Instagram: Ubermoon

Showing posts with label ID: Bangka Belitung. Show all posts
Showing posts with label ID: Bangka Belitung. Show all posts

Sunday, January 15, 2012

Makanan dan Minuman Khas Belitong..

Seperti yang saya ceritakan di awal, saya memang tidak sempat browsing banyak tentang Belitong. Hanya sempat membaca satu blog saja tapi ngga ada yang nempel. Hihihi. Yang saya tahu pasti, saya mau cobain Kopi Manggar. ;)

Rupa-rupanya abang sudah mendaftar makanan dan minuman apa saja yang perlu dicoba. Dimulai dengan Mie Belitong/Mie Celor. Abang dapet referensi, yang paling enak itu Bakmie Atep. Berbekal dengan peta 'kayaknya di sini ya' dari hotel, akhirnya kami meluncur. Baru meluncur sebentar dan saya rasa kami salah jalan, eh lha kok ya pas nengok ke kiri, lah itu Mie Atep-nyaaaaa. Hahaha. Langsung lah kami menyambangi. Mie Celornya enak, kuahnya luar biasa. Manis tapi tetap segar. Porsinya hihih hahah, hihih karena bikin pengen lagi dan hahah karena ga yakin bisa ngabisin kalau pesen lagi. Hehehe. Saya tambahkan sambal dan rasanya sluuurp!! Segaaaaaaaaaaar.. Sampai tuntas saya habiskan kuahnya. Hihihi.


Saat sampai Belitong, kaka Hanny nitip beliin jeruk kunci. Saya baru dengar nama jeruk itu. Dan saat makan Mie Celor ini, saya nanya kalau pesen minum jeruk, jeruknya jeruk kunci bukan? Kakak pelayan mengangguk ramah, akhirnya cuss!! Jeruk kunciiiiii.. Seger, manis, asem. Jadi minuman favorit saya selama di Belitong. Beernya dipinggirin dulu. Kikikiki.


Lalu abang beberapa kali menyebut Gangan. Yang ternyata mengacu ke masakan ikan kue dengan bumbu kuning (dan kata Papa Hadi, dulunya ibunya sering bikin dengan ditambahkan nanas). Saya tahu saya pernah merasakan masakan ini sebelumnya tapi lupa dimana, kayaknya pernah minta mbak masak ini, lihat dari buku resep gitu. Rasanya seger banget. Dimakan pake nasi putih dan sambal, enyaaaaaaaak.. (oke maafkan soal persambalan ini,  I tend to add sambal to almost everything, tapi sebenarnya Gangan ini ga ditambahin sambal juga sudah enak kok..)


Dan of couuurrsseee, Kopi Manggar. Hehehe. Rasa yang paling mencengangkan adalah manis, padahal ini termasuk kopi hitam. Saya sendiri bukan penggemar kopi hitam, paling banter yang saya minum hanya Machiatto untuk kopi paitnya. Nah saya kira Kopi Manggar ini, melihat dari penampilannya, akan lebih pait dari Machiatto, ternyata tidaaaak. Malah ada rasa manisnya. Hahaha. Satu-satunya kopi manis dalam gelas yang saya habiskan tuntas ni. Hehehe.


Pulang dari Belitong naik ga beratnya Lan? Ya iyalaaaaah. Sebelum pulang dari Belitong, saat check in, saya nanya boleh ga coba nimbang di timbangan koper di bandara, eh dibolehkan!! Hahaha. Jadi lah saya naik ke timbangan itu, dan berdeg-deg-ser melihat angka yang terus bertambah. Akhirnya angka berhenti di 53.65kg. Hehehe. Sebelumnya berat saya 51kg. Tapi gapapa, sekarang saya ga gitu pusingin lagi, ntar juga turun. Hehehe. *pede berat*

Oke saya olahraga dulu ya, jumplak-jumplak, koprol, joget-joget, nyuci underwear, jemur-jemur, pesen nasi goreng. Sekian.



Senyum dulu ah.. :)

Pulau Lengkuas Belitong..

