya, wong cuma selemparan kodok gitu tempatnya dari rumah eyang. Hahaha. Saya datang, eh krik krik krik, turnya belom buka ajaaaah. -___-" Akhirnya saya yang buka duduk di depannya. Ngemper. Hehehe. Ga berapa lama turnya buka (dan saya tetep ngemper), lalu datanglah minibus yang akan bawa saya ke Bromo. Ahuy!!


Mas-mas minibus: Mbak duduk depan ya, mbak?
Saya: Loh kenapa ga di belakang?
MMM: Belakang sudah penuh'e mbak. Lagipula mbaknya kecil'e badannya, yang di belakang nanti gede-gede mbak.
Saya: Gada tempat sama sekali di belakang? *dengan muka nyureng*
MMM: Ndak ada mbak.
Saya: Ah yasudah kalau begitu, tapi jika nanti saya lihat ada tempat di belakang, kau akan tahu akibatnya ya mas. Kau akan tahu akibatnya!!! Hati-hati Ki Sanak!!

Ga denk, saya yang kalem ini ga jawab gitu, saya cuma jawab "Oh.." trus luncat ke kursi. Hehehe. *anti klimaks*

Yang hebat dari perjalanan ini adalah berangkat maupun pulangnya ada cerita. Pas berangkat, saya yang terkantuk-kantuk habis tidur kemudian sekelebat melihat makhluk berwarna coklat di luar. Melambai-lambai. HAH?! APA ITU?? APA INI?? Jeng jeng..... Ooooh, bapak polisi denk. -___-"

Minibus saya diberhentikan. Saya tanya ke pak supir, ada apa? Katanya, dia tadi nerobos lampu merah. HAAAA.... *tung pak supir!!* Pak supir minggir dan turun, saya makan Happy Tos. Ga berapa lama dia naik lagi, lalu minibus jalan lagi. Sampai di ujung jalan, ia minggir lagi, kali ini ke kantor polisi kecil gitu di pojokan jalan. Saya tetap makan Happy Tos. Lalu ia masuk lagi.

Saya: Gimana pak? Tilang ya?
Pak Supir: Iya mbak, lha dia minta 250 ya mending tilang aja.
Saya: Oooo, jadi sekarang ga ada SIM donk nyetirnya.
Pak Supir: ....  *hening*
Oke, saya anggap it's a yes. Hihihi. Lanjut makan Happy Tos.

Maka meluncurlah minibus ini dengan pak supir yang baik jalannya, tuk tiktak tik tuk tiktah tiktuuuuk tak memiliki SIM. :))

Kemudian yang saya ga berani bilang sama siapapun yang menemani saya di BBM adalah, saya duduk di depan daaaaan, tidak ada seatbeltnyaaaa. Ahahaha. Oke, saya berani bilang sekarang karena yang penting saya sudah selamat ya. Hehehe. Tenang sudara sudaraaa.. :))

Lalu pas pulang, ada cerita lagi. Kembali ke Jogja hanya berempat. Saya, Yuki, Ben, dan Satoshi. Satoshi duduk di baris kedua, Ben di baris ketiga, saya dan Yuki di paling belakang. Sepanjang jalan saya ngga bisa tidur sama sekali, entah karena apa. Padahal pas berangkat saya tidur nyenyak beberapa kali. Lalu sampai di Pasuruan, saya mau ubah posisi duduk, tiba-tiba BLETAK!!!! Huaaaa.. Wuopoiku??

Lalu minibus melipir dan kami semua baru sadar. Kaca depan pecaaah!! Huaaaaw. Pecahnya menyeluruh. Yuki langsung sibuk bertanya, "Indi, are you okay?" melihat wajah saya yang masih setengah sadar ga sadar gitu. Hihihi. Yang paling banyak pecahan kaca tentu di barisnya Satoshi. Bahkan disana ditemukan benda yang menyebabkan semua ini terjadi, sebongkah batu tak bernyawa!! (ya menurut loe Lan?)

Melanjutkan perjalanan dengan kaca depan seperti itu tentu sudah tidak bisa. Menunggu minibus pengganti pasti lumayan lama, akhirnya saya nanya, "Mmm, you guys wanna check the rice fields??" Sumpe, bukan maksud apa-apa ya ngajak mereka ke sawah, cuma yang ada di sekitar cuma sawah doank. Emang si ada kawinan, dan mereka juga penasaran pengen liat, cuma kan ga mungkin saya aja tiga bule and crash the wedding. Hahaha. Jadi sawah adalah pilihan yang tepat. Seperti kata mbak-mbak Pizza Hut, "PIlihan yang tepat sekali.." *nyodorin jempol*

Jadilah kami jalan-jalan keliling sawah. Lumajan, 30menit dari 40menitan waktu menunggu kami habiskan di sawah.  :))



Ah, perjalanan berangkat dan pulangnya aja uda luar biasa lah Bromo ini. Hehehe. This, by far, my most memorable trip. Hahaha.



Senyum dulu ah.. :)