Instagram: Ubermoon

Showing posts with label ID: Lombok. Show all posts
Showing posts with label ID: Lombok. Show all posts

Monday, January 24, 2011

Catatan Akhir dari Lombok..

Enam Belas Januari..Hari terakhir liburan saya..Selamat Tinggal Cinta.. :(

Hari terakhir liburan itu , secara mental, adalah yang paling berat buat saya. Selalu seperti itu. Kali ini, karena saya berlibur bersama teman2 terdekat saya, perasaan ditarik jantungnya itu tidak terlalu mengganggu. TIDAK TERLALU, bukan berarti TIDAK SAMA SEKALI.. :(

Pesawat kami akan lepas landas pukul empat sore. Kami masih punya waktu berjalan2 setengah hari. Kami sudah janjian dengan Pak Salim untuk mulai jalan pukul sembilan pagi. Dan kami tepat waktu. Huhuy. Pak Salim sudah menunggu di dekat supermarket kemarin, saya menelpon dan Pak Salim pun dtg menjemput ke penginapan. Loh loh, kok ada laki2 lain di kursi depan? Daripada bete, mending saya tanya "Itu siapa ya pak di kursi depan?" Dijawabnya, "Anak saya non, lagi libur, boleh ikut non?" Ooooh, anaknyaaaa. Itu si boleh. Kirain siapa.

Jadi tim kami bertambah dengan Heru. Yang selalu kami goda dengan memanggilnya Ruru. Hahaha. Setiap kali kami berhenti, Pak Salim teriak ke Ruru, "Itu cepat buka pintunya, lekas lah, kamu itu lelet sekali..Cepat buka pintu utk non artisnya.." dan kami semua ngakak. Onya sampai tersapusapu. Hihi. Ruru kayak lagi diorientasi. Untung Rurunya jg cengengesan aja, jadi suasana malah jd penuh canda.

Pemberhentian pertama adalah Taman Narmada. Ini adalah taman yang dibangun Raja Karangasem untuk beristirahat selama musim panas. Udaranya memang cukup dingin di sini, sejuk. :) Di taman ini, raja biasa duduk di teras atas dan memandang selir2nya mandi di kolam bawah. Lalu raja tinggal menunjuk selir mana yang akan menemaninya malam itu. Ahoy. Kamar cinta raja ada di sebelah kiri dan kanan teras atas tadi. Melihat pintu ke kamar cinta raja ini kok saya tiba2 jd mellow. Hahaha. Aneh.

bukan bukan..saya bukan selir raja.. :p
pemandangan yg dimiliki raja.para selir mandi di kolam itu.
pintu romansa...aih mateeee..
Taman ini ciamik deh. Bersih, udaranya segar, dan tidak terlalu penuh. *okay, kalimat terakhir abaikan saja, karena sekeluarnya kami dari Taman Narmada, banyak anak sekolah mengantri di depan untuk masuk. Jadi memang waktu berkunjung kami saja yang bagus. Hehehe*

Di taman ini juga saya, untuk pertama kalinya, mencoba flying fox dengan posisi spider. Kalau flying fox dengan posisi duduk, saya sudah sering, saya banci flying fox. Hehehe. Onya juga bergabung dengan saya. Ini kali pertama Onya mencoba flying fox, jadi Onya akan meluncur dengan posisi duduk. :) Apakah enak spider flyingnya? ENAK!!! Sayang lajur kurang panjang. Hahaha. Baru saya teriak "Woohoooo...Aaaaaa" eh lho kok tau2 uda sampe..Hahaha..



Selesai dari Taman Narmada, Tamie mengajak ke Pura Suranadi. Kami sempat takut tidak sempat dan nanti terburu2 ke bandara, tapi Pak Salim menenangkan dengan berkata Pura Suranadinya dekat dan tdk akan terlambat ke bandara. Ya maklum lah ya Pak, di Jakarta, kalau mau ke bandara hrs persiapan perjalanan tiga jam. Saat saya tanya ke tuak (abang) yang menjaga Pura Suranadi, dia berkata "..only fifteen minutes mbak..here to Selaparang.." Laaaaah, deket yaaaa.. Hihihihi.

Suranadi sendiri adalah sebuah pura di tengah hutan. Di belakang pura itu, banyak monyet bergelantungan dan loncat kesana kemari, hebatnya, mereka sama sekali tidak mengganggu para pendoa. Hebat ya. Kok bisa tau gt..Hehehe.