Ke Belitong ga lengkap rasanya kalau ngga ke Pulau Lengkuas. Ke Pulau Lengkuas, sayang rasanya kalau ngga ke pulau-pulau lainnya. Hehehe. Hari kedua alhamdulillah cuacanya bersahabat, ngga hujan, ngga mendung. Harap-harap cemas apakah kami bisa island hopping karena beberapa hari sebelumnya kapal ngga ada yang berani berangkat. :(

Pagi kami ke Bukit Berahu dan Tanjung Binga dulu. Ombak memecah dengan keras, kami agak ketarketir juga. Selesai dari sana, kami ke Tanjung Kelayang, tempat para nelayan yang bisa membawa kami island hopping itu berada. Suasana sepi, tapi setelah bertanya-tanya, nelayannya berani nganterin island hopping. Dan walaupun ga ada barengan (yang mana berarti harganya jadi nambah berkali-kali lipat) tapi saya dan abang cukup terkesan karena kapten kapalnya, Bang Iwan, fair saat kasih harga. Mereka buka harga di 400ribu, saya tawar ke 350 mereka belum mau dan Bang Iwan akhirnya bilang "Kalau bisa sampe Lengkuas, kami minta 400ribu ya mbak, tapi kalau ngga bisa sampai Lengkuas (karena ombak), bayar 350ribu saja." Fair enough, cuss yuk!!


Ganti baju, ganti celana, kami pun berangkat. Sampai di pertengahan jalan, ada kapal yang berbalik dan memberi tanda ombak besar dan mereka balik. Saya malah dadah-dadahin. Hihihi. Semakin ke tengah, ombak semakin tinggi, bagian depan kapal naik sampai dua meter berkali-kali lalu terhempas keras. Sorry, Dufan mah lewat. Hehehe. Saya yang pernah mengalami yang lebih berat dari itu (remember: Lombok?? Hellooooo) mencoba menikmatinya sekarang. Dan berhasil, ga mual sama sekali.


Dan sampailah kami di Pulau Lengkuas. Bermain di celuk bebatuan, naik ke atas batu-batu (okay, saya payah dalam hal ini, takut gitu naik tinggi-tinggi. Hehehe), naik mercusuar sampai lantai 18, melihat pemandangan yang ah-mazing. Woohoo!!







Seharian itu kami kesana kemari, alhamdulillah matahari bersinar dengan semangat, tidak hujan setitik pun. :) Doa malam saya dikabulkan Tuhan. Hihiy. Terimakasih ya Tuhan. :)

Selesai dari Lengkuas, kami snorkeling. Karena memang bukan musim yang baik, visibilitynya rendah sekali. Tapi Bang Didi yang menemani snorkeling bawa remah-remah roti, dan beneran ikan-ikannya pada naik. Ga takut mendekat dengan kami. Kami asik berenang-renang, main-main sama ikan, sampai kemudian saya merasakan kepala saya pusing. Susah payah dengan energi tersisa saya berenang mendekat ke kapal. Kenapa susah? Karena arah ke kapal adalah arah melawan ombak. Dan remember ombaknya sedang dua meteran? Saya berkali-kali harus pasrah mundur lagi setelah mengayuh maju dengan susah payah. Naik tangga, masuk kapal dan saya mual. Huhuhu. Muka saya pasti sudah pucat banget saat itu.

Sampai di pulau kedua (Pulau Burung), saya memutuskan untuk tidur dulu di pinggir pantai. Menenangkan diri. Yang mana tidak berhasil. Akhirnya saya lari ke air, menunduk dan ingin memuntahkan apa saja yang bisa dimuntahkan biar lega. Dan di saat saya ingin jackpot itu, apa yang saya lihat? IKAN!! Doenk!! Ikan kecil transparan item putih kuning berenang di sekitar kaki saya, sendirian. Lhaaaa, ikannya nyasaaaar. Saya yang uda niat mau fokus jackpot jadi malah ketawa dan menghush-hushkan si ikan. Hihihi. Akhirnya malah ga jadi jackpot. :)))


Jalan-jalan sebentar sama abang di pinggir pantai, minum air kelapa, lalu kami menuju pulau selanjutnya. Saya sudah segar kembali. Hehehehe. Terimakasih ya ikan kecil yang nyasar ke pinggir pantai. :)

Selesai dari Pulau Burung kami ke Pulau Babi lalu kembali ke Tanjung Kelayang. Emang di situ jimatnya Belitong ternyata. Kami tidak datang di musim yang baik saja (musim yang baik is Sept-Okt, kata Bang Iwan), airnya masih sejernih itu, sebiru itu, sehijau itu, sekece itu. Apalagi kalau kami datang di musim yang tepat ya. Airnya kayak kaca, transparan bening berkilau. Huhuhu. Pasti keren sekali. ;)

Sampai di Tanjung Kelayang, saya minta makan dulu sama abang karena perutnya kosong memberontak. Akhirnya kami makan di pinggir pantai sambil ngobrol-ngobrol. Dan HEITZnya dimana???