Selepas Pura Suranadi, waktu sudah agak siang. Kami pun memutuskan untuk makan siang dl sblm ke bandara. Kembali lagi kami ke Resto Dua Em dan makan ayam pelecingan lagi. Hahaha. Dengan jujur saya katakan, siang itu, saya makan dua porsi ayam pelecingan. Hahaha. Tidak apa kata teman2 saya, daripada nanti sampe Jakarta saya kepikiran. Hehehe. *cari pembelaan*

Akhirnya sampai juga kami di Selaparang. Bandar udaranya Lombok. Sekembali dr membayar pajak bandara, Silka tersenyum dan berkata "Gw suka deh liburan ini..Gw suka deh Lombok..Orang2nya ramah.." Kami tanya kenapa kok bs blg begitu? Ternyata saat ia membayar pajak tadi, bapak penjaga loketnya menyapa dengan ramah dan menanyakan bagaimana liburannya. Whuaaaa..Baiknyaaa.. Satu lagi keramahan Indonesia yang masih ada. :)

Pesawat datang. Kami bersiap. Ketika sudah duduk, di dalam pesawat saya bersyukur dan berdoa.

Tuhan, terimakasih ya. Sudah diberikan kesempatan sekali lagi menikmati berkat ciptaanMu. Lombok indaaah sekali, Tuhan. Terimakasih ya. :)



Senyum dulu ah.. :)

Saturday, January 22, 2011

Lombok Daratan..2

Lima Belas Januari..Masih di daratan Lombok..Perjalanan dilanjutkan.. :)

Selesai dari Desa Sukarara, kami beranjak menuju Desa Banyumulek. Desa pengrajin Gerabah. Tidak seperti di Sukarara yang diberikan pengetahuan tentang kain tenun, di Banyumulek, kami yang harus aktif bertanya tentang gerabah. Mereka masih dalam tahap menjawab saja, belum menerangkan. Hehehe. Karena saya tdk terlalu suka  gerabah (dan merasa pasti berat membawanya ke Jakarta), jadi saya hanya melihat2 saja. Setelah beberapa dari kami membeli gerabah, kami dipersilahkan ke belakang, bisa membuat hiasan gerabah sendiri. Linda dan Tamie yang kali ini ikut serta. Linda membuat gerabah penyu, Tamie membuat gerabah bebek dan tokek. :)



Oh, saya lupa menceritakan. Sebelum kami tadi ke Desa Sukarara, kami menyempatkan diri makan dulu. Belum ke Lombok namanya kl belum makan Ayam Taliwang toh. Hehehe. Maka kami menyambangi Resto Dua Em. Nama daerahnya saya lupa, tp itu resto ayam taliwang yang terkenal. Karena kami melihat deretan mobil2 dengan nama2 hotel terkenal ikut parkir, dan kata Pak Salim, kalau sore sedikit, sudah susah cari parkir karena banyak wisatawan datang dgn bus. Saya makan ayam pelecingan. Yang katanya pedasnya sedang. Onya (sbg urang Minang penyuka cabe), memesan ayam julat dengan tikat kepedasan yang paling pedas. Haha. Saat ayam datang, saya sempat mencoba ayam julatnya Onya, hehehe, cukup satu kali saja. Tidak berniat menambah minta punya Onya. Hihih. Pedaaasss. Onya aja sampe keringetan. Ayam pelecingan saya??? ENYAAAAKKKK!!! Puas sekali saya makannya. Hehehe.

dan ketika melihat ini, saya jd laper lagi

Lanjut sehabis dari Desa Banyumulek, kami bergerak menuju Tanjung Aan. Jauh ternyata. Hehehe. Seperti tak sampai-sampai. Dan hari sudah petang. Ketika ahirnya kami sampai di Tanjung Aan, matahari sudah hampir hilang, tapi saya bersyukur. Tuhan memang baik. Dua hari di Meno, berniat bangun pagi dan melihat sunrise, tidak jadi2 karena kami terlalu malas bangun subuh. Hehehe. Nah di Tanjung Aan ini kami melihat sunset yang begitu indahnya. Pak Salim mengatakan jangan lama2 di Tanjung Aan, karena kalau hari mulai gelap, jalan yang akan kami lalui untuk kembali agak rawan. Kami pun tak berlama2.