Heitznya di.........malam hari ketika sudah mau tidur dan tiba-tiba saya keingetan dan kepikiran dan bertanya "Bang, tadi kita uda bayar indomie yang dimakan abis snorkeling belom?" teriring jawaban "Shit!! Belom!!"

Jreng.. Jadilah paginya saya sms Bang Iwan minta talangin dulu. Hahahaha. Dodol!! *salahin abang ya, abang yang lagi jadi bendahara di trip ini..hihihi..*



Senyum dulu ah.. :)


> Contact: Bang Iwan - Kapten Kapal: 0819.7787.6748. Bilang aja temannya Bulan. Harga kapal (per Januari 2012) adalah 350-400ribu per kapal. Satu kapal bisa diisi maksimal 12orang. Kalau mau nawar sadis, mending ga usah bawa-bawa nama saya ya, kasian Bang Iwannya dan saya malu juga jadinya. Hehehe.

Digerebek di Belitong.. :)))

Engga engga, tenang, ini bukan cerita horror, keep reading. Hehehe. *ujug2in pembaca*

Kami tinggal di sebuah hotel di Tanjung Pandan, nama hotelnya Martani. Setiap kali orang nanya tinggal dimana dan kami sebut nama hotel ini, semua pasti langsung respon "Ooooh, Martaniiii.." Sedangkan orang-orang yang memberi respon itu yang tinggalnya jauh macam di Gantong, Manggar, atau Tanjung Kelayang. Setelah berkali-kali dapat oh-martani itu, akhirnya saya nanya apa emang sebegitu terkenalnya ni hotel, kok kayaknya semua orang tahu? Ternyata e ternyata, itu adalah karena Martani ini hotel tertua di Belitong. Saya ulang, Martani adalah hotel tertua di Belitong. JENG JEEEENG!!! Saya langsung nyesel nanyanya karena saya selalu punya rasa ketakutan sama semua yang berbau 'tertua'. Huhuhu.


Emang waktu pertama masuk hotel ini, perasaan saya uda kebat kebit deh, kinda spooky. Cuma saya ga mau bikin abang takut juga. Ya akhirnya menyugesti diri sendiri ini hotel baik-baik aja, ga ada apa-apa, ga ada yang aneh-aneh, tenang, tenang. Hehehe. Tiga hari dua malam saya di hotel itu dan alhamdulillah baik-baik aja ga kurang suatu apa. Nah tentang ketukan, alkisah selesai jalan-jalan di hari kedua, saat kami pulang, kami diberitahu resepsionis ada yang mencari. Kami kira Hari, kontaknya abang yang menyewakan motor ke kami. Ada apa ya Hari kok nyariin?

Kami masuk kamar, saya mandi, abang *ternyata* sms Hari yang dijawab engga, dia ga nyariin. Selesai saya mandi, gantian abang. Lalu kami lagi tidur-tiduran dan tiba-tiba "Dhokdhokdhok!!" Pintu diketok, kenceng, ngagetin, kayak penuh emosi gitu. Abang jawab, "Sebentar" dan dengan santainya ngambil celana untuk lapis boxer (lope2)nya. "Dhokdhokdhok!!" diketuk lagi. Saya yang uda setengah mau tidur keganggu banget dan akhirnya kebangun. Abang masih pake celananya. "Dhokdhokdhok!!" WTF??!! Akhirnya abang buka, dan di sanalah ada tiga manusia. Dua perempuan, satu laki-laki. Semua dengan tatapan mencurigai melihat ke arah abang, ke arah saya, lalu menyapu pandangan ke seluruh penjuru kamar. ANJRITTT!!! Saya deg-degan banget. Ada apaan sih iniih??

Saya lupa kalimat tanya pertama mereka apa, uda terlalu deg-degan. Intinya mereka cari orang bernama Alfaresi. Abang jawab "Oh, saya Alfa, Alfareza." dengan santai. Si perempuan keliatan bingung, si lelaki masih memberikan tatapan intense ke saya. SETAN!! Kalau itu di Jakarta saya semprot sambel tu mata!! HIH!!

Mereka insist nanya terus, katanya ada perempuan namanya Alfaresi tinggal di kamar 132 (our room indeed) dari Jakarta. Saya bilang ya kami memang dari Jakarta. Tapi si Alfaresi ini naik Sriwijaya, sedangkan kami naik Batavia. Ada kali sepuluh menitan mereka ngeliatin, bertahan di depan kamar, ngomong mulu, ngeliatin seluruh isi kamar (mungkin curiga ada yang ngumpet di kamar mandi juga), dan setelah obrolan panjang dan sepertinya mereka yakin si Alfaresi itu ga ada di dalam kamar, mereka berlalu. Saya masih deg-degan. Hidih sampe sekarang saya masih inget deh tatapan tu lalaki. Huhuhu.