Pulang dari Tanjung Aan, kami makan lagi. Kali ini di RM Dirgahayu, di belakang Mataram Mall. Eh lucunya, saat siang hari kami melewati Mataram Mall, Pak Salim dengan bahagianya bilang "Ini non, ini mallnya.." dan kami cuma bengong dan menjawab "Oooo.." tanpa ketertarikan. Hihihi. Tidak satu pun dr kami anak mall dan jika dibandingkan dengan mall di Jakarta yang pake seri (Mall Kelapa Gading 1, 2, 3, sampai 5), Mataram Mall ini si tdk ada apa2nya. Hahaha.

Malam itu malam Minggu. Pak Salim bilang, di Jalan Raya Senggigi (tempat penginapan kami berada), akan ramai sampai jam 2-3pagi. Ramai apa? Ramai klub dan karaoke. Hehehe. Dan ternyata benar adanya. Penginapan kami bersebelahan dengan sebuah klub. Dan dari kamar kami (yg di lantai paling atas dan paling ujung) pun, suara jedag jedug itu terdengar. Plus, dr arah jalanan, suara patroli polisi nguing2 terus terdengar. Kebanyakan nonton CSI New York, saya bilang ke Onya "Ni kita lg di New York ni Nya..Bentar lagi ada yg gerebek kamar ini dan kita diselamatkan.." Onya memandang aneh ke saya. Hihihi. Keramaian malam itu hanya dinikmati Tamie seorang diri. Turun ke klub dan minum bir sampai pagi. Selain Tamie, kami semua tidur lelap. Hehehe.

Di satu sisi ada Sukarara dan Banyumulek yang masih menjaga tradisi adat dan budaya, di sisi lain ada Jalan Raya Senggigi yang penuh modernisasi. Saya selalu suka kota seperti ini. Langit dan bumi, namun bersinergi. :)



Senyum dulu ah..

Lombok Daratan..1

Lima Belas Januari..Gili Meno ke Senggigi..Kaya..

Hari ini, terakhir kami di Gili Meno. Pagi ini, kami akan menyeberang kembali ke Senggigi. Puas di Meno? Saya sih puas. Hehehe. Makan di penginapan dan menghitung pengeluaran untuk makan. Ibu dan Bapak (panggilan utk ibu dan bapak empunya penginapan) memberi kami diskon 10% untuk makanan. Huhuy. Baiknya. :) Terimakasih ya Ibu dan Bapak. :)

Pukul delapan lewat kami bergegas ke pelabuhan kecil di Meno. Kami akan menumpang perahu nelayan lagi. Tiketnya, sepuluh ribu per orang. :) Perahu cukup penuh. Selain kami, ada bbrp warga lokal dan beberapa wisatawan asing yang juga akan ke daratan. Sekali lagi, sepanjang perjalanan saya hanya diam. Walaupun ombak tidak setinggi saat kami datang dan nahkoda kali ini sangat ciamik memilih rute ombak, saya tetap diam. Kami mampir dulu ke Gili Air, menjemput beberapa orang lagi yang ingin menyeberang. Setelah itu, kapal langsung menuju pelabuhan di Senggigi.


Sesampainya di pelabuhan, kami segera naik cidomo. Cidomo adalah kendaraan khas Lombok. Cidomo sendiri singkatan dari Cikar Dokar Motor. Cikar adalah cidomo yang tanpa atap. Dokar adalah cidomo beratap. Dan motor artinya beroda. Cidomo. Kami berlima cukup berada di satu cidomo. Perjalanan tak jauh, hanya ke tempat berkumpulnya taksi Blu*bird. Turun cidomo, kami pun naik taksi menuju ke Jalan Senggigi. Kami berhenti di sekitar tempat Perama (penyedia jasa transportasi yang kemarin mengantarkan kami ke Gili Meno). Kami bertanya ke satu hotel. Hanya tinggal satu kamar. Hmmm. Berjalan mencari hotel lain dan akhirnya mendapatkan. Ray Hotel. Satu kamar isi tiga tempat tidur 150ribu per malam. Jadi satu orang, 50rb/malam. :) Saya Onya dan Linda di kamar atas, lantai tiga. Silka dan Tamie di kamar bawah, lantai dua.