Analisa saya dan abang, kayaknya mereka cari perempuan yang jadi selingkuhan atau apa gitu dan pengen mergokin langsung. Mereka juga sempat panggil sodaranya (dua laki-laki). Saya dengar mereka sepertinya masih di luar kamar entah sampai jam berapa, tapi saya deg-degan banget deh jadinya. Sebel sama pihak hotel juga yang membolehkan orang langsung ngetok pintu kamar gitu. Huhuhu.

Ya tapi kalau ngga gitu ga ada cerita ya bang. Martani will only be Martani ya bang. Hahahaha.



Senyum dulu ah.. :)

*Dan ya, saya bukan perempuan selingkuhan kok pak, bu.. Saya cuma anak muda nan caem jelita yang pengen tidur. Sekian dan terima bikin spatuw. (ah tau gitu pas mereka cengengesan minta maaf, saya langsung kasi kartunama ya, sapa tau mau pesen sepatu.. DANG!!) :))))))

Vintagenya Belitong..

Hari pertama di Belitong, kami tidak ke pantai. Eh ke pantai denk, satu doank, pantai Burong Mandi, cukup bagus tapi ngga bisa dikatakan spesial, apalagi pake telor. *krik krik krik*

Kami menempuh perjalanan darat lebikurang 240km sepanjang hari pertama itu. Harus saya katakan, untuk daratannya, Belitong tidak begitu bagus, cenderung membosankan malah. Saya, karena baru pertama kali kesana, cukup asik melihat rumah-rumah yang berada di kiri kanan jalan, terpisah cukup jauh satu dengan yang lainnya, rumah-rumah ini sungguh berbeda-beda. Yang saya suka rumah panggung kayu dengan posisi kayu horizontal, menurut saya itu keren ajah. Vintage gimanaaaa gitu. Ternyata pas nanya sama Bang Dodi yang mengurus Galeri Laskar Pelangi, yang rumah asli justru kayunya berposisi vertikal. Hahaha. Analisa saya kenapa sekarang ada rumah kayu dengan posisi kayu horizontal adalah karena sudah sangat sedikit kayu yang dibiarkan tumbuh sampai tinggi sehingga bisa disusun secara vertikal. Kayu-kayu sekarang pendek-pendek jadi ngga cukup untuk disusun menyamping. Ya ngga sih? Hehehe. Yang saya paling sebel lihatnya itu rumah dengan keramik di dindingnya sampai ke atas. What the iiiihhh?? Penyimpangan terhadap fashion banget. :))))


Lucunya lagi, walaupun siang hari, rumah-rumah ini sepi seperti tak berpenghuni. Ada juga rumah yang kaca jendelanya kotor dan sudah pecah dan dibiarkan saja gordinnya keluar sedikit. Saya sempat berpikir apa rumah-rumah ini rumah lama yang sudah ditinggalkan pemiliknya karena kok kayaknya kosong gitu, tapi ternyata masih ada pemiliknya, most of them adalah orangtua. Hmm. Jadi kasian, kalau terjadi sesuatu sama mereka gimana ya? Rumah berjauh-jauhan gitu. :(


Ada juga satu hal yang tidak biasa di rumah-rumah orang Belitong. Beberapa rumah ini dihiasi karton bertulisan di dekat pintu masuknya. Ada yang ditaruh di pinggir pintu, ada yang di pintunya, ada yang di atas jendela depan. Tulisan yang paling jamak saya lihat adalah "Selamat Datang" atau "Silahkan masuk" atau gabungan keduanya "Selamat datang. Silahkan masuk." ada juga "Ucapkan salam." dan "Welcome". Atau juga "Ketua RT 06 Desa Perawas." <-- Oke, yang terakhir saya cuma becanda kok, itu mah penanda ajah. Hihihi.

Rumah Belitong yang lama adalah rumah panggung, dan rumah panggung ini bisa di pindah-pindah lho. Ibu-ibu yang saya ajak ngobrol bercerita kalau tadinya rumahnya tidak berada di tempatnya sekarang. Rumahnya lalu diangkat oleh seratusan orang dan dipindahkan ke tempat sekarang. Keren!! Nanti kalau rumah panggung ini sudah mau dibikin permanen, maka di bawahnya disemen lalu rumah panggung ini diturunkan biar menempel ke semennya, jadi permanen. Huwaaaa. Keceeeeee.