Selesai beristirahat sebentar dan mengobrol, kami berencana menyewa mobil untuk berjalan-jalan di daratan Lombok ini. Tangan saya sakit, sepertinya tennis elbow saya kambuh. Maka saya sibuk mencari Neur*bion. Hehehe. Ternyata tak ada, adanya Red*xon saja. Yasudah tak apa. Semoga bisa meminimalisir sakit saya. :) Ketika kami berjalan menuju supermarket, seorang polisi menyapa kami.

"Halo mbak2..Mau kemana ini?"
"Mau ke atm dan ke supermarket, Pak."
"Oh silahkan..Liburan atau sedang ada apa ini di sini?"
"Iya Pak, liburan.. :)"
"O..Sudah berapa lama mbak di Lombok?"
"Di mainland si br hr ini pak, kemarin kami di Meno."
"Ooo..Ke Trawangan juga mbak?"
"Engga pak, di Meno saja.. :)"
"Bagaimana Lombok mbak? Senang liburan di sini?"
"Bagus paaak, senaaaang.. :)"
"Oh baiklah kl begitu, selamat berjalan-jalan hr ini mbak. Hati2 di jalan.."
"Makasi paaaak.."

Oooooh...Inilah keramahan Indonesia yang sesungguhnya. Saya bahagia sekali. Orang Indonesia yang ramah menyapa orang Indonesia lainnya. Yang tidak hanya berpikir bahwa wisatawan asing adalah satu-satunya wisatawan yang pantas dijamu. Aaaah. Membekas. Indah. :)

Saat di supermarket itulah kami bertemu dengan Pak Salim. Ia adalah supir dari mobil yang disewakan. Saya tidak ikut berdiskusi dengannya. Tapi saya dan teman-teman memang sudah positif ingin wisata adat dan budaya di daratan Lombok ini, tidak lagi ke pantai. Saat teman-teman memasuki mobil Kij*ng Pak Salim, saya mengikuti saja.

Pak Salim dapat rekomendasi top dari saya. Menyetirnya halus. Bahasanya sopan. Tidak memaksa kami memasuki tempat-tempat yang tidak kami inginkan (yang biasanya dilakukan oleh supir mobil sewaan supaya mereka mendapat komisi dr tempat-tempat tersebut). Ia mengikuti mau kami. Kami bilang mau kemana, ia akan mengantar. Ia panggil kami Non Artis. Hahahaha. Pak Salim sangat membantu sekali. Kalau ke Lombok lagi akan coba cari kontak biar bisa sama Pak Salim lagi ah. :D

Hari ini, kami berhenti sebentar di tempat membeli mutiara. Saya yang niatnya membeli untuk mama, berakhir dengan membeli untuk SAYA. Hahahaha. Maaf ya mah, nanti boleh pake barengan kok cincin mutiaranya. :p Onya membeli gelang untuk uni dan mamanya. Silka membeli gelang kaki untuk dirinya sendiri dan Tata, adiknya. Linda dan Tamie, saya ga gitu mencatat mereka membeli untuk siapa. Hihihi.

Selesai dari tempat membeli mutiara, kami beranjak. Kini ke Desa Sukarara. Desa pengrajin tenun. Di luar bayangan kami, kami kira kami hanya akan melihat kain tenun, ternyata kami ditanya apa mau berkeliling desa dulu? Saya langsung semangat, MAU!!! Maka kami diajak berkeliling desa dan diberi pengetahuan tentang kain tenun. Luar biasa. Pelayanannya luar biasa. Setelah berkeliling, kami masuk ke koperasi dan melihat tumpukkan kain tenun beraneka warna. Silka dan Onya sudah menggoda saya, mereka tahu saya paling tak tahan melihat kain tradisional Indonesia. Hehehe. Untungnya, mereka tak punya mesin EDC, jadi kartu kredit dan kartu ATM saya aman tentram. Hahaha. Saya hanya membelikan kemeja untuk bapak saya yang tersayang. Oh, dan mereka bersedia membantu jika saya ingin kain tenun, mereka bs mengirimkan motif yang tersedia via email dan mengirimkannya ke Jakarta. (ini ni yang berat..hahaha)



Di dalam koperasi, kami tak hanya disuguhkan dengan kain-kain tenun. Tapi juga didandani dengan pakaian adat suku Sasak. Kain tenun, baju Lambung, dan anting-anting rudal. Semuanya gratis. Bentuk pelayanan mereka sebagai koperasi desa. Mengagumkan.


Selesai dr Sukarara, kami berjalan lagi..Siap berkelana lagi..Lombok itu ramah. Tradisi dan modernisasi bersinergi. :)



Senyum dulu ah..

Thursday, January 20, 2011

Bawah Laut Lombok = KEREN!!

Empat Belas Januari..(Masih) di Gili Meno..Beneran lho.. :p

Hari kedua kami di Gili Meno. Bir yang saya minum malam sebelumnya membuahkan hasil. Saya tertidur pulas. Berganti posisi beberapa kali namun merasa sangat segar ketika bangun. Pagi ini kami akan snorkeling. Tapi sebelumnya, Silka ingin diving dulu. Maka saat Silka diving, saya onya linda dan tamie memutuskan akan berkeliling pulau.

saya, kamera, dan pocari sweat seharga 13ribu..hehehe..
Gili Meno itu tidak terlalu besar katanya. Tidak sebesar Gili Trawangan. Dan mengitarinya pasti akan menyenangkan. Akan banyak hal baru, pikir saya. Maka berangkatlah kami. Seorang bapak yang kami temui berkata bahwa Meno bs diputari hanya dalam satu setengah jam. Tapi melihat kamera2 kami, ia menambahkan "..ya kalau voto2 juga ya dua jam lah mbak.." hihihi..

Onya dan kamera..Siap mengabadikan SAYA..haha
Sepanjang perjalanan, hamparan pasir putih menemani kami. Pemandangan birunya air juga. Tapi ternyata tak itu saja. Ada satu bagian tourist center yang dihiasi dengan untaian batu karang kecil2. Sepintas saya merinding melihatnya. Seperti sebuah makam tradisional. Hehehe.


Berjalan sedikit, sekumpulan sapi menyapa. Saya sempat berhenti. Mengabadikan mereka dari jauh. Agak menahan diri utk melewati mereka, namun akhirnya terlewati jg. Hehehe.


Saya sempat bilang ke teman2, "Ini kayak di Laskar Pelangi ya jalannya. Bentar lagi ada buaya ni di tengah jalan, trs kayak Lintang, kita ga bs ngelewatin..Padahal harus ke Cerdas Cermat. Hahaha." Teman2 ikut tertawa bersama saya dan JRENG!!!! Tiba2 di tengah jalan yang kami lewati, duduk seekor sapi besar berwarna hitam, menutupi jalan kami. GLEK!! Saya diam. Cerita moralnya: memang harus hati2 ketika berbicara. Hehehe. *getokpalabulan*. Onya bilang "..lewatin aja..", jadi saya memutar ke sebelah kiri sapi itu. Sambil waswas melihat apakah sapi itu berdiri atau tidak. Kalau ia berdiri, saya pasti langsung mengangkat tangan sambil lari2 ala Phoebe di serial Friends. Untung Tuhan baik sama kami. Sapi itu hanya diam melihat kami berjalan di sampingnya. Hehe.

Benar dua jam kami mengitari pulau itu. Sempat berhenti sebentar di sebuah resto kecil di pinggir pantai. Menikmati sebotol air mineral bermerk Narmada. Produksi PT Narmada Awet Muda. Hehe. *beneran itu ya, saya ga becanda..*

Sampai di penginapan, Silka sudah menunggu. Kasian, tidak bs masuk karena kunci kamar dibawa Linda. Hahaha. Kami berganti baju renang, lalu ke bawah lagi. Makan dan bersiap snorkeling. :)

baju renang baru. kegedean tapinyah. :(
Oh well, ini kali pertama saya snorkeling. Dan kali pertama saya menggunakan goggles. Silka mengajari kami dasar2nya. Lalu kami mencoba berenang di pinggir pantai sembari menunggu kapal datang menjemput. Lancar belajarnya? Tidak donk ah. Hehehe. Saya sempat kena serangan panik karena tdk terbiasa bernapas penuh lewat mulut. Dan juga air laut itu sempat masuk ke dalam mulut. Asinnya minta ampun. Blah!! Tapi saya ga mau nyerah donk deh. Tanggung juga. Malu sama penyu.