Berjalan-jalan di Belitong itu seperti kembali ke masa lalu. Semua terasa vintage, klasik. Saya seperti tengah berada di jaman anak muda pake celana cutbray mengendarai vespa dengan kacamata menutupi muka. Cool!! Untung ga jadi bawa ipodnya Budi, kalau bawa, ditemani musik-musik orkes, wuih, semakin dalam aja rasanya. Hihihi.



Senyum dulu ah.. :)

Trip Buddy to Belitong..

Yak, mari kita mulai sesi bercerita tentang Belitongnya. Hehehe. Eh luarbiasa lho, biasanya saya kalau cuma pergi tiga hari dua malam, pasti akan kena PHS lamaaaaa sekali, nah ini tiga hari dua malam di Belitong dan saya pulang segar bugar seruw segar chewriyah. Hahaha. Malah langsung ke workshop sorenya dan kerja lagi malamnya. HUWOW!!

Saya ke Belitong sama abang, sepupu saya. Bukan abang sepupu, tapi abang, sepupu saya. Nah begitu deh. Hahaha. Abang kuliah di Malaysia, ke Indo dalam rangka liburan. Kemarin ke Pangandaran, sekarang ke Belitong, beneran liburan, jadi saya dapet kemslahatan uang (baca: gratisan) karena nemenin abang liburan. Huekekekek. (Itu liburan bisa ngga diatur tiga bulan sekali gt bang bilang sama pihak uni-nya??).


Kali ini saya ga urus apa-apa, karena saya juga tertatih-tatih mengurus Moonaddict sepulang dr Pangandaran kemarin (plus PHS lama, deeeee...), jadi semua diurus abang. Hehehe. Saya tinggal cengar cengir aja ngintil kemana-mana. :p

Abang ini 19tahun, single (ayo mari para perempuan yang berminat bisa langsung menghubungi lewat saya, uang administrasinya cincay lah..), dan saya kira masih anak-anak banget tapi ternyata tidak sodara-sodarah!! Semua kepengurusan beres. Datang ke sana sudah dengan list lengkap mau kemana aja, CP di sana pun sudah ada, kalau belum ada pun abang sudah tahu harus kemana. Hasik lah pokoknya. Tau aja kakaknya ini ga sempet browsing2 jadi sudah disiapkan semuanya. Huihihihi.


Di Belitong, kemana-mana kami naik motor. Abang yang nyetir, saya pegang peta di belakang (yaiyalah di belakang, masa di setang motor?? -__-"). Terusterang sebetulnya saya agak takut naik motor, entah kenapa setiap naik motor kebayangnya badan kena aspal gitu. Huaaaaa. Hiks. Jadi kalau naik motor saya biasanya pakai pakaian lengkap (ga pake bikini doank.. *aposeh??), kaos, celana panjang, jaket, sepatu, helmet, pelampung, googles, oksigen, fin. Ini mau naik motor apa diving?? Nah hari pertama pergi, saya lupa bawa jaket, jadi ga pake jaket deh. Dan abang nyetirnya kenceng lho, sampai 80km/jam (kalau di Malaysia malah abang bilang sampe 100km/jam..Grrr), tapi mungkin juga karena saya di tempat baru ya, jadi ngga sebegitu takut, sibuk lihat kanan kiri kanan kiri. Hihihi. Dan abang ga panasan orangnya, jadi mau ada motor lewat dengan suara memekakkan telinga, abang ga terpengaruh, jadi naik motornya juga santai, ga kemrungsung. Kalau capek pun abang bilang, dan berhenti dulu nepuk2 pantat yang udah bukan belah dua lagi tapi belah empat (hari pertama kami keliling Belitong dari barat ke timur kira-kira 240km, on motorcycle).

So yeah, abang yahut euy!! Senang juga punya adek yang bisa diandalkan begini, biasanya saya yang jadi "adek yang diandalkan". Hahahaha.


Sekali lagi kalau ada yang berminat sama abang, silahkan hubungi saya. Urusan registrasi dan administrasinya bisa dipermudah kok.. *pilin2kumis* :p


Senyum dulu ah.. :)


*Contact: Pak Hendra (0812.7174.667)  bisa diminta jemput dari dan ke bandara dan antar dari dan ke hotel. Biaya dari bandara ke hotel kemarin (hotel di Jl Yos Sudarso) Rp30.000. Pulangnya dijemput di hotel dan diantar ke bandara pun Rp30.000. Mau minta diantar mobil selama di sana juga bisa, harganya ngga tahu ya, silahkan nego sendiri sama Pak Hendranya. :)

*Dan tidak, itu bukan nomer abang atau nomer saya, itu beneran nomer hape Pak Hendra. Sekian. :p