Kapal datang, kami berangkat. Kali pertama masuk ke dalam air, saya lagi2 kena serangan panik. Tapi tidak lama, hanya sekitar tiga detik saja. Selebihnya, saya sangat menikmati snorkeling. Ternyata bawah laut itu beneran indah ya. Hahaha. Norak deh. Saya renang ke kiri ke kanan, mengitari kapal, membentuk tangan "ok" dan menunjukkannya ke Silka jika saya melihat ikan warnawarni. Kampung banget. Padahal saat menyelam, Silka melihat hiu. Hahaha. Jd ikan kecil warnawarni gada apa2nya lah. Hihihi.

Selesai snorkeling, kami masih bermain di pantai. Mengikuti ombak yang sedang tinggi. (Sok) berjemur dengan gaya punggung dan kaki dililit. Memendam Linda dalam pasir. Sampai sore. Tertawa terbahak2. Tanpa menyadari kulit kami perih karena terbakar. Hehehe.

Ya walaupun kulit perih terbakar. Walaupun hidung perih kemasukkan air ketika Linda dan Onya dengan gegap gempitanya menenggelamkan kepala saya saat mereka terkena serangan panik dan saya berniat membantunya. Walaupun kaki perih terkena hempasan karang. Tapi pemandangan ketika snorkeling tadi masih memesona saya. Ternyata bener lho..Bener lho..Kayak di tipiiii.. Hehehe.



Senyum dulu ah.. :)

Wednesday, January 19, 2011

[Tidak] Tersesat di Gili Meno..

(Masih) Tiga Belas Januari..Gili Meno, Lombok..Tidak, kami tidak tersesat.. :)

Berjalan pelan dan santai, kami mencari penginapan. Pilihan dijatuhkan ke KonTiki. Kami memasukinya.

"Bu, ada tamu.." sahut seorang abang ke seorang ibu yang sedang berada di dapur. Ibu itu keluar dan berseru "Lho mbaknya ini orang Indonesia kok kamu takut. Mbaknya bisa Bahasa Indonesia kok.." Kami bengong. Bingung menangkap maksudnya. Tapi malamnya, kami tau.. :)

Melihat kamar yang ditawarkan, akhirnya pilihan jatuh ke sebuah rumah tingkat. Satu lantai satu kamar. Kami memakai satu rumah secara penuh. Onya dan Tamie akan menempati kamar bawah sedangkan saya, Silka, dan Linda akan menempati kamar atas. Di kamar atas, ada dua tempat tidur. Satu berukuran besar dan satunya lagi kecil. Linda langsung menempati tempat tidur yang kecil. Saya dan Silka akan berbulan madu di tempat tidur besar. Kenapa bulan madu? Ya karena tempat tidurnya aja romantis sekali. Dengan kain penutup putih menjuntai. Aha. Saya dan Silka, cengengesan berdua. :D



Di luar kamar, ada teras. Di teras bawah hanya ada kursi tapi di teras atas ada amben. Apa ya Bahasa Indonesia amben? Ya itulah pokoknya ya, tempat berbaring dr kayu itu. *desperate* Saya menghabiskan sekitar 30menit di amben itu. Mengumpulkan nyawa saya kembali dan meredakan gemetar yang saya rasa sambil melihat pemandangan hijaunya pohon dan birunya pantai. Indah.


Kami sudah tak sabar menunggu esok untuk menikmati pantai. Berganti baju sebentar dan kami langsung keluar. Berjalan kaki pun tak sampai satu menit. Pantai di depan. Sengaja tak memakai sandal, kami merasakan halusnya pasir menyapu kaki. Beberapa kali kami mendekati pantai dan membiarkan air menyapa kami. Tapi lalu berlari cekikikan kayak masih takut kena basah. Hihi. Kampung bener deh. :P Lalu melakukan berbagai macam gaya gila bersama. Dari mulai loncat2, lalu berpegangan tangan dan berlari, lalu menyilangkan tangan dan berjalan spt Mr. Bean, lalu bergaya ala voto model. Hahaha. It was hilarious. Tawa membahana. Bersukacita.





Malam, kami makan di restoran yang menjadi satu dengan penginapan. Seorang bapak mendekati dan bertanya "Apa boleh saya bergabung di sini?" Bapak itu suami dr Ibu yang td pagi menyapa kami. Sang empunya penginapan ternyata. Kami mempersilahkan, dan obrolan mengalir panjang lebar.

Bapak bilang kami tersesat. Kami adalah wisatawan domestik pertama sejak yang terakhir di Mei 2008. Gili Meno bukan tempat yang terkenal bagi wisatawan domestik. Biasanya, kata Bapak, wisatawan domestik dan yang seumur kami, memilih Gili Trawangan karena lebih ramai. Lanjutnya, wisatawan asing yang ke Gili Meno pun jarang sekali yang anak muda, kebanyakan adalah orang2 tua. Saya tersenyum saja, dengan tegas saya menjawab "Yang salah adalah bahasanya Pak, kami tidak tersesat. Kami memang ingin ke Meno. Tidak ke Trawangan. Meno memang tujuan kami" Bapak tersenyum, sedikit kaget, tapi lalu obrolan hangat ditemani makan malam lezat pun terus bersambung..

Ya, kami tidak tersesat..
Kami adalah lima anak muda berusia dua puluh limaan yang tidak terlalu suka keramaian.. Karena apa??? 
Karena kami kece..
Hehehehe.. 
*bletak!!! disambil daun kelapa sama Silka*


Senyum dulu ah..

Indahnya Lombok!

Tiga Belas Januari..Kami berangkat..Menyeberang..Menuju Lombok.. :)

Ini kali pertama saya ke Lombok. Bersemangat??? Pasti.. Walaupun masih kliyengan karena malam sebelumnya tdk cukup tidur. Hehe. Kami menyeberang dengan menggunakan ferry. Menunggu sebentar di pelabuhan, saya sudah terpukau dengan pemandangan air (di pelabuhan) yang masih berwarna biru dan jernih. Juga dengan ikan berwarna-warni dan kepiting yang berada di air itu. Jauh sekali dengan air di pelabuhan Sunda Kelapa misalnya. Hahaha. Pembandingnya tak sesuai ya. *getokpalabulan*

ga tll kliatan ya..itu ada ikan warnawarninya lhooo..
Ombak tinggi. Ferry yang sebesar itu saja terguncang cukup keras. Perut bergejolak. Tapi saya sempat tertidur pulas. Kekekeke. Jam satu siang kami sampai di Pelabuhan Lembar. Langsung menaiki bis lagi menuju ke Senggigi untuk menyeberang kembali ke Gili Meno. Dikatakan, kalau ombak tdk terlalu tinggi, kami langsung bisa ke Gili Meno (pulau tujuan kami), tapi kalau ombak tinggi, maka kami diminta menginap dulu satu malam di Senggigi. Alhamdulillah sampai di Senggigi, ternyata kami bisa langsung menyeberang. Huhuy!!

Ke-huhuy-an kami tdk bertahan lama. Kami menyeberang ke Gili Meno dengan kapal kecil. Kapal nelayan. Dengan jujur saya katakan, saya tidak terlalu menyukai laut lepas. Ada ketakutan tersendiri saat mengarunginya. Itu kekuatan besar yang tdk mampu saya kalahkan betapapun saya melawan. Jadi saya, jujur, TAKUT. Hehehe. Sepanjang penyeberangan, saya berpegang ke Onya dan diam. Pendarasan pun tak bisa saya lakukan. Terpaku dan tercekat. Kapal kami menebas ombak. Lalu diam untuk mengikuti ombak lagi. Lalu menebas lagi. Bagian depan kapal mengangkat. Air laut terpapar ke wajah saya dan Onya. Perih. Tapi saya diam. Beberapa kali melihat ke arah air laut dan cm bs berkata dalam hati "Tuhaaan.." Ya saya tau, ga penting banget deh saya ini. Hihihi.

ini voto dr kamera saya beneran, bukan ambil dr internet..
Saya tidak bisa memastikan berapa lama kami menebas ombak itu, tapi saya langsung bernapas lega ketika mendengar deru mesin menjadi pelan dan kapal mulai menepi. Puji Tuhan, akhirnya kami sampai.

Pasir putih menyambut kami dengan hangat. Saya terkekeh, tangan saya masih gemetaran. Hahaha. Tapi saya tahu, dengan pasirnya yang putih bersih, air biru hijau, dan awan biru putih; pantai di pulau ini sudah mendapat tempat di hati saya..

Tuhan, ini indah.. :)
Terima kasih ya..

Senyum dulu ah.. :